Beranda

Perlombaan Meremajakan Sel Manusia Dimulai, Bisakah Penuaan Dibalik?

Ilustrasi pemrograman ulang sel pada manusia (Ist)

Uji coba pertama pemrograman ulang sel pada manusia dimulai. Teknologi ini membuka peluang terapi penyakit usia, tetapi risiko kanker masih menghantui.

INDONESIAONLINE – Sel manusia menyimpan jejak perjalanan hidup. Kerusakan akibat usia, lingkungan, penyakit, hingga berbagai tekanan biologis meninggalkan perubahan pada cara gen bekerja. Pertanyaannya, mungkinkah jejak tersebut dihapus sehingga sel kembali berfungsi seperti ketika masih muda?

Pertanyaan itu kini tidak lagi sepenuhnya berada di wilayah fiksi ilmiah.

Pada 2026, teknologi yang dirancang untuk mengembalikan sel ke keadaan lebih muda telah memasuki tahap uji klinis manusia. Life Biosciences memperoleh izin FDA pada Januari 2026 untuk menguji ER-100, terapi yang menggunakan tiga faktor transkripsi—OCT4, SOX2, dan KLF4—dalam upaya memulihkan pola epigenetik sel. Uji fase pertama ditujukan untuk pasien dengan neuropati optik, termasuk glaukoma sudut terbuka dan NAION.

Pasien pertama dalam studi tersebut dilaporkan menerima dosis pada Juni 2026. Tujuan utama fase pertama tetap keselamatan dan tolerabilitas, meski peneliti juga mengamati sejumlah ukuran fungsi penglihatan untuk memperoleh petunjuk awal mengenai efektivitasnya.

Di balik eksperimen tersebut terdapat David Sinclair, profesor genetika di Harvard Medical School dan salah satu tokoh yang lama meneliti hubungan antara perubahan epigenetik dan penuaan.

Namun, apa yang sedang diuji bukanlah obat untuk membuat manusia hidup selamanya. Untuk saat ini, pertanyaan ilmiahnya jauh lebih sederhana sekaligus lebih mendasar: apakah sel yang menua dapat dikembalikan ke kondisi yang lebih muda tanpa kehilangan identitasnya dan tanpa berubah menjadi sel yang berbahaya?

Dari Faktor Yamanaka ke Terapi Manusia

Akar teknologi ini bermula dari penemuan Shinya Yamanaka. Pada 2006, Yamanaka dan timnya menunjukkan bahwa sel dewasa dapat diprogram kembali menjadi sel pluripoten menggunakan kombinasi faktor transkripsi tertentu.

Penemuan tersebut kemudian mengubah pemahaman ilmuwan mengenai identitas sel. Pada 2012, Yamanaka bersama John B. Gurdon dianugerahi Nobel Fisiologi atau Kedokteran atas penemuan bahwa sel matang dapat diprogram kembali menjadi pluripoten.

Empat faktor yang terkenal sebagai faktor Yamanaka—OCT4, SOX2, KLF4, dan c-MYC—mampu mengembalikan sel dewasa ke keadaan yang sangat muda atau pluripoten. Masalahnya, proses tersebut terlalu kuat untuk langsung diterapkan sebagai terapi peremajaan.

Jika sel dikembalikan terlalu jauh, identitasnya dapat hilang. Risiko lain adalah pertumbuhan sel yang tidak terkendali dan pembentukan tumor.

Karena itu, penelitian peremajaan modern mencoba melakukan sesuatu yang lebih terukur: bukan mengubah sel dewasa sepenuhnya menjadi sel punca, melainkan memberikan rangsangan pemrograman ulang secara terbatas agar sebagian perubahan terkait usia dapat dikembalikan.

Dalam literatur ilmiah, pendekatan ini dikenal sebagai partial reprogramming atau pemrograman ulang parsial. Kajian di Nature Communications menyebut teknologi tersebut memiliki potensi untuk meremajakan sel, tetapi menegaskan bahwa menjaga identitas sel dan menghindari dediferensiasi menjadi tantangan utama. Aktivasi faktor Yamanaka secara berlebihan juga dapat meningkatkan risiko terbentuknya teratoma dan perubahan yang berkaitan dengan kanker.

Di sinilah ER-100 menjadi tonggak penting. Terapi tersebut menggunakan tiga faktor OSK, bukan empat faktor Yamanaka klasik, dan dirancang untuk mengembalikan pola ekspresi gen ke keadaan yang lebih muda tanpa mengubah DNA menjadi urutan genetik baru. Life Biosciences menyebut pendekatan ini sebagai epigenetic restoration.

Glaukoma dipilih sebagai sasaran awal bukan tanpa alasan. Saraf optik berada pada lokasi yang relatif terisolasi sehingga pemberian terapi dapat dilakukan secara lokal. Jika teknologi tersebut menimbulkan masalah, dampaknya secara teori lebih mudah dibatasi dibandingkan apabila terapi langsung diberikan ke seluruh tubuh.

Tetapi keberadaan uji klinis tidak berarti teknologi itu sudah terbukti mampu membalikkan penuaan manusia. Fase pertama terutama dirancang untuk menjawab pertanyaan keamanan.

