Menengok Aktivias Disabilitas Netra Ngaji Al-Qur’an Braille di Bulan Ramadan

by -24 views
Menengok Aktivias Disabilitas Netra Ngaji Al-Qur’an Braille di Bulan Ramadan

INDONESIAONLINE – Bulan Ramadan menjadi ajang bagi masyarakat muslim untuk berburu pahala dan keberkahan. Namun, ada yang berbeda proses beribadah yang dilakukan oleh penyandang disabilitas netra di wilayah Kota Malang.

Ya, keterbatasan fisik mereka seakan tak menjadi halangan untuk beribadah di bulan suci Ramadan. Di Unit Pelaksana Teknis Rehabilitasi Sosial Bina Netra (UPT RSBN) Malang, sebanyak 105 disabilitas netra tetap semangat mengaji Al-Qur’an dengan menggunakan huruf Arab Braille.

Kepala UPT. RSBN Malang Firdaus Sulistyawan menyatakan, selama bulan Ramadan berbagai kegiatan spiritual bagi warga disabilitas netra yang berada di RSBN dihadirkan. Kegiatan tersebut dilakukan layaknya masyarakat normal.

Sejak dini hari mulai dari pelaksanaan sahur, sebagian dari warga disabilitas bahkan turut bertugas patrol membangunkan rekanannya. Kemudian dilanjutkan salat subuh.

Pagi harinya, sekitar pukul 08.00 WIB kegiatan dilanjutkan dengan pembelajaran murotal Al-Qur’an. Lalu setelah salat dzuhur aktivitas dilanjutkan dengan latihan kultum. Kemudian malam harinya dilanjutkan dengan salat tarawih berjamaan dan tadarus Al-Qur’an.

Baca:  Pengolahan Limbah Tinja di Kota Malang, Disulap Untuk Suburkan Tanaman

“Di bulan Ramadan ini teman-teman disabilitas netra menjalani kegiatan spiritual, yang sebenarnya ini tak jauh beda dengan hari biasa. Tetapi, karena Ramadan, kegiatan ditambah dengan tadarus Al-Qur’an dan salat tarawih pada malam hari. Fokus utama kegiatan keagamaan itu adalah untuk memperkuat mental spiritual mereka,” katanya. 

Nah, spesifiknya, pada pembelajaran membaca Al-Qur’an inilah, warga binaan disabilitas netra ini mendapatkan pelatihan keterampilan membaca menggunakan huruf braille diluar pelatihan utama massage shiatsu.

Hal ini dilakukan, agar menambah pemahaman dan pengetahuan bagi penyandang disabilitas ini. Tentunya, di bulan Ramadan dengan harapan tetap aktif dan produktif dengan berbagai kegiatan keagamaan yang menjadi rutinitas.

“Ini bagian pembelajaran anak-anak di masa pandemi dan di masa Ramadan ini. Sehingga,  tidak saja kegiatan mental spiritual dan mencari pahala, tapi mereka juga mampu meningkatkan keterampilan individunya. Sore hari, ada kegiatan ngabuburit diisi dengan latihan hadrah juga,” imbuhnya.

Baca:  Kabupaten Blitar Tambah 3 Pasien Positif Covid-19, Total Ada 6

Meski diakuinya, dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an dengan huruf braille ini, penyandang disabilitas netra perlu pelatihan yang ekstra, dan ketelatenan. Sebab, pengenalan hurufnya berbeda dengan abjad.

Treatment yang diberikan juga berbeda, jika memang seseorang sudah mengalami disabilitas netra sejak bayi, maka biasanya sudah mengenal huruf braille sejak kecil. Tetapi kalau baru mengalami disabilitas netra saat dewasa, maka hal itu berbeda cara.

“Selama bulan Ramadan ini, kami berikan dua kali pengenalan huruf Al-Qur’an braille dalam sepekan,” paparnya. 

Karena kesulitan inilah, warga binaan disabilitas netra justru diarahkan untuk menjadi hafidz Qur’an. Hal ini, karena proses pembelajaran huruf braille arab yang sulit dihafalkan dengan sentuhan atau indera peraba.

Sehingga, penyandang disabilitas lebih dikuatkan dengan metode pemahaman menghafal bacaan Alquran. “Dengan hafidz seperti ini akan meningkatkan kemampuan anak-anak mengaji Alquran. Diteruskan kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan oleh pembimbing degan tartil, agar lebih fasih,” ungkapnya.

Baca:  Ada Yang Cari Silsilah Singhasari untuk Hidupkan Majapahit di Malang, Benarkah Raja Keraton Agung Sejagat?

Lebih jauh, Firdaus menyebut, UPT RSBN Malang sebagai satu-satunya tempat untuk membimbing penyandang disabilitas netra di Jawa Timur ini setiap tahunnya harus meluluskan sejumlah 25 warga binaan. Namun, mereka tidak hanya lulus dengan sia-sia, melainkan telah dibekali dengan kemampuan untuk siap bekerja di sektor Hatra (Penyehat, Tradisional massage).

Di mana, masing-masing perorangan akan mengeyam pendidikan di UPT RSBN  kurang lebih selama 3 tahun. Tahun pertama disebut persiapan, tahun kedua adalah kelas dasar, dan tahun terakhir adalah kejuruan.

“Rentang usia yang boleh masuk ke RSBN adalah 19 hingga 45 tahun. Selama tiga tahun mereka mendapat berbagai pelatihan baik vokasional maupun keagamaan sebagai bekal saat sudah lulus. Jadi saat sudah lulus mereka bisa dengan mandiri bekerja,” tandasnya.

(fin/pit)