INDONESIAONLINE – Danau Ranu Pani yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kembali menjadi perhatian. Volume airnya terlihat terus berkurang di tengah kemarau panjang, sementara persoalan sedimentasi masih membayangi danau tersebut.
Gambaran kondisi terkini Ranu Pani terlihat dalam video yang diunggah akun Instagram @Bramsky0412. Dalam rekaman tersebut, pengunggah memperkirakan luas badan air Ranu Pani kini bahkan tidak sampai 3 hektare.
Ia menyebut luas danau tersebut pada awalnya mencapai sekitar 8 hektare. Namun, kemarau panjang yang terjadi membuat area perairannya menyusut secara signifikan.
“Pada awalnya danau ini luasnya 8 hektare. Tapi saat ini, dengan keadaan kemarau yang sangat panjang ini, saya bisa memperkirakan bahwa danau ini mungkin luasnya kurang dari 3 hektare,” ujar pengunggah dalam video tersebut.
Pengunggah juga memperlihatkan perbedaan kondisi Ranu Pani dengan keadaan beberapa bulan sebelumnya. Menurut dia, permukaan air masih terlihat cukup tinggi ketika hujan terakhir turun sekitar Maret.
“Ketika terakhir hujan itu bulan Maret, itu airnya masih segini. Sekarang karena El Nino begitu panjang, maka kita lihat bahwa danau ini ngering, kering banget,” katanya.
Dalam video itu, sejumlah bagian danau yang telah mengering turut diperlihatkan. Pengunggah menilai sedimentasi di Ranu Pani sudah tergolong serius sehingga diperlukan penanganan untuk mengembalikan kondisi danau.
“Jadi, danau ini membutuhkan suatu perhatian yang sangat serius untuk menormalisasikan dan mengembalikan seperti keadaan semula,” ujarnya.
Ia pun meminta pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap kondisi Ranu Pani. Menurut dia, langkah normalisasi perlu segera dilakukan agar keberadaan danau tidak semakin terancam.
“Dan ini butuh banget perhatian dari pemerintah. Maka proyek normalisasi adalah urgent saat ini. Semoga kita tidak melihat danau ini hilang,” lanjutnya.
Sedimentasi Sudah Lama Jadi Persoalan
Masalah penyusutan dan pendangkalan Ranu Pani bukan persoalan baru. Danau yang terletak di Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, tersebut sebelumnya juga menghadapi persoalan sedimentasi yang menyebabkan kedalaman dan luas badan air berkurang.
Pada 2025, luas badan air Ranu Pani tercatat sekitar 3,4 hektare. Luasan tersebut lebih kecil dibandingkan sebelumnya yang mencapai sekitar 5,9 hektare.
Balai Besar TNBTS ketika itu telah melakukan sejumlah upaya pemulihan. Langkah yang ditempuh antara lain pengerukan material sedimen, pembangunan sediment trap, serta penanaman vegetasi di kawasan sempadan danau.
Sedimentasi di Ranu Pani salah satunya dipengaruhi erosi lahan pertanian yang berada di sekitar danau. Tanah yang terbawa aliran air kemudian masuk ke badan danau dan secara bertahap menyebabkan dasar perairan semakin dangkal.
Selain sedimentasi, keberadaan tumbuhan air juga menjadi persoalan. Ranu Pani pernah mengalami pertumbuhan kiambang atau Salvinia molesta dalam jumlah cukup luas. Kondisi tersebut turut memengaruhi permukaan badan air.
Persoalan tersebut juga telah tercatat dalam kajian JICA mengenai kawasan Ranu Pani. Kajian itu mencatat sedimentasi serta pertumbuhan Salvinia molesta yang berkaitan dengan aktivitas pertanian di sekitar danau.
Kemarau Panjang Turut Berpengaruh
Menyusutnya air Ranu Pani juga berlangsung bersamaan dengan kondisi kemarau yang cukup panjang. Berdasarkan catatan BMKG, September 2026 masih berada dalam kondisi atmosfer yang relatif kering.
Jawa menjadi salah satu wilayah yang diprakirakan mengalami curah hujan rendah pada periode tersebut. BMKG juga mencatat pengaruh El Nino masih cukup kuat sehingga pasokan kelembapan ke wilayah Indonesia berkurang.
Kondisi tersebut membuat cuaca kering masih berpotensi berlangsung dan turut memengaruhi ketersediaan air di sejumlah wilayah.
Ranu Pani merupakan salah satu danau yang berada di kawasan TNBTS. Keberadaannya tidak hanya memiliki fungsi ekologis bagi kawasan, tetapi juga berkaitan erat dengan aktivitas masyarakat yang tinggal di sekitar Desa Ranu Pani. (bn/hel)