Dari Memperbaiki Penyakit Menuju Mengejar Usia Biologis

Perlombaan menuju peremajaan sel jauh lebih luas daripada satu perusahaan.

Para peneliti di berbagai institusi mencoba menemukan cara mengubah keadaan epigenetik sel tanpa memicu konsekuensi berbahaya. Sebagian menggunakan faktor transkripsi, sebagian mencari molekul kimia, sementara yang lain mencoba menggabungkan pendekatan tersebut dengan terapi regeneratif.

Juan Carlos Izpisua Belmonte, salah satu ilmuwan yang lama mengembangkan konsep pemrograman ulang parsial, pernah menunjukkan pada model tikus bahwa pemberian faktor Yamanaka yang dikendalikan dapat memperpanjang usia tikus dengan progeria sekaligus memperbaiki sejumlah fungsi jaringan. Tetapi keberhasilan pada hewan tidak otomatis berarti keberhasilan pada manusia.

Tubuh manusia memiliki jaringan dan jenis sel yang sangat beragam. Proses penuaan juga bukan akibat satu mekanisme tunggal. Kerusakan DNA, perubahan epigenetik, gangguan mitokondria, peradangan, perubahan komunikasi antarsel, dan berbagai mekanisme lain saling berinteraksi.

Karena itu, bahkan Shinya Yamanaka tidak melihat faktor yang menggunakan namanya sebagai satu-satunya jawaban.

“Penuaan dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk tidak hanya perubahan epigenetik tetapi juga kerusakan genomik, fungsi mitokondria, dan lingkungan jaringan. Oleh karena itu, kemungkinan strategi di masa depan akan melibatkan kombinasi dari berbagai pendekatan.”

Pandangan tersebut menunjukkan mengapa klaim tentang “menghentikan penuaan” masih terlalu jauh dibandingkan bukti klinis yang tersedia.

Risiko kanker menjadi salah satu persoalan terbesar. Penuaan dan kanker sendiri memiliki hubungan biologis yang kompleks. Perubahan pada genom, telomer, metabolisme, peradangan, dan lingkungan jaringan dapat memengaruhi perkembangan tumor.

Kajian Nature Aging pada 2025 menekankan bahwa mekanisme penuaan dan kanker saling berkelindan, terutama melalui kerusakan genom, disfungsi telomer, peradangan, dan perubahan sistem imun.

Artinya, membuat sel “lebih muda” tidak otomatis berarti membuat tubuh lebih sehat. Sel yang kembali aktif membelah justru harus diawasi agar tidak memperoleh karakter yang memungkinkan pertumbuhan tak terkendali.

Itulah sebabnya langkah menuju manusia berlangsung jauh lebih hati-hati dibandingkan eksperimen pada tikus.

Di sisi lain, perusahaan bioteknologi melihat peluang yang sangat besar. Jika pemrograman ulang sel terbukti aman, penerapannya secara teoritis dapat berkembang dari penyakit mata menuju gangguan hati, otot, saraf, dan jaringan lainnya.

Namun, tujuan klinisnya untuk saat ini tetap berbeda dari impian keabadian.

Life Biosciences secara resmi menyebut ER-100 sebagai terapi untuk neuropati optik, bukan sebagai obat yang memperpanjang umur manusia. Studi manusia pertama juga dirancang terutama untuk menilai keamanan.

Perbedaan ini penting. Sebab antara memperbaiki sel yang rusak dan menghentikan penuaan seluruh tubuh terdapat jurang ilmiah yang sangat besar.

Jika suatu hari jurang tersebut berhasil diseberangi, persoalannya juga tidak berhenti pada laboratorium. Akses terhadap terapi mahal, ketimpangan kesehatan, perubahan struktur masyarakat, hingga pertanyaan mengenai batas usia manusia akan muncul bersamaan.

Shinya Yamanaka sendiri telah mengingatkan bahwa perkembangan teknologi semacam ini membutuhkan pembicaraan sosial yang luas. Penuaan bukan hanya persoalan biologis, melainkan juga menyentuh cara manusia memahami kehidupan dan kematian.

Untuk saat ini, dunia baru memasuki pintu pertama. Sejumlah sel mungkin memang dapat diarahkan kembali menuju keadaan yang lebih muda. Tetapi belum ada bukti bahwa manusia dapat diprogram ulang untuk hidup tanpa batas.

Uji klinis ER-100 akan menjadi salah satu eksperimen penting untuk melihat apakah gagasan yang selama ini hidup di laboratorium dapat melewati ujian paling sulit: tubuh manusia.

Jika berhasil, dunia kedokteran mungkin mendapatkan cara baru untuk menangani penyakit yang selama ini dianggap bagian tak terpisahkan dari usia. Jika gagal, kegagalan itu pun akan menjadi pengetahuan penting mengenai batas kemampuan sel manusia.

Yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar impian hidup lebih lama. Yang sedang diuji adalah apakah waktu biologis sebuah sel benar-benar dapat diputar mundur—dan seberapa jauh manusia berani memutar jarum tersebut.

Exit mobile version