Perampok gasak Rp1,7 triliun dari Bank Jerman saat Natal. 3.000 kotak deposit jebol. Polisi: mirip film Ocean’s Eleven. Pelaku masih buron.
INDONESIAONLINE – Suasana liburan akhir tahun 2025 yang seharusnya penuh sukacita berubah menjadi mimpi buruk bagi ribuan warga Gelsenkirchen, negara bagian Rhine Utara-Westphalia, Jerman. Di saat lonceng gereja berdentang merayakan Natal dan warga terlelap dalam libur panjang, sebuah operasi kriminal berskala masif tengah berlangsung dalam senyap di bawah tanah kota industri tersebut.
Sebuah cabang bank ritel Sparkasse, institusi keuangan yang dikenal merakyat di Jerman, menjadi sasaran perampokan yang digadang-gadang sebagai salah satu pencurian fisik terbesar dalam sejarah modern Jerman.
Tidak tanggung-tanggung, harta benda senilai hingga 105 juta Dolar AS (setara Rp 1,7 triliun) raib tanpa jejak. Peristiwa ini terungkap ke publik menjelang pergantian tahun, tepatnya pada Rabu (31/12/2025), menyisakan tanda tanya besar mengenai celah keamanan perbankan Eropa.
Operasi “Bedah Beton”: Presisi dan Brutal
Berdasarkan penelusuran di lokasi kejadian dan keterangan resmi kepolisian setempat, aksi ini jauh dari kata amatir. Para pelaku tidak masuk melalui pintu depan dengan senjata api terhunus layaknya perampokan bank konvensional. Mereka memilih jalan sunyi: “membedah” gedung dari dalam.
Akses masuk dimulai dari garasi parkir yang terhubung langsung dengan struktur bangunan bank. Dengan memanfaatkan momen libur Natal di mana aktivitas perkantoran dan lalu lintas manusia berada di titik nol, para pelaku memiliki keleluasaan waktu yang mengerikan.
Mereka menggunakan bor industri berukuran besar—alat berat yang seharusnya menimbulkan kebisingan signifikan—untuk menembus dinding beton bertulang yang melindungi ruang khazanah (vault).
Fakta bahwa pengeboran dinding beton tebal ini tidak memicu sistem alarm seismik atau menarik perhatian warga sekitar menunjukkan tingkat perencanaan yang sangat matang. Juru bicara kepolisian setempat bahkan tidak ragu menyamakan modus operandi ini dengan film heist legendaris Hollywood.
“Perencanaan dan pelaksanaan ini menunjukkan adanya pengetahuan struktural sebelumnya dan energi kriminal yang sangat besar. Ini mengingatkan kita pada Ocean’s Eleven, namun dengan dampak kerugian nyata yang menyakitkan,” ujar juru bicara kepolisian kepada kantor berita AFP.
Statistik Kerugian: Data yang Mencengangkan
Tingkat kerusakan di dalam ruang penyimpanan sangat katastropik. Dari total 3.250 kotak penyimpanan aman (safe deposit box) yang tersedia di fasilitas tersebut, lebih dari 3.000 unit telah dibongkar paksa. Artinya, tingkat keberhasilan pembobolan mencapai lebih dari 95 persen. Hampir tidak ada yang tersisa.
Para penyelidik memperkirakan total kerugian materiil bergerak di rentang yang sangat lebar, yakni antara 11,8 juta hingga 105,7 juta Dolar AS. Angka Rp 1,7 triliun muncul karena safe deposit box seringkali menyimpan aset tak ternilai yang tidak terdaftar dalam neraca bank, seperti emas batangan, perhiasan warisan keluarga, hingga uang tunai dalam jumlah besar yang disimpan nasabah untuk menghindari pajak atau biaya administrasi.
Sebagai perbandingan data historis, kasus ini berpotensi menyaingi pencurian Green Vault (Grünes Gewölbe) di Dresden pada tahun 2019, di mana perhiasan kerajaan senilai sekitar 113 juta Euro dicuri. Jika estimasi tertinggi Rp 1,7 triliun terkonfirmasi, perampokan Gelsenkirchen akan masuk dalam jajaran “Top 5” pencurian properti terbesar di Eropa dalam satu dekade terakhir.
Misteri Audi RS 6 dan Pelat Nomor Hanover
Siapa dalang di balik aksi ini? Hingga Rabu (31/12/2025), kepolisian Jerman belum mengumumkan adanya penangkapan. Para pelaku seolah hilang ditelan bumi, meninggalkan jejak digital yang minim namun krusial.
