Lisbon resmi dinobatkan sebagai kota paling berwarna di dunia dengan 2,6 juta rona. Mengapa tata ruang visual ini gagal diikuti destinasi Indonesia?
INDONESIAONLINE – Bayangkan Anda berdiri di puncak bukit Miradouro da Senhora do Monte pada suatu pagi di musim semi. Di bawah sana, terhampar sebuah kanvas urban yang seolah dilukis oleh sapuan kuas raksasa yang mahir meramu rona.
Atap-atap terakota berwarna bata kemerahan berbaris rapi, memantulkan cahaya matahari ke arah dinding-dinding bangunan yang bersolek dalam balutan warna pastel: kuning mustard, merah muda pudar, hingga biru telur asin. Di celah-celah jalanan sempit berbatu, trem kecil berwarna kuning cerah merayap perlahan layaknya urat nadi yang menghidupkan kota.
Itulah Lisbon, ibu kota Portugal yang baru-saja menorehkan prestasi gemilang di panggung pariwisata global. Sebuah studi komprehensif yang dirilis oleh perusahaan asuransi perjalanan asal Irlandia, JustCover, secara resmi menobatkan Lisbon sebagai kota paling berwarna di dunia.
Gelar ini bukan sekadar klaim subyektif dari kacamata seorang pelancong puitis, melainkan hasil dari perhitungan matematis yang presisi. JustCover menganalisis 78 destinasi global menggunakan teknologi berbasis piksel termutakhir. Mereka membedah ratusan ribu foto lanskap kota tanpa filter (no-filter photography) untuk menghitung jumlah warna unik yang eksis secara organik. Hasilnya mengejutkan: perangkat lunak mereka mendeteksi lebih dari 2,6 juta rona warna yang berbeda di penjuru Lisbon.
Namun, di balik perayaan visual ini, terselip sebuah pertanyaan menggelitik bagi kita: dari 15 daftar kota paling berwarna di dunia yang dirilis, mengapa tidak ada satu pun kota dari Indonesia yang berhasil masuk? Padahal, Indonesia dikenal dengan proyek “Kampung Pelangi” yang sempat viral beberapa tahun silam. Untuk menjawabnya, kita harus membedah anatomi warna dari kota-kota pemenang.
Anatomi Rona Lisbon: Tragedi yang Melahirkan Keindahan
Warna-warni Lisbon bukanlah sebuah kebetulan tata kota modern, melainkan warisan sejarah yang lahir dari abu kehancuran. Berdasarkan catatan sejarah, pada 1 November 1755, Lisbon luluh lantak oleh gempa bumi berkekuatan diperkirakan 8,5 hingga 9,0 magnitudo, disusul tsunami raksasa dan kebakaran hebat. Tragedi ini menewaskan puluhan ribu jiwa dan menghancurkan 85 persen bangunan kota.
Dalam proses rekonstruksi yang dipimpin oleh Perdana Menteri Marquis of Pombal, arsitektur kota dirombak total (Pombaline architecture). Dinding-dinding bangunan baru sengaja dicat dengan warna-warna pastel yang cerah. Tujuannya bukan sekadar estetika, melainkan rekayasa psikologis untuk mengembalikan semangat warga yang trauma, sekaligus memantulkan cahaya matahari guna menerangi labirin jalanan sempit di kawasan seperti Alfama.
Selain cat pastel, identitas visual Lisbon dikunci oleh keberadaan Azulejos—seni keramik ubin tradisional yang menempel di fasad bangunan. Berdasarkan data dari Museu Nacional do Azulejo di Lisbon, tradisi ini dibawa oleh bangsa Moor (Arab) pada abad ke-15.
Kata Azulejo sendiri berasal dari bahasa Arab ‘Zellige’ yang berarti “batu poles”. Keramik bermotif rumit dengan dominasi warna biru, putih, dan kuning ini awalnya digunakan untuk melindungi dinding dari udara lembap Samudra Atlantik, sebelum akhirnya berevolusi menjadi kanvas penceritaan sejarah dan budaya Portugal.
