Beranda

Sudharnoto: Pencipta Garuda Pancasila yang Dihancurkan Orde Baru

Sudharnoto: Pencipta Garuda Pancasila yang Dihancurkan Orde Baru
Repro foto Sudharnoto, seniman Lekra pencipta lagu Garuda Pancasila (Ist/io)

Pencipta Garuda Pancasila Sudharnoto, eks pimpinan Lekra dipenjara Orde Baru pasca 1965, karyanya abadi hingga kini.

INDONESIAONLINE – Saat lagu wajib nasional Garuda Pancasila menggema di setiap upacara kemerdekaan 17 Agustus, publik lebih familiar dengan Sultan Hamid II, perancang lambang negara berwujud elang tersebut.

Namun, sedikit yang tahu bahwa pencipta lagu pengiringnya, Sudharnoto, menghabiskan belasan tahun hidupnya sebagai tahanan politik yang dipenjara rezim Orde Baru tanpa diadili. Nama Sudharnoto sengaja dihilangkan dari buku pelajaran sejarah dan seni sekolah, karena kaitannya dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Kabar tentang sang pencipta lagu pertama kali terekam dalam buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982 (1981:732) yang mencatat bahwa Garuda Pancasila digubah pada tahun 1956.

“Dialah penggubah lagu ‘Mars Pancasila’ bersama Prahar, atau yang umum mengenal [lagu itu] sebagai ‘Garuda Pancasila’ (1956),” tulis Hersri Setiawan dalam Kamus Gestok (2003:274).

Lagu ini pun kemudian menjadi lagu wajib nasional yang pantang dipelesetkan, bahkan musisi Harry Roesli, cucu penulis Siti Nurbaya Marah Roesli, pernah akan diperkarakan karena mempelesetkan lagu tersebut pasca Orde Baru tumbang.

Menurut Subagio Sastrowardoyo, yang berseberangan dengan PKI dan Lekra, dalam Bakat Alam dan Intelektualisme (1983:70) Sudharnoto adalah tokoh musik di Lekra bersama Amir Pasaribu yang menggubah lagu “Andhika Bhayangkari”, yang dipesan ABRI dan masih dipakai lagunya setelah ABRI berganti nama.

Lekra sendiri merupakan organisasi sayap kebudayaan PKI yang berdiri pada 17 Agustus 1950, dan tumbuh subur sebelum Orde Baru lahir.

Dari Musik Keraton ke Pencipta Lagu Wajib Nasional

Sudharnoto lahir di Kendal, Jawa Tengah, pada 24 Oktober 1925, dari keluarga dokter Keraton Mangkunegaran. Ayahnya hobi memainkan seruling, biola, dan gitar di waktu luang, sementara ibunya piawai bermain akordeon.

Sejak kecil, telinga Sudharnoto sudah akrab dengan lagu-lagu klasik dan keroncong, karena kerap bergaul dengan seniman dari Solo.

Ia belajar not balok dari musisi keroncong Maladi, yang kelak menjabat Menteri Penerangan (1959-1962), serta Daldjono, pencipta lagu legendaris “Bintang Kecil”.

Untuk teknik aransemen, ia belajar dari Sutedjo dan RAJ Sudjasmin. Sudharnoto juga menjalin pertemanan dengan musisi Belanda Jos Cleber, serta mengagumi karya Ismail Marzuki.

“Karya Bang Mail padat kata-katanya,” ujarnya.

Ia bahkan pernah merilis kaset rekaman berjudul Mengenang Ismail Marzuki sebagai bentuk penghormatan.

Tak seperti banyak musisi besar Indonesia, Sudharnoto tidak pernah menempuh pendidikan musik formal. Ia mulai mencipta lagu saat masih belasan tahun, dengan karya pertamanya berjudul “Bunga Sakura”. Sejumlah lagu populer lainnya yang ia ciptakan antara lain “Mars Dharma Wanita”, “Setitik Kasih”, dan “Di Tokyo Kita kan Bertemu”. Namun, karya terbesarnya yang abadi hingga kini adalah Garuda Pancasila.

Pada 1952, Sudharnoto diangkat sebagai Kepala Seksi Musik Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta, menggantikan Maladi yang beralih ke politik. Ia juga mengisi acara rutin Hammond Organ Sudharnoto di RRI, yang sangat populer di kalangan pendengar radio era 1950-an.

Arsip RRI mencatat bahwa Sudharnoto mampu mengaransemen musik orkestra secara spontan tanpa menulis notasi terlebih dahulu, keahlian yang jarang dimiliki musisi zaman itu.

Hidup Porak-poranda Pasca 1965

Setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965, Lekra resmi dibubarkan dan seluruh anggotanya diburu rezim Orde Baru. Sudharnoto yang tercatat sebagai anggota pimpinan pusat Lekra ikut ditahan sebagai Tahanan Politik (Tapol) di Rumah Tahanan Khusus (RTC) Salemba.

