UIN Maliki Malang memacu target 100 guru besar hingga 2029. Strategi riset global dan akreditasi internasional jadi kunci rajai universitas Islam RI.
INDONESIAONLINE – Di tengah kompetisi ketat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang tidak sedang berjalan santai. Kampus berlogo Ulul Albab ini tengah melakukan sprint maraton.
Bukan sekadar seremoni pengukuhan jabatan akademik yang bersifat seremonial, UIN Maliki Malang sedang mengeksekusi sebuah grand design ambisius: mencetak 100 Guru Besar pada tahun 2029 dan merebut takhta sebagai universitas Islam nomor satu di Indonesia.
Fenomena pengukuhan guru besar yang belakangan gencar dilakukan oleh UIN Maliki Malang bukanlah kebetulan. Ini adalah ledakan hasil dari strategi “diam-diam” yang telah dirancang hampir satu dekade lalu.
Rektor UIN Maliki Malang, Prof. Dr. Ilfi Nurdiana, M.Si., menjadi arsitek utama di balik percepatan mesin akademik ini. Bagi Prof. Ilfi, jabatan profesor bukan sekadar puncak karier dosen, melainkan amunisi utama dalam perang reputasi global.
Peta Jalan Menuju 2029: Matematika Akademik
Target 100 guru besar pada 2029 bukan angka yang dipetik dari udara kosong. Target ini didasarkan pada kalkulasi matematis terhadap sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki kampus. Saat ini, UIN Maliki Malang memiliki total 776 dosen aktif. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 persen telah menduduki jabatan fungsional Lektor dan Lektor Kepala.
Secara hierarki akademik, Lektor Kepala adalah “ruang tunggu” sebelum seorang dosen melompat menjadi Guru Besar. Data internal menunjukkan, sedikitnya 30 dosen berstatus Lektor Kepala saat ini sudah dalam posisi on the track alias siap diajukan untuk mendapatkan SK Guru Besar.
“Ini bukan panen yang datang tiba-tiba. Delapan tahun lalu kita menanam lewat pendampingan, riset, dan penganggaran. Sekarang hasilnya mulai terlihat,” ungkap Prof. Ilfi dengan nada optimistis.
Pernyataan ini merujuk pada kebijakan strategis yang diambilnya saat masih menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Keuangan. Kala itu, ia melihat adanya sumbatan (bottleneck) dalam kenaikan pangkat dosen, yakni minimnya publikasi di jurnal bereputasi internasional.
Solusinya, UIN Maliki Malang mengucurkan anggaran besar—baik dari APBN maupun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)—untuk membiayai program coaching clinic. Dosen-dosen “dikarantina” dan didampingi hingga naskah akademiknya tembus jurnal terindeks Scopus.
Momentum Kebijakan: Kembali ke Kriteria 2019
Percepatan ini juga mendapatkan momentum dari perubahan regulasi nasional. Prof. Ilfi menjelaskan adanya pergeseran mekanisme penilaian angka kredit yang kini lebih menguntungkan dosen.
“Sebelumnya kan pakai Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) yang dinilai cukup rumit dan rigid. Sekarang mekanismenya kembali ke penilaian kriteria 2019. Artinya, lebih cepat, proses birokrasinya juga lebih ringkas,” jelasnya.
Perubahan ini menjadi angin segar. Dalam sistem lama, administrasi seringkali menjadi penghambat utama produktivitas dosen. Dengan kembalinya kriteria penilaian yang lebih fokus pada output tridharma (pengajaran, penelitian, pengabdian) dibanding administrasi SKP yang njelimet, “keran” guru besar yang sempat tersendat kini terbuka lebar.
Sebagai bukti nyata, dalam gelombang pengukuhan terbaru, UIN Maliki Malang sebenarnya telah melahirkan 12 guru besar baru, meskipun yang hadir dalam seremoni pengukuhan tercatat 11 orang karena satu profesor sedang menunaikan ibadah umrah. Jika tren ini berlanjut dengan estimasi 10 hingga 15 guru besar baru per tahun, target 100 guru besar di 2029 sangat realistis untuk dicapai.
