Beranda

Rambut Terlarang Kim Ju-ae: Simbol Baru Kekuasaan Mutlak Korut

Rambut Terlarang Kim Ju-ae: Simbol Baru Kekuasaan Mutlak Korut
Gaya rambut "ayam jantan" Kim Ju-ae dilarang ditiru dan ada sanksi bila warga melanggarnya (Ist/io)

Gaya rambut “ayam jantan” Kim Ju-ae dilarang ditiru warga Korut. Di balik aturan nyeleneh ini, ada strategi suksesi dan ironi kemiskinan negara.

INDONESIAONLINE – Di Korea Utara, sehelai rambut bukanlah sekadar urusan estetika, melainkan proklamasi kesetiaan politik. Ketika Kim Ju-ae, putri remaja dari Pemimpin Tertinggi Kim Jong-un, melangkah ke ruang publik dengan gaya rambut “ayam jantan” yang khas, itu bukan sekadar tren fesyen remaja biasa. Itu adalah mahkota tak kasat mata yang menegaskan statusnya sebagai bagian dari Garis Darah Paektu yang suci.

Kini, gaya rambut yang menampilkan sebagian rambut diikat ke atas dengan volume mengembang bak jambul ayam jantan (dikenal sebagai rooster hairstyle) itu telah menjadi monumen eksklusivitas. Laporan terbaru dari sumber-sumber di dalam negeri yang bocor ke media internasional seperti Mirror dan Radio Free Asia mengungkapkan sebuah dekrit tak tertulis namun mengikat: tidak ada satu pun warga sipil Korea Utara yang boleh meniru gaya rambut sang “Anak Mulia”.

Hukumannya tidak main-main. Siapa pun yang berani melanggar aturan tak tertulis ini akan menghadapi pemotongan rambut paksa di tempat, atau lebih buruk lagi, dikirim ke kamp kerja paksa selama enam bulan. Di negara di mana negara mengatur segalanya, privilese gaya rambut ini menjadi jendela untuk melihat bagaimana rezim Kim Jong-un mengontrol rakyatnya secara absolut, sekaligus mempersiapkan jalan bagi sang pewaris takhta.

Hukum Fesyen di Negara Paling Terisolasi

Untuk memahami mengapa gaya rambut seorang remaja bisa berujung pada ancaman kerja paksa, kita harus melihat rekam jejak Korea Utara dalam mengatur tubuh warganya. Pada akhir tahun 2020, rezim Kim Jong-un mengesahkan Undang-Undang Pemikiran Anti-Reaksioner. Undang-undang ini dirancang untuk memberantas pengaruh budaya asing, terutama dari Korea Selatan dan Barat.

Berdasarkan data dari pembelot dan kelompok hak asasi manusia di Seoul, Korea Utara hanya memiliki sekitar 15 hingga 28 model potongan rambut yang disetujui negara—dengan katalog yang dipajang di setiap salon pangkas rambut milik pemerintah.

Bagi pria, rambut tidak boleh melebihi panjang 5 sentimeter, meniru gaya swept-back khas Kim Jong-un. Sementara bagi wanita, gaya rambut harus sederhana, rapi, dan biasanya lebih pendek bagi mereka yang belum menikah.

Kemunculan Gyuchaldae (polisi fesyen atau patroli pemuda sosialis) di jalan-jalan Pyongyang dan kota-kota perbatasan adalah hal yang lazim. Mereka bertugas merazia celana jeans ketat, rambut yang diwarnai, hingga gaya rambut yang dianggap “kapitalis”.

Oleh karena itu, larangan meniru rambut “ayam jantan” Kim Ju-ae bukanlah anomali, melainkan eskalasi dari kultus individu. Rambut itu kini diklasifikasikan sebagai simbol aristokrasi negara yang tidak boleh dinodai oleh rakyat jelata.

Ironi Balutan Dior di Tengah Kelaparan Masal

Di balik sorotan kamera pemerintah yang merekam senyum Kim Ju-ae di berbagai acara kenegaraan, ada bisik-bisik kekecewaan yang mengalir di urat nadi masyarakat bawah Korea Utara. Kekecewaan ini bukan tanpa alasan.

Pada Maret 2023, saat menemani ayahnya mengawasi peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasong-17, Kim Ju-ae tertangkap kamera mengenakan jaket musim dingin berwarna hitam. Para pengamat fesyen dan intelijen dengan cepat mengidentifikasi pakaian tersebut sebagai produk dari rumah mode mewah asal Prancis, Christian Dior.

Berdasarkan penelusuran katalog resmi, jaket tersebut dibanderol dengan harga sekitar USD 1.900, atau setara dengan Rp 29 juta.