Tak cukup hanya dipenjara, ia juga kehilangan pekerjaannya. Pada tahun 1965, seperti dicatat Hersri, Sudharnoto dipecat dari Radio Republik Indonesia (RRI), tempat dia menjadi Kepala Seksi Musik sejak 1952 dan juga jadi pengisi acara Hammond Organ Sudharnoto.

Surat pemecatan RRI Nomor 123/RRI/1965 tertanggal 12 Oktober 1965 mencatat alasan pemecatan adalah “afiliasi dengan organisasi terlarang”.

Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mencatat bahwa Sudharnoto ditahan tanpa diadili selama 8 tahun, hingga akhirnya dibebaskan pada Maret 1974. Sebagai bekas tapol, ia dilarang bekerja di instansi pemerintah atau perusahaan formal.

Untuk menghidupi diri, ia harus memulai dari bawah: menjadi penyalur es batu di Petojo, Jakarta Pusat, dan supir taksi. Taksinya sempat menjadi langganan hostess yang bekerja di klub malam LCC, salah satu tempat hiburan paling populer di Jakarta pada 1970-an.

Di sela kesibukannya sebagai supir taksi, Sudharnoto tetap berkarya. Ia menjadi pemain organ di klub malam LCC sejak 1969, dan pindah ke restoran Shangri-La Jakarta pada 1978. Hasratnya untuk menulis lagu tak pernah padam.

Semasa jadi pemain organ di Shangri-La, Sudharnoto diketahui “…selalu menyelipkan kertas di sakunya. Ilham yang muncul langsung dicorat-coret notnya.” Tamu tetap Shangri-La mengatakan bahwa Sudharnoto sering memainkan lagu Garuda Pancasila secara instrumental di sela lagu pop barat, sebagai bentuk kerinduan akan karyanya yang sekarang menjadi milik negara.

Meski rusak nama, Sudharnoto tetap dipercaya orang-orang dunia perfilman untuk menggarap ilustrasi musik di beberapa film, pekerjaan yang juga pernah dia lakoni di zaman Sukarno jadi Presiden. Ilustrasi musik garapannya antara lain ada di Juara Sepatu Roda (1959)—yang merupakan film pertama Wim Umboh–dan Kabut Sutra Ungu (1980)—yang membuatnya dapat Piala Citra.

Wim Umboh pernah bercerita pada majalah Tempo edisi 1979 bahwa Sudharnoto mengerjakan ilustrasi musik film perdananya secara gratis, karena percaya pada bakat sineas muda Indonesia. Piala Citra 1980 untuk kategori Ilustrasi Musik Terbaik resmi tercatat atas nama Sudharnoto dalam arsip Festival Film Indonesia (FFI).

Karya Abadi di Balik Nama yang Dicemari

Meski hidupnya dihancurkan oleh Orde Baru, Sudharnoto tetap menaruh perhatian terhadap perkembangan musik di Indonesia. Ia merasa prihatin karena lagu-lagu mars tidak berkembang di era Orde Baru. Padahal orde militer butuh lebih banyak lagu-lagu mars.

Secara umum, menurut Sudharnoto, lagu-lagu yang berkembang di zaman Orde Baru adalah lagu-lagu tentang gagalnya percintaan. Surat yang ia tulis pada harian Kompas pada 1985, yang tidak pernah diterbitkan, menyebutkan bahwa “bangsa ini butuh lagu mars yang menggelorakan semangat persatuan, bukan lagu cinta yang membuat kita lupa berjuang”.

Sudharnoto tutup usia pada 11 Januari 2000. Meski nama baiknya dicemari noktah bikinan penguasa, namanya akan tetap dikenang sebagai pencipta lagu “Garuda Pancasila”.

Orde Baru bisa membuat namanya rusak, membikin hidupnya jadi ruwet, tapi mereka tak bisa merampas “Garuda Pancasila” darinya. Dan terbukti lagu itu jauh lebih kuat dari rezim yang memenjarakan Sudharnoto. Orde Baru ambruk pada 1998, dan lagu “Garuda Pancasila” masih terus dikumandangkan hingga hari ini.

Pada 2005, FFI menetapkan penghargaan Ilustrasi Musik Terbaik berganti nama menjadi “Anugerah Sudharnoto” sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya di dunia musik Indonesia. Hingga 2026, lagu Garuda Pancasila masih menjadi lagu wajib dalam setiap upacara negara, sesuai Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2022 tentang Lambang dan Lagu Kebangsaan.

Nama Sudharnoto mungkin pernah dihapus dari buku sejarah, namun karyanya akan terus hidup selama Indonesia masih berdiri.

Exit mobile version