Beranda

Syarifah Nawawi: Guru Bangsa yang Terlupakan

Kisah Syarifah Nawawi melampaui romansa Tan Malaka. Ia pelopor pendidikan perempuan yang meninggalkan jejak penting dalam sejarah Indonesia (Ist)

INDONESIAONLINE – Sesudah perceraian itu, hidup Syarifah Nawawi berubah arah. Ia tidak lagi menjadi Raden Ayu Bandung yang mendampingi seorang bupati dalam jamuan resmi pemerintah kolonial. Ia kembali menjadi dirinya sendiri: seorang pendidik yang percaya bahwa ilmu pengetahuan adalah jalan paling sunyi sekaligus paling kuat untuk mengubah masa depan.

Pilihan itu tidak mudah.

Pada dekade 1920-an, perceraian masih menjadi stigma berat bagi perempuan. Banyak perempuan kehilangan ruang sosial setelah berpisah dari suami, terlebih jika sebelumnya hidup di lingkungan bangsawan. Namun Syarifah tidak memilih tenggelam dalam kesedihan. Ia justru kembali ke dunia yang sejak muda membentuk wataknya: sekolah.

Mulai 1927, ia dipercaya memimpin de Meisjes Vervolg School, sekolah lanjutan perempuan yang didirikan pemerintah kolonial di Bukittinggi. Selama sekitar satu dekade, hingga 1937, ia mengabdikan diri mendidik generasi muda perempuan Minangkabau.

Perannya menjadi penting pada masa ketika pendidikan perempuan mulai berkembang pesat di Sumatra Barat. Wilayah ini sejak awal abad ke-20 dikenal sebagai salah satu pusat kebangkitan intelektual bumiputra.

Bersamaan dengan munculnya tokoh-tokoh seperti Rasuna Said, Rohana Kudus, dan Rahmah El Yunusiyah, pendidikan perempuan berkembang menjadi gerakan sosial yang melahirkan banyak pemimpin perempuan Indonesia.

Jika Rohana Kudus dikenal sebagai pelopor jurnalisme perempuan melalui Soenting Melajoe, sedangkan Rahmah El Yunusiyah mendirikan Diniyah Puteri di Padang Panjang yang kelak menjadi sekolah perempuan Islam pertama di Indonesia, maka Syarifah Nawawi menempuh jalan berbeda. Ia memilih bekerja dari ruang-ruang kelas, membentuk murid-muridnya melalui pendidikan formal.

Perjuangan itu berlangsung dalam kesunyian. Ia tidak banyak berpidato di depan massa, tetapi puluhan bahkan ratusan murid perempuan mengenangnya sebagai guru yang disiplin sekaligus penuh kasih.

Kesedihan kembali datang berturut-turut. Ayahnya, Engku Nawawi Sutan Makmur, wafat pada 1928. Sembilan tahun kemudian ibunya menyusul. Dua sosok yang selama ini menjadi penopang hidupnya pergi satu per satu.

Setelah kehilangan kedua orang tuanya, Syarifah memutuskan pindah ke Batavia bersama putri bungsunya. Kota yang dahulu menjadi tempatnya belajar kini kembali menjadi rumah baru.

Mula-mula ia tinggal di kawasan Kwitang. Tidak lama kemudian ia menetap di Meester Cornelis—kini Jatinegara—dan dipercaya memimpin Sekolah Kemajuan Istri, lembaga pendidikan milik Yayasan Kartini yang dipimpin Siti Katidjah, kakak perempuan diplomat dan tokoh Proklamasi Achmad Soebardjo.

Kepercayaan itu menunjukkan bahwa reputasi Syarifah sebagai pendidik telah dikenal luas, jauh melampaui tanah kelahirannya di Minangkabau.

Di luar sekolah, ia juga aktif dalam organisasi perempuan. Berbagai sumber sejarah mencatat keterlibatannya dalam Serikat Kaum Ibu Sumatera (SKIS), organisasi yang berkembang pada masa kebangkitan nasional dan menjadi wadah bagi perempuan terdidik untuk memperjuangkan akses pendidikan serta perbaikan kedudukan perempuan dalam masyarakat.

Aktivismenya tidak berhenti di bidang pendidikan. Surat kabar De Sumatra Post edisi 10 Maret 1941 mencatat nama Syarifah Nawawi sebagai anggota Komisi Inspeksi Film Hindia Belanda. Keberadaannya di komisi tersebut menunjukkan bahwa pemerintah kolonial mengakui kapasitas intelektualnya dalam menilai isi film yang beredar di masyarakat—sebuah posisi yang pada masa itu sangat jarang diisi perempuan bumiputra.

Dari Pendudukan Jepang hingga Republik

Ketika Jepang mengambil alih Hindia Belanda pada 1942, kehidupan masyarakat berubah drastis. Banyak sekolah ditutup atau mengalami perubahan kurikulum. Para guru dipaksa menyesuaikan diri dengan pemerintahan militer.

