Beranda

Pengaderan HMI Jadi Ruang Refleksi dan Perubahan Diri bagi Mahasiswa

Ketua Umum Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI Cabang Samarinda Laode (dok)

INDONESIAONLINE  – Pengaderan Basic Training Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi ruang pembelajaran penting bagi peserta untuk mengembangkan pola pikir kritis, memperluas wawasan, serta meningkatkan kesadaran terhadap tanggung jawab mahasiswa dalam kehidupan sosial.

Ketua Umum Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI Cabang Samarinda Laode menyampaikan bahwa pengaderan tidak hanya berfokus pada penyampaian materi intelektual, tetapi juga menjadi proses untuk mengenali diri, memahami sudut pandang orang lain, serta belajar terbuka terhadap kritik dan perbedaan pemikiran. Menurut dia, perbedaan pendapat justru dapat menjadi sarana memperkaya perspektif dan meningkatkan kualitas diri.

“Pengaderan bukan sekadar persoalan siapa yang paling unggul dalam pengetahuan, tetapi bagaimana setiap individu memiliki kemauan untuk terus belajar dan berkembang,” ungkap Laode, Minggu (04/10/2026).

Ia menilai, di tengah derasnya arus informasi dan cepatnya perkembangan teknologi saat ini, generasi muda sangat dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, sigap memeriksa kebenaran informasi, serta bertanggung jawab terhadap setiap pendapat yang disampaikan ke publik.

Oleh karena itu, Laode menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik di kampus, melainkan harus memiliki kepedulian yang nyata terhadap berbagai persoalan sosial dan lingkungan sekitar.

Ia pun berharap seluruh kader tidak memandang pengaderan sebagai akhir dari proses menimba ilmu. Sebaliknya, pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh harus dilanjutkan secara konsisten melalui tradisi membaca, berdiskusi, serta menerapkan nilai-nilai pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.

“Pengaderan bukan titik akhir, melainkan langkah awal untuk memperkuat komitmen belajar, memperluas wawasan, dan menjadi pribadi yang lebih baik,” tambahnya.

Laode menekankan, indikator keberhasilan pengaderan tidak hanya diukur dari seberapa banyak materi yang dikuasai, tetapi dari perubahan konkret dalam cara berpikir, sikap, dan tindakan peserta setelah menyelesaikan seluruh proses tersebut.

“Rangkaian pengaderan boleh berakhir, tetapi upaya untuk terus belajar dan menjadi manusia yang lebih baik harus tetap berjalan,” pungkasnya. (ra/hel)

 

Exit mobile version