INDONESIAONLINE – Kekuatan finansial Premier League (Liga Inggris) dengan Serie A (Liga Italia) bisa dilihat dari pendapatan klub-klub pesertanya. Ambil saja contoh Wolverhampton Wanderers di Liga Inggris dan Inter Milan di Liga Italia.
Meski terdegradasi dari Premier League musim 2025/2026, Wolverhampton Wanderers tetap memperoleh pemasukan fantastis yang nilainya jauh melampaui hadiah juara yang diterima Inter Milan di Serie A.
Wolves menutup musim sebagai juru kunci Liga Inggris usai hanya mengumpulkan 20 poin. Namun, klub tersebut tetap diperkirakan menerima pendapatan sekitar 117 juta poundsterling atau setara Rp2,7 triliun dari hak siar dan distribusi pendapatan Premier League.
Nilai itu disebut lebih besar delapan kali lipat dibanding bonus yang diterima Inter Milan setelah menjuarai Liga Italia musim ini. Inter dikabarkan hanya memperoleh sekitar 13,6 juta poundsterling atau sekitar Rp325 miliar.
Perbedaan besar tersebut kembali menunjukkan dominasi finansial Premier League dibanding liga-liga top Eropa lainnya. Pendapatan komersial dan hak siar yang terus meningkat membuat klub-klub Inggris memiliki kekuatan ekonomi yang jauh lebih besar.
Kondisi finansial itu juga membuat klub-klub Premier League lebih leluasa membangun skuad bertabur bintang dibanding mayoritas tim Eropa lainnya. Di sisi lain, kekuatan ekonomi klub Inggris turut memicu lonjakan harga pemain di bursa transfer. Pemain yang dilirik klub Inggris bakal melonjak harga jualnya.
Fenomena itu terlihat dari langkah Liverpool yang disebut menggelontorkan dana besar untuk mendatangkan Alexander Isak dengan nilai 125 juta poundsterling. Begitu pula saat Liverpool merekrut Florian Wirtz seharga 116,5 juta poundsterling pada awal musim ini. (hsa/hel)