Kontras warna ini semakin disempurnakan oleh hadirnya armada Carris (perusahaan transportasi publik Lisbon) sejak 1873. Trem nomor 28 yang berwarna kuning ikonik menjadi elemen bergerak yang memecah keheningan dinding-dinding pastel, menciptakan komposisi fotografi yang nyaris mustahil gagal diabadikan oleh kamera wisatawan.
Asia Membuntuti: Kuala Lumpur dan Sensasi Kontras Visual
Jika Lisbon menang karena harmoni historisnya, Kuala Lumpur, Malaysia, yang menduduki peringkat kedua, menang karena kejutan visual yang kontras. Ibu kota negeri jiran ini adalah anomali estetika yang menawan. Di satu sudut, mata kita disuguhi pantulan perak metalik dari fasad kaca Menara Kembar Petronas yang futuristik. Namun, hanya beberapa kilometer dari sana, warna cokelat kayu dari rumah-rumah panggung tradisional di Kampung Baru masih berdiri kokoh.
Penumbang poin terbesar bagi Kuala Lumpur dalam analisis JustCover adalah eskalasi warna di luar pusat kotanya, yakni Batu Caves. Pada Agustus 2018, pengelola kuil Hindu tersebut melakukan renovasi radikal yang menuai decak kagum sekaligus kontroversi.
Sebanyak 272 anak tangga menuju gua dicat dengan gradasi warna pelangi yang sangat mencolok. Menurut laporan media lokal Malaysia kala itu, proyek ini menghabiskan lebih dari 300 liter cat khusus. Hasilnya, piksel warna Kuala Lumpur dalam algoritma JustCover melonjak drastis, menjadikannya destinasi Asia paling berwarna yang mengalahkan Tokyo maupun Bangkok.
Dominasi Iberia dan Hegemoni Amerika Latin
Posisi ketiga ditempati oleh Porto, tetangga Lisbon di utara Portugal, yang mempertegas bahwa Semenanjung Iberia memiliki cetak biru tata ruang visual terbaik di dunia. Porto menawarkan spektrum warna romantis dari deretan rumah di tepi Sungai Douro, berpadu dengan jembatan besi Dom Luís I karya murid Gustave Eiffel.
Menariknya, peringkat sepuluh besar sangat didominasi oleh kota-kota di Amerika Latin dan Karibia. Rio de Janeiro (Brasil) berada di peringkat kelima dengan deteksi 2,3 juta warna. Identitas warna Rio tidak hanya lahir dari lanskap alam perpaduan biru laut dan hijau Pegunungan Tijuca, tetapi juga dari Escadaria Selarón.
Tangga berjumlah 215 anak tangga sepanjang 125 meter ini adalah mahakarya seniman Cile, Jorge Selarón, yang menempelkan lebih dari 2.000 ubin keramik yang dikumpulkan dari 60 negara, didominasi warna kuning, biru, dan hijau yang merepresentasikan bendera Brasil.
Selain Rio, ada Cartagena (Kolombia) di posisi keempat dengan arsitektur kolonialnya, Guanajuato (Meksiko) di posisi keenam, Havana (Kuba) di posisi ketujuh, dan Medellín (Kolombia) di posisi kesepuluh.
Warna di Amerika Latin sering kali menjadi simbol perlawanan terhadap kemiskinan dan penanda kebangkitan komunitas, seperti yang terjadi di Comuna 13, Medellín, yang berubah dari sarang kartel narkoba menjadi galeri mural terbuka paling berwarna di Amerika Selatan.
Berikut adalah daftar lengkap 15 kota paling berwarna di dunia versi studi JustCover:
- Lisbon, Portugal
- Kuala Lumpur, Malaysia
- Porto, Portugal
- Cartagena, Kolombia
- Rio de Janeiro, Brasil
- Guanajuato, Meksiko
- Havana, Kuba
- Hanoi, Vietnam
- New Orleans, Amerika Serikat
- Medellín, Kolombia
- Dubrovnik, Kroasia
- Singapura
- Antigua, Guatemala
- Barcelona, Spanyol
- New York City, Amerika Serikat
Mengapa Indonesia Absen dari Radar Global?
