Polisi mendalami dugaan persoalan pribadi sebelum mahasiswa FK UB RR mengalami insiden di kampus. Saksi dari kampus, kos hingga keluarga diperiksa.
INDONESIAONLINE – Penyelidikan terhadap insiden yang dialami RR (19), mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB), memasuki tahap pendalaman terhadap kehidupan korban sebelum kejadian. Polisi tidak hanya memeriksa kondisi di lokasi, tetapi juga menelusuri orang-orang yang berinteraksi dengan korban dalam beberapa waktu terakhir.
RR mengalami insiden serius di lingkungan kampus pada Kamis (10/9/2026). Mahasiswa semester tiga tersebut kemudian mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang.
Perkembangan terbaru menunjukkan penyidik menemukan informasi mengenai persoalan pribadi yang diduga sempat dialami korban. Namun, kepolisian belum menempatkan persoalan tersebut sebagai kesimpulan mengenai penyebab kejadian.
Kapolsek Lowokwaru, Kompol Anang Tri Hananta mengatakan dugaan tersebut muncul setelah penyidik meminta keterangan dari sejumlah orang yang berada di lingkungan korban.
“Berdasarkan keterangan saksi-saksi, dia (RR) baru bertengkar sama temannya. Mungkin ada masalah, karena tidak kuat menanggung lalu lompat dari lantai enam,” kata Anang, Sabtu (12/9/2026).
Pernyataan tersebut masih merupakan informasi dari proses pemeriksaan saksi. Polisi masih perlu mencocokkan keterangan tersebut dengan informasi lain sebelum menarik kesimpulan mengenai rangkaian peristiwa yang dialami RR.
Langkah itu penting karena kondisi psikologis seseorang tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu peristiwa atau satu persoalan. WHO dalam pedoman pemberitaan mengenai bunuh diri juga mengingatkan media agar tidak menyederhanakan penyebab suatu tindakan menjadi satu faktor saja.
Polisi Periksa Lingkaran Terdekat RR
Untuk menyusun kronologi secara utuh, penyidik memperluas pemeriksaan kepada sejumlah pihak yang mengenal RR dalam kesehariannya.
Mereka terdiri dari dosen, teman korban, hingga pemilik kos tempat RR tinggal selama berada di Malang. Keterangan dari berbagai lingkungan tersebut diharapkan memberikan gambaran mengenai aktivitas dan kondisi korban menjelang kejadian.
“Dosen, teman korban, terus pemilik kos tempat tinggal korban semua diperiksa,” imbuh Anang.
Keterangan keluarga juga menjadi bagian dari penyelidikan. Orang tua RR yang berdomisili di luar Malang telah datang ke Kota Malang setelah memperoleh kabar mengenai kondisi anak mereka.
“Termasuk pihak orang tua korban, juga kami panggil dan sudah datang di Malang,” tambah Anang.
Polisi kini mengumpulkan keterangan tersebut untuk mencari titik temu antara aktivitas korban, hubungan sosialnya, serta kondisi yang terjadi sebelum insiden.
Sebelumnya, polisi juga melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian dan menelusuri rekaman kamera pengawas. Rekaman CCTV menjadi salah satu bagian dari penyelidikan untuk mengetahui rangkaian peristiwa sebelum RR mengalami insiden tersebut.
Pada hari kejadian, pihak kampus membenarkan bahwa RR merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran angkatan 2025. Universitas Brawijaya kemudian menyatakan keprihatinannya atas kejadian tersebut.
Perkembangan terbaru dari pihak universitas juga memberikan konteks penting. UB menyebut tidak menemukan persoalan akademik yang berkaitan dengan RR maupun masalah dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PK2MABA). Kampus sekaligus melakukan evaluasi terhadap aspek keselamatan gedung dan akses pada area tertentu.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa penyelidikan tidak berhenti pada dugaan persoalan akademik. Polisi justru masih membuka berbagai kemungkinan untuk memahami kondisi korban secara menyeluruh.
RR Masih Jalani Perawatan Intensif
Di tengah proses penyelidikan, perhatian utama masih tertuju pada kondisi RR yang menjalani perawatan di ICU Kapuas RSSA Malang.
Mahasiswa berusia 19 tahun itu mengalami sejumlah cedera serius akibat insiden tersebut. Berdasarkan perkembangan medis yang diberitakan sebelumnya, RR telah menjalani operasi pada Kamis (10/9/2026).
Humas RSSA Malang Muhammad Syamsul Bakhri menyampaikan bahwa tindakan operasi dilakukan untuk menangani cedera yang dialami korban. Pada Jumat (11/9/2026), kondisi RR dilaporkan stabil meski masih membutuhkan perawatan intensif.
Kondisi tersebut membuat polisi belum dapat meminta keterangan langsung dari korban. Karena itu, penyidik sementara mengandalkan keterangan orang-orang di sekitar RR serta bukti yang diperoleh dari lokasi.
Situasi ini sekaligus menjelaskan mengapa penyelidikan belum menghasilkan kesimpulan final mengenai latar belakang kejadian.
Di lingkungan kampus, insiden tersebut juga mendorong evaluasi mengenai aspek keselamatan. UB menyatakan akan memperketat pengamanan dan melakukan penyesuaian pada sejumlah bagian bangunan untuk mengurangi risiko kejadian serupa.
Bagi kepolisian, tantangannya kini adalah merangkai informasi yang masih tersebar menjadi satu kronologi yang dapat dipertanggungjawabkan. Perselisihan dengan teman menjadi salah satu informasi yang sedang didalami, bukan kesimpulan akhir.
Sebab, sebuah peristiwa yang berkaitan dengan kondisi psikologis seseorang dapat memiliki latar belakang kompleks. Karena itu, polisi masih memeriksa berbagai pihak sebelum menentukan gambaran utuh mengenai apa yang terjadi pada RR.
WHO sendiri menekankan bahwa pemberitaan mengenai percobaan bunuh diri perlu mengedepankan akurasi, tidak menggunakan bahasa sensasional, tidak memberikan detail mengenai metode, serta menyediakan informasi yang dapat membantu pencegahan dan pencarian pertolongan.
Dengan RR yang masih mendapatkan perawatan dan pemeriksaan kepolisian yang belum selesai, penyebab pasti insiden tersebut hingga Sabtu (12/9/2026) belum dapat dipastikan.
Polisi masih mengumpulkan keterangan dari lingkungan kampus, tempat tinggal dan keluarga. Jawaban mengenai apa yang sebenarnya terjadi sebelum insiden baru akan terlihat setelah seluruh informasi tersebut selesai diverifikasi.
