INDONESIAONLINE – Persaingan menuju kursi presiden FIFA mulai memanas. Mantan pemain belakang Tottenham Hotspur, Ramon Vega, mengumumkan keinginannya untuk mencalonkan diri dalam pemilihan presiden (pilpres) FIFA yang akan digelar tahun depan.
Vega menjadi tokoh pertama yang secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk menantang petahana Gianni Infantino. “Saya maju untuk menyatukan kembali keluarga sepak bola dunia, menghadirkan reformasi yang nyata dan berkelanjutan, memodernisasi FIFA untuk menghadapi abad ke-21, memulihkan stabilitas dan kredibilitas, serta membangun kembali kepercayaan yang sangat dibutuhkan sepak bola saat ini,” ujar Vega, seperti dikutip dari BBC.
Keputusan Vega maju dalam bursa tersebut muncul ketika posisi Infantino tengah mendapat tekanan. Presiden FIFA itu sebelumnya didesak mundur oleh sejumlah konfederasi setelah rencana penjualan saham Piala Dunia kepada investor swasta gagal dan menimbulkan reaksi keras dari kalangan sepak bola.
Meski menghadapi tekanan tersebut, Infantino tetap menyatakan komitmennya untuk memimpin FIFA. Bulan lalu, dia menegaskan tidak akan meninggalkan posisinya meskipun UEFA, Concacaf, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) meminta dirinya mundur.
Bagi Vega, upaya menjadi kandidat presiden FIFA bukanlah langkah yang baru. Pria asal Swiss tersebut pernah mempertimbangkan untuk mencalonkan diri pada 2015, setelah Sepp Blatter mendapat skorsing.
Empat tahun kemudian, tepatnya pada 2019, Vega kembali mengutarakan keinginannya untuk menantang Infantino. Namun, langkah tersebut terhenti karena dia tidak berhasil memperoleh jumlah dukungan minimum untuk masuk dalam daftar kandidat. Ketika itu, setiap calon presiden FIFA diwajibkan mengantongi dukungan setidaknya lima dari total 211 federasi anggota FIFA.
“Saya maju karena perjalanan hidup telah mempersiapkan saya untuk mengabdi kepada sepak bola. Sepak bola bukan milik presiden, konfederasi, atau administrator. Sepak bola jauh lebih besar daripada jabatan, individu, maupun institusi mana pun,” kata Vega.
Dia juga menyoroti kondisi tata kelola FIFA di bawah kepemimpinan saat ini. Menurut Vega, kepemimpinan yang berjalan telah membuat sepak bola kehilangan semangat. Sedangkan lemahnya tata kelola berdampak terhadap kredibilitas FIFA dan kepercayaan keluarga sepak bola dunia.
“Sepak bola sedang berada di ruang gawat darurat dan dalam kondisi kritis. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. FIFA membutuhkan arah baru dan reformasi mendasar,” tegasnya.
Vega menilai perubahan di tubuh FIFA harus dilakukan secara menyeluruh. Dia menekankan pentingnya menyatukan kembali keluarga sepak bola, mengembalikan kepercayaan, menciptakan stabilitas, sekaligus memodernisasi tata kelola organisasi.
“Kita harus menyatukan kembali keluarga sepak bola, memulihkan kepercayaan, menghadirkan stabilitas, dan memodernisasi tata kelola FIFA. Hal ini membutuhkan perubahan yang tegas, bukan sekadar perubahan kosmetik,” ujar Vega. (hsa/hel)