Melihat daftar di atas, absennya kota-kota di Indonesia memunculkan ruang diskursus yang mendalam. Padahal, Indonesia tidak kekurangan inisiatif visual. Kita memiliki Jodipan di Malang, Jawa Timur, yang pada 2016 disulap oleh inisiatif mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang dari kampung kumuh menjadi “Kampung Warna-Warni”.
Kita juga memiliki Kampung Pelangi di Randusari, Semarang, yang diinisiasi pemerintah daerah pada 2017 dengan anggaran ratusan juta rupiah.
Lantas, di mana letak kelemahannya? Pertama, metodologi JustCover mengukur lanskap kota secara makro (keseluruhan), bukan mikro (kampung/blok tertentu). Jodipan dan Randusari adalah entitas kecil yang terkurung di tengah lanskap tata kota Indonesia yang—harus diakui—cenderung monokrom, didominasi oleh warna abu-abu beton, genteng tanah liat yang kusam, dan tata letak kabel udara yang semrawut.
Kedua, warna-warni di destinasi seperti Lisbon, Guanajuato, dan Cartagena bersifat organik, historis, dan memiliki regulasi cagar budaya yang ketat. Di Lisbon, warga tidak bisa sembarangan mengubah warna fasad bangunan tanpa izin otoritas pelestarian sejarah.
Sementara di Indonesia, pewarnaan kota sering kali bersifat proyek reaksioner sesaat demi menggaet tren “Instagrammable”, tanpa dibarengi perawatan jangka panjang dan landasan historis yang kuat. Cat di kampung pelangi kita cepat memudar tergerus cuaca tropis, dan karena tidak memiliki akar budaya (cultural roots) layaknya Azulejos, nilai estetikanya pun ikut luntur.
Ketiga, jejak digital global. Studi ini menggunakan algoritma pencarian foto tanpa filter di internet. Kota seperti Hanoi (#8) dan Singapura (#12) memiliki kampanye pemasaran pariwisata visual yang sangat masif di tingkat global. Fotografi jalanan (street photography) di kawasan Old Quarter Hanoi atau Peranakan Houses di Joo Chiat Singapura sangat mendominasi galeri fotografer internasional, memberikan data piksel yang cukup untuk dianalisis oleh mesin pencari.
Lebih dari Sekadar Pigmen Cat
Studi JustCover ini pada akhirnya memberikan tamparan sekaligus pelajaran berharga bagi perencana kota dan kementerian pariwisata di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Berdasarkan riset psikologi pariwisata yang dipublikasikan dalam Journal of Travel Research, estetika visual kota mempengaruhi keputusan wisatawan dalam memilih destinasi hingga 60 persen di era media sosial saat ini.
Warna bukan sekadar pigmen cat yang disapukan ke dinding. Di Lisbon, warna adalah monumen kebangkitan dari bencana. Di Rio de Janeiro, ia adalah nyanyian kebanggaan nasional. Dan di Kuala Lumpur, ia adalah perayaan keberagaman budaya.
Jika Indonesia ingin menempatkan kotanya di peta visual dunia, pendekatan kita harus bergeser. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan proyek melukis kampung kumuh dengan cat sisa yang bersifat sporadis.
Diperlukan sebuah cetak biru tata ruang (urban planning) yang mengintegrasikan kearifan lokal, regulasi estetika fasad bangunan, penjagaan kawasan cagar budaya, serta komitmen merawat wajah kota secara berkelanjutan. Barangkali, suatu hari nanti, bukan hanya alam Bali atau Raja Ampat yang diakui dunia, tetapi juga harmoni warna dari sudut-sudut jalanan kota di Nusantara.