Obsesi Reputasi dan “Scopus Mindset”
Mengapa UIN Maliki Malang begitu terobsesi dengan jumlah guru besar? Jawabannya terletak pada algoritma pemeringkatan universitas dunia. Baik QS World University Rankings, Times Higher Education, maupun Webometrics, semuanya menempatkan rasio guru besar dan jumlah sitasi riset sebagai indikator vital.
“Kalau publikasi dosen kita kuat di level internasional, reputasi kampus otomatis naik. Dampaknya langsung terasa pada pemeringkatan, baik nasional maupun global,” tegas Prof. Ilfi.
UIN Maliki Malang memahami bahwa untuk menjadi “Universitas Islam Nomor Satu”, mereka tidak bisa hanya jago kandang. Mereka harus bertarung di arena publikasi ilmiah. Karya dosen berupa buku ilmiah, riset paten, hingga artikel di jurnal Q1 dan Q2 terindeks Scopus menjadi harga mati.
Strategi ini juga berkelindan dengan target akreditasi internasional. Tahun ini, Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Maliki Malang menargetkan 15 program studi (Prodi) meraih akreditasi internasional. Angka ini setara dengan 30 persen dari total prodi yang ada.
Syarat mutlak untuk mendapatkan pengakuan lembaga akreditasi internasional seperti AUN-QA (ASEAN) atau ASIIN (Jerman) adalah kualifikasi dosen yang mumpuni, yang ditandai dengan banyaknya jumlah profesor di prodi tersebut.
Prof. Ilfi menetapkan standar tinggi: setiap program studi ke depannya wajib memiliki minimal satu guru besar. Keberadaan profesor di sebuah prodi ibarat jangkar yang menjaga kualitas kurikulum dan arah riset mahasiswa.
Kolaborasi Lintas Institusi: Membuka Sekat Eksklusivitas
Menyadari bahwa riset berdampak tinggi tidak bisa dilakukan sendirian, UIN Maliki Malang mulai meruntuhkan tembok eksklusivitas. Kampus ini membuka pintu kolaborasi lebar-lebar dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) besar lainnya di Jawa Timur, seperti Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Kolaborasi ini strategis karena memungkinkan terjadinya riset lintas disiplin. Misalnya, integrasi ilmu agama dengan kedokteran (dengan UB) atau ilmu pendidikan dan teknologi (dengan Unesa). Dengan bertambahnya jumlah guru besar, posisi tawar UIN Maliki Malang dalam kerjasama riset menjadi setara. Alokasi anggaran riset dan pengabdian masyarakat pun ditingkatkan untuk memfasilitasi kolaborasi “kelas berat” ini.
“Guru besar harus memiliki karya yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat maupun dunia industri. Itu yang terus kami dorong,” tambah Prof. Ilfi. Ini menandakan pergeseran paradigma dari research for publication menjadi research for impact.
Apa yang terjadi di UIN Maliki Malang saat ini adalah sebuah studi kasus menarik tentang manajemen pendidikan tinggi modern. Transformasi tidak dilakukan dengan mantra instan, melainkan melalui perencanaan sistematis: investasi dana riset, intervensi pelatihan SDM, adaptasi terhadap regulasi, dan visi internasionalisasi yang jelas.
Jika konsistensi ini terjaga, pada tahun 2029, UIN Maliki Malang tidak hanya akan memanen 100 guru besar, tetapi juga berpotensi mengubah peta persaingan perguruan tinggi Islam di Asia Tenggara.
Guru besar di kampus ini tidak lagi sekadar menjadi simbol status sosial individu, melainkan menjadi mesin penggerak utama yang membawa gerbong UIN Maliki Malang melesat meninggalkan para pesaingnya menuju rekognisi dunia (as/dnv).
