Guru Besar FH UB: Inovasi Pertanian Lebih Bagus Daripada Tanam Sawit

by -21 views
Guru Besar FH UB: Inovasi Pertanian Lebih Bagus Daripada Tanam Sawit

INDONESIAONLINE – Wacana alih fungsi hutan dan lahan di wilayah Malang Selatan masih menjadi kajian yang serius mengingat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang mengaku ingin serius dalam menggarap wacana ini beberapa waktu yang lalu.

Wacana ini begitu gencar hingga terdengar sampai ke telinga para pengamat lingkungan, akademisi, dan pakar hukum lingkungan.

Salah satu pakar hukum lingkungan yang juga sekaligus Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (FH UB) Prof Dr Rachmad Safa’at ikut menolak wacana tersebut.

Rachmad memaparkan jika Pemkab Malang tetap dapat menggenjot pertumbuhan ekonomi dan pendapatan daerah tanpa menyukseskan wacana pembangunan pabrik sawit di Malang Selatan.

Seperti apa yang sudah diberitakan MalangTIMES sebelumnya, ada beberapa pernyataan dan solusi yang diberikan Rachmad untuk Pemkab Malang jika ingin mendapatkan kesejahteraan warga di daerah Malang Selatan dan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Baca:  Unit Pidsus Satreskrim Tulungagung Pasang Papan Larangan Penambangan Pasir Ilegal

“Gunakan lahan kita untuk kepentingan masyarakat yang lebih bagus, pertanian misal dimaksimalkan,” tukasnya saat dihubungi MalangTIMES, Selasa (4/5/2021).

Rachmad juga menuturkan, jika pendapatan dari industri kelapa sawit ini hanya akan menguntungkan dalam jangka pendek saja, namun akan menyebabkan kerusakan lingkungan jangka panjang.

“Krisis PAD jangan sampai merusak lingkungan untuk menambah ekonomi kita. Harus inovatif, tidak bisa merusak lingkungan,” ungkap Dosen Hukum Lingkungan dan Sumber Daya Alam FH UB tersebut.

Menurutnya, Pemkab Malang harus memikirkan cara lain untuk menambah PAD tanpa merusak lingkungan. Beberapa solusi yang diberikan Rachmad adalah dengan solusi inovasi pertanian, perhutanan sosial, dan konsep sela tumpangsari.

Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan dalam kawasan hutan negara atau hutan adat yang dilakukan oleh masyarakat setempat, untuk meningkatkan kesejahteraannya, keseimbangan lingkungan dan dinamika sosial budaya. 

Baca:  Kota Malang Bakal Gunakan Paving Daur Ulang Sampah Plastik

Sedangkan Tumpangsari adalah suatu bentuk pertanaman campuran berupa dua jenis atau lebih tanaman dalam satu lahan dan dalam waktu yang bersamaan.

Beberapa metode dan solusi yang diberikan Rachmad tersebut dinilai lebih bermanfaat untuk masyarakat dan tanpa merusak lingkungan.

Rachmad juga menilai jika masyarakat masih membutuhkan ketahanan pangan dibandingkan kebutuhan lainnya.

“Kalau pangan kita krisis kenapa harus memikirkan sawit. Karena kita masih impor (pangan, red). Gunakan hutan itu untuk tumpangsari atau kehutanan bersama masyarakat,” imbuhnya.

Pemkab Malang merencanakan pembangunan lahan sawit di area Malang Selatan sejak beberapa bulan yang lalu. Bahkan seperti yang diberitakan MalangTIMES, Bupati Sanusi sempat meminta izin kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah agar menyetujui wacana pembangunan pabrik pengolahan sawit tersebut.

Baca:  Alih Fungsi Lahan Picu Banjir di Kota Malang, Warga Diimbau Buat Sumur Resapan

Wacana ini digagas dalam waktu dekat yang akan melibatkan investor swasta, Pemkot Malang, Pemkab Malang, dan pakar.

fa/dn