Beranda

Sesar Kendeng dan Isu Gempa M 7 di Jatim, Ini Penjelasan BMKG

Ilustrasi gempa (istock)

INDONESIAONLINE – BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika)  meminta masyarakat Jawa Timur tetap tenang menanggapi viralnya informasi di media sosial yang menyebut Sesar Kendeng di Bojonegoro berpotensi memicu gempa hingga magnitudo 7.

Menurut Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, angka M 7 tersebut bukan prediksi pasti, melainkan skenario terburuk dalam pemodelan ilmiah dari Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN). Ia menegaskan bahwa informasi itu tidak perlu disikapi dengan kepanikan, melainkan sebagai pengingat untuk memperkuat mitigasi bencana.

Ricko menjelaskan bahwa dalam kajian PuSGeN 2024, Sesar Kendeng yang kini digabung dengan Sesar Baribisa dan Sesar Semarang menjadi Java Back-arc Thrust memiliki potensi magnitudo skenario antara 6 hingga 7 pada kondisi terburuk tiap segmennya. Namun, hingga kini belum ada teknologi yang mampu memprediksi waktu, lokasi, dan kekuatan gempa secara tepat sebelum kejadian.

Secara geologi, Sesar Kendeng merupakan patahan aktif dengan laju pergeseran sekitar 5 mm per tahun dan siklus gempa yang sangat panjang, bisa mencapai ratusan tahun. Karena itu, gempa besar yang pernah terjadi di jalur ini lebih banyak tercatat dalam sejarah, seperti di Mojokerto–Jombang (1836–1837), Madiun (1862 dan 1915), hingga Surabaya (1867).

Dalam pemantauan beberapa tahun terakhir, aktivitas sesar ini masih didominasi gempa kecil hingga menengah dengan magnitudo sekitar 4–5, yang dianggap sebagai aktivitas normal pelepasan energi.

Sesar Kendeng sendiri membentang sekitar 300 km di utara Pulau Jawa, dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur, melintasi sejumlah wilayah seperti Semarang, Blora, Madiun, Jombang, Bojonegoro, Lamongan, Sidoarjo, hingga Surabaya.

“Intinya, BMKG menekankan bahwa potensi gempa tidak sama dengan kepastian kejadian, sehingga fokus utama masyarakat adalah meningkatkan kesiapsiagaan, bukan ketakutan,” ujar Ricko. (ars/hel)

 

Exit mobile version