Rekaman kamera pengawas (CCTV) yang berhasil diamankan memperlihatkan sebuah mobil station wagon performa tinggi, Audi RS 6 berwarna hitam, meninggalkan garasi bank pada dini hari Senin (29/12/2025). Mobil ini diketahui memiliki tenaga besar yang memungkinkannya melaju sangat cepat di Autobahn (jalan bebas hambatan Jerman), indikasi bahwa rute pelarian telah dihitung secara presisi.
Di dalam mobil tersebut terlihat beberapa penumpang bertopeng. Yang menarik perhatian penyidik adalah pelat nomor yang digunakan. Polisi mengonfirmasi bahwa pelat nomor tersebut adalah hasil curian dari kota Hanover. Jarak antara Hanover dan Gelsenkirchen sekitar 200 kilometer.
Fakta ini mengindikasikan bahwa operasi ini melibatkan mobilitas lintas negara bagian. Penggunaan pelat nomor curian dari kota yang jauh adalah taktik klasik untuk mengecoh sistem pemindai pelat nomor otomatis (ANPR) yang tersebar di jalan raya Jerman, memberikan waktu bagi pelaku untuk berganti kendaraan atau melintasi perbatasan negara tetangga sebelum alarm berbunyi.
Jeritan Nasabah dan Celah Asuransi
Dampak sosial dari perampokan ini mulai terasa pada Selasa pagi. Kerumunan nasabah yang panik dan marah memadati pelataran bank Sparkasse yang kini ditutup total dan dijaga ketat garis polisi. Kemarahan mereka bukan tanpa alasan.
Masalah utama dalam kasus pembobolan safe deposit box adalah plafon asuransi. Juru bicara polisi, Thomas Nowaczyk, mengungkapkan data pahit: nilai pertanggungan rata-rata standar untuk setiap kotak penyimpanan di bank tersebut hanya mencapai sekitar 11.700 Dolar AS (sekitar Rp 195 juta).
Angka ini sangat kecil dibandingkan dengan klaim para nasabah. Banyak dari mereka mengaku menyimpan aset yang nilainya puluhan kali lipat dari nilai pertanggungan tersebut.
“Ini adalah tabungan seumur hidup orang tua saya dalam bentuk emas,” teriak salah satu nasabah di lokasi.
Jika klaim asuransi hanya mencakup nilai dasar, maka kerugian finansial yang ditanggung warga Gelsenkirchen akan sangat masif dan permanen.
Situasi sempat memanas hingga manajemen bank menerima ancaman terhadap keselamatan karyawan. Hal ini memaksa Sparkasse menutup operasional cabang tersebut tanpa batas waktu yang ditentukan.
Respon Manajemen dan Masa Depan Keamanan Bank
Frank Krallmann, juru bicara Sparkasse, berusaha meredam kepanikan. Dalam pernyataan resminya, ia menegaskan bahwa pihak bank “sangat terkejut” dan berjanji akan mendukung nasabah sepenuhnya.
“Kami masih berada di lokasi dan situasi kini jauh lebih tenang. Kami mendukung nasabah kami sepenuhnya dan berharap para pelaku segera tertangkap,” ujar Krallmann.
Langkah mitigasi krisis telah dilakukan. Manajemen bank telah mengirimkan surat pemberitahuan resmi kepada seluruh penyewa kotak yang terdampak. Sebuah layanan hotline khusus juga dibuka untuk menampung keluhan dan pendataan awal kerugian.
Saat ini, koordinasi intensif dengan konsorsium perusahaan asuransi tengah dilakukan untuk mencari mekanisme kompensasi yang paling adil, meskipun diprediksi proses ini akan memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun di meja hijau.
Akhir dari Era “Aman” Perbankan Fisik?
Perampokan di Gelsenkirchen ini menjadi tamparan keras bagi industri keamanan perbankan global. Di era di mana fokus keamanan siber (cyber security) menjadi prioritas utama untuk menangkal peretas, keamanan fisik (physical security) di cabang-cabang bank daerah tampaknya mulai dianggap remeh atau kurang diperbarui teknologinya.
Keberhasilan para pelaku mengebor beton dan membobol 3.000 kotak tanpa terdeteksi selama periode liburan menunjukkan adanya celah fatal dalam sistem pengawasan pasif. Kasus ini diprediksi akan memicu gelombang audit keamanan besar-besaran di seluruh bank di Jerman dan Eropa pada awal tahun 2026.
Bagi para pelaku yang masih buron, waktu adalah musuh utama. Dengan nilai barang curian yang begitu besar dan spesifik (seperti perhiasan unik), akan sulit bagi mereka untuk mencairkan (fencing) barang bukti tanpa terdeteksi jaringan intelijen kepolisian Eropa (Europol).
Namun untuk saat ini, mereka telah mencatatkan diri dalam sejarah kriminalitas Jerman sebagai kelompok yang berhasil mencuri Natal dari warga Gelsenkirchen.