Syarifah memilih mengundurkan diri dari jabatan kepala sekolah. Namun ia tidak berhenti bekerja.

Seperti banyak perempuan pada masa itu, ia bergabung dengan Fujinkai, organisasi perempuan bentukan pemerintah Jepang. Meski organisasi tersebut dibentuk untuk mendukung kepentingan perang Asia Timur Raya, tidak sedikit perempuan Indonesia yang memanfaatkannya sebagai ruang membangun jaringan sosial dan mengembangkan kemampuan organisasi.

Pada masa pendudukan pula, beberapa sahabat Belandanya menyarankan agar ia pindah ke Jalan Pegangsaan Barat Nomor 16. Langkah itu dilakukan untuk menghindari kemungkinan rumah dan harta bendanya dirampas tentara Jepang.

Keputusan tersebut tanpa disadari menempatkan Syarifah di kawasan yang kelak menjadi salah satu pusat sejarah Indonesia. Tidak jauh dari tempat tinggalnya berdiri rumah Soekarno di Pegangsaan Timur Nomor 56, lokasi pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Sesudah Indonesia merdeka, Syarifah tidak larut dalam euforia politik. Ia kembali memilih jalan yang paling dikenalnya: membangun manusia melalui pendidikan.

Pada Desember 1945, ia ikut mendirikan Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari), organisasi yang lahir dari semangat menyatukan berbagai kelompok perempuan pascakemerdekaan. Perwari kemudian berkembang menjadi salah satu organisasi perempuan terbesar pada masa awal Republik dan berperan dalam pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan perempuan.

Mien Soedarpo menggambarkan bagaimana ibunya tidak pernah benar-benar pensiun dari dunia pendidikan. “Di samping keterpautan organisasi, ia meneruskan kegiatan pendidikannya dan memberi pengajaran kepada anak perempuan serta wanita muda yang tidak mempunyai biaya pendidikan. Mula-mula, ibu memakai sebuah kamar di rumah Ny. Abdoerachman untuk kegiatan pendidikan ini, kemudian ia memakai rumahnya sendiri.”

Kalimat itu memperlihatkan watak Syarifah yang sesungguhnya. Bahkan ketika tidak lagi memimpin sekolah, rumah pribadinya berubah menjadi ruang belajar bagi perempuan-perempuan yang tidak mampu memperoleh pendidikan formal.

Baginya, sekolah bukan hanya gedung. Sekolah adalah tempat di mana seseorang memperoleh kesempatan untuk mengubah hidupnya.

Atas pengabdiannya, berbagai penghargaan diberikan kepadanya. Potret dirinya masih terpajang di Panti Trisula Perwari, menjadi pengingat bahwa organisasi itu pernah memiliki seorang pendidik yang bekerja tanpa banyak mencari sorotan.

Penghormatan juga datang dari dunia sastra. Sariamin Ismail atau Selasih, novelis perempuan pertama Indonesia dari angkatan Pujangga Baru, menulis puisi “Beringin Sakti” untuk mengenang keteguhan Syarifah. Pilihan metafora “beringin” terasa tepat: pohon yang akarnya menghunjam dalam, batangnya kokoh, dan menaungi siapa pun yang datang berteduh.

Memasuki usia senja, kesehatan Syarifah mulai menurun. Namun kepada anak-anaknya ia meninggalkan satu pesan sederhana. Ia tidak ingin dirawat di rumah sakit. Ia ingin mengembuskan napas terakhir di rumahnya sendiri, di antara orang-orang yang dicintainya.

Takdir seolah menutup hidupnya dengan lingkaran yang nyaris puitis.

Pada 17 April 1988, tepat 64 tahun setelah telegram perceraian yang mengubah seluruh jalan hidupnya diterima di Bukittinggi, Syarifah Nawawi wafat dalam usia 92 tahun. Ia dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Tanggal itu seakan menjadi simbol bahwa luka yang dahulu pernah mengguncang hidupnya akhirnya larut dalam perjalanan waktu.

Sejarah memang lama mengingatnya sebagai perempuan yang dua kali menolak cinta Tan Malaka. Akan tetapi, pembacaan yang lebih jernih menunjukkan hal berbeda. Tan Malaka adalah bab penting dalam hidup Syarifah, tetapi bukan keseluruhan hidupnya.

Warisan terbesar Syarifah bukanlah penolakan terhadap seorang revolusioner, melainkan keberhasilannya membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk memperoleh pendidikan, memimpin lembaga pendidikan, dan mengambil peran dalam ruang publik pada masa ketika kesempatan itu masih sangat terbatas.

Di situlah sejarah sesungguhnya menempatkan Syarifah Nawawi: bukan di tepian kisah Tan Malaka, melainkan berdiri tegak sebagai pelopor pendidikan perempuan yang turut menulis perjalanan bangsa dengan pena, ruang kelas, dan keteguhan yang nyaris tak pernah meminta tepuk tangan

 

Exit mobile version