Angka tersebut bagaikan tamparan keras bagi realitas yang dihadapi warga biasa. Data dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) serta Program Pangan Dunia (WFP) mencatat bahwa Korea Utara masih terjebak dalam krisis kerawanan pangan kronis.

Pada tahun 2023, diperkirakan lebih dari 40 persen populasi Korea Utara (sekitar 10 juta jiwa) mengalami kekurangan gizi. Penutupan perbatasan selama pandemi COVID-19 yang berkepanjangan, sanksi internasional, dan cuaca ekstrem telah melumpuhkan sektor agrikultur mereka.

Sumber dari dalam negeri menyebutkan bahwa warga merasa muak dengan standar ganda ini. Ketika rakyat biasa diancam hukuman berat hanya karena salah memotong rambut atau menonton drama Korea demi melarikan diri dari realitas yang pahit, elit penguasa justru dengan leluasa memamerkan kemewahan produk kapitalis Barat yang selama ini mereka kutuk dalam propaganda negara.

Jejak Langkah Sang Penerus Takhta

Kim Ju-ae, yang diperkirakan lahir pada tahun 2013, pertama kali diperkenalkan ke dunia pada November 2022. Sejak saat itu, transformasinya sangat dramatis. Dari seorang anak kecil berbaju putih yang menggenggam tangan ayahnya di situs peluncuran rudal, ia kini telah tampil lebih dari 60 kali dalam acara resmi.

Bukan hanya kuantitas kemunculannya yang mengejutkan para pengamat intelijen, melainkan kualitas perannya. Baru-baru ini, media pemerintah merilis foto-foto dirinya menjajal senapan sniper (runduk) di fasilitas militer. Dalam beberapa kesempatan kenegaraan, ia bahkan terlihat berdiri di posisi tengah—menggeser ayahnya sedikit ke samping—dan menerima penghormatan langsung dari para jenderal bintang empat Tentara Rakyat Korea (KPA) tanpa kehadiran ayahnya yang mencolok.

Pada awal tahun 2024, Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS) untuk pertama kalinya secara resmi menyatakan bahwa Kim Ju-ae adalah kandidat yang “paling mungkin” menjadi penerus rezim. Analisis ini diperkuat dengan fakta bahwa potret Kim Ju-ae bersama ayahnya kini dipajang secara permanen di Kedutaan Besar Korea Utara di Beijing, Tiongkok.

Dalam tradisi politik Pyongyang, pemajangan potret di kedutaan besar adalah tahap awal dari deifikasi (pendewaan) seorang pemimpin, sebuah perlakuan yang sebelumnya hanya diberikan kepada Kim Il-sung, Kim Jong-il, dan Kim Jong-un.

Menurut Cheong Seong-chang, Direktur Pusat Studi Strategi Semenanjung Korea di Sejong Institute, kehadiran Kim Ju-ae di fasilitas militer adalah strategi psikologis yang sangat diperhitungkan.

“Dalam masyarakat Korea Utara yang sangat patriarkis, seorang pemimpin perempuan harus memiliki legitimasi yang tidak dapat diganggu gugat. Mengaitkan Kim Ju-ae dengan senjata nuklir, rudal balistik, dan militer adalah cara Kim Jong-un memberi tahu para jenderalnya bahwa anak perempuan ini adalah perwujudan dari kekuatan militer negara,” jelasnya.

Antara Masa Depan dan Penindasan

Kisah tentang gaya rambut “ayam jantan” yang dilarang pada akhirnya membuka tirai panggung teater politik Korea Utara yang penuh dengan kontradiksi. Di satu sisi, Kim Ju-ae dipoles menjadi wajah masa depan negara—seorang perempuan muda yang merepresentasikan kelangsungan dinasti Kim di abad ke-21.

Di sisi lain, ia adalah simbol dari penindasan itu sendiri; pengingat berjalan bahwa di Korea Utara, kesetaraan hanyalah ilusi sosialis, dan hak istimewa dijaga dengan laras senapan serta kamp kerja paksa.

Ketika dunia luar terpaku pada pertanyaan kapan tepatnya Kim Jong-un akan menyerahkan tampuk kekuasaan, rakyat Korea Utara terus menundukkan kepala. Mereka dipaksa untuk tidak hanya menelan kelaparan di tengah kemewahan keluarga pemimpinnya, tetapi juga merelakan kebebasan sekecil apa pun—bahkan untuk sekadar mengatur bagaimana helai-helai rambut tumbuh di kepala mereka sendiri.

Di Pyongyang, masa depan tampaknya sudah ditulis. Dan masa depan itu, mengenakan jaket Dior, memegang senapan runduk, dengan rambut yang dilarang untuk ditiru oleh siapa pun.

Exit mobile version