Kisah Syarifah Nawawi melampaui romansa Tan Malaka. Ia pelopor pendidikan perempuan yang meninggalkan jejak penting dalam sejarah Indonesia.
INDONESIAONLINE – Sejarah kerap mengabadikan tokoh besar melalui pidato, revolusi, atau peperangan. Namun, ada pula kisah yang justru hidup dari sebuah penolakan.
Di balik perjalanan panjang Tan Malaka—tokoh revolusioner yang kemudian dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional—tersimpan nama seorang perempuan yang selama puluhan tahun nyaris hanya dikenang sebagai “cinta pertama yang tak pernah dimiliki”. Perempuan itu adalah Syarifah Nawawi.
Padahal, hidup Syarifah jauh lebih luas daripada sekadar kisah cinta yang kandas. Ia merupakan salah satu perempuan Minangkabau paling terdidik pada awal abad ke-20, pelopor pendidikan perempuan, pemimpin sekolah, aktivis organisasi wanita, hingga tokoh yang ikut mewarnai perjalanan emansipasi perempuan Indonesia pada masa kolonial, pendudukan Jepang, dan awal kemerdekaan.
Ironisnya, sejarah lebih sering menempatkannya sebagai pelengkap biografi Tan Malaka daripada tokoh utama yang memiliki jejak perjuangan sendiri.
Kisah keduanya bermula pada Juni 1912. Di Pandan Gadang, Sumatra Barat, seorang pemuda bernama Ibrahim menerima gelar adat Datuk Tan Malaka. Gelar itu kemudian melekat sepanjang hidupnya hingga menjadi nama yang dikenal dalam sejarah Indonesia.
Upacara adat sebenarnya dirancang menjadi dua peristiwa penting sekaligus: pemberian gelar dan pertunangan. Namun prosesi kedua tidak pernah terjadi. Tan Malaka menolak rencana tersebut.
Menurut sejarawan Harry A. Poeze, penolakan itu bukan tanpa alasan. “Menurut perkiraan kawan-kawannya, Tan Malaka tidak mau bertunangan karena ia [hanya] mau kawin dengan satu-satunya murid perempuan di sekolah guru, yakni Syarifah Nawawi,” tulis Harry A. Poeze dalam Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1897-1925.
Perempuan yang dimaksud memang bukan sosok biasa. Di sekolah guru Kweekschool Fort de Kock—yang kelak dikenal sebagai Sekolah Raja Bukittinggi—Syarifah merupakan satu-satunya murid perempuan di angkatannya. Dalam lingkungan pendidikan kolonial yang hampir seluruhnya didominasi laki-laki, keberadaannya menjadi pengecualian.
Tan Malaka jatuh hati.
Perasaan itu tidak berhenti ketika keduanya berpisah. Saat melanjutkan pendidikan di Rijkskweekschool Haarlem, Belanda, Tan Malaka berkali-kali mengirimkan surat cinta kepada Syarifah.
Tidak satu pun memperoleh balasan.
Puluhan tahun kemudian, Harry A. Poeze menemui Syarifah untuk mencari jawaban yang selama ini menjadi tanda tanya banyak orang. Jawabannya singkat.
“Tan Malaka? Hmm, dia seorang pemuda yang aneh.”
Kalimat pendek itu menjadi satu-satunya penjelasan yang pernah diberikan perempuan tersebut mengenai lelaki yang kemudian dikenang sebagai “Bapak Republik”.
Namun sesungguhnya, pilihan hidup Syarifah bukan didorong oleh kisah asmara, melainkan oleh cita-cita yang sejak kecil telah ditanamkan keluarganya: pendidikan.
Anak Guru yang Melampaui Zamannya
Syarifah Nawawi lahir di Bukittinggi pada 1896, ketika pendidikan modern bagi perempuan bumiputra masih menjadi kemewahan yang hanya dapat diakses segelintir keluarga.
Ayahnya, Engku Nawawi Sutan Makmur, merupakan guru di Kweekschool Bukittinggi sekaligus salah satu intelektual Minangkabau yang memiliki peran penting dalam perkembangan bahasa Melayu modern.
Bersama Muhammad Taib Sutan Ibrahim, Engku Nawawi ikut menyusun Ejaan van Ophuijsen yang mulai diberlakukan pemerintah kolonial pada 1901. Sistem ejaan tersebut menjadi tonggak penting perkembangan bahasa Melayu tulis dan kemudian menjadi fondasi lahirnya bahasa Indonesia modern sebelum disempurnakan melalui Ejaan Soewandi dan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
Kesadaran akan pentingnya pendidikan membuat Engku Nawawi memperlakukan anak-anak perempuannya berbeda dibanding kebiasaan masyarakat ketika itu.
Pada awal abad ke-20, sebagian besar perempuan Minangkabau masih dipersiapkan untuk menjalani kehidupan rumah tangga meskipun adat Minangkabau menganut sistem matrilineal. Kesempatan mengenyam pendidikan Barat masih sangat terbatas.
Syarifah justru dikirim belajar di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar berbahasa Belanda yang umumnya diperuntukkan bagi anak-anak Eropa dan kalangan elite bumiputra. Setelah lulus pada 1907, ia melanjutkan pendidikan di Kweekschool tempat ayahnya mengajar. Dari sekitar 75 siswa, hanya ada satu perempuan.
Syarifah.
Keberaniannya menembus dunia pendidikan kolonial menunjukkan perubahan besar yang sedang berlangsung di Minangkabau. Awal abad ke-20 menjadi masa ketika gerakan pembaruan Islam, modernisasi pendidikan, serta kebangkitan kaum intelektual mulai membuka ruang bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan formal.
Sejarawan Taufik Abdullah dalam berbagai kajiannya mengenai Minangkabau menyebut kawasan ini sebagai salah satu pusat lahirnya elite terdidik bumiputra yang kelak memainkan peran penting dalam pergerakan nasional Indonesia. Syarifah termasuk bagian dari generasi tersebut.
Setelah menyelesaikan pendidikan guru, ayahnya kembali mengambil keputusan yang tidak lazim. Sekitar 1914, Syarifah bersama adiknya, Syamsiar, dikirim ke Batavia untuk melanjutkan pendidikan di Salemba Kostschool, sebuah sekolah Kristen berasrama.
Langkah itu membuatnya dikenal sebagai salah satu perempuan Minangkabau pertama yang menjalani pendidikan penuh dengan sistem sekolah Eropa. Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap perempuan, pendidikan, dan kebebasan berpikir.
Di Batavia pula jalan hidupnya berubah secara tak terduga. Melalui sahabatnya, seorang perempuan Cianjur bernama Tjoetjoe, ia diperkenalkan kepada Bupati Cianjur, R.A.A. Wiranatakusumah V. Pertemuan yang semula berlangsung sebagai kunjungan persahabatan justru membuka babak baru dalam hidupnya.
Menjadi Raden Ayu Bandung, Kehilangan Kebebasan
Pertemuan di Cianjur yang semula berlangsung tanpa rencana perlahan berubah menjadi kisah yang menentukan arah hidup Syarifah Nawawi. Di rumah dinas Bupati Cianjur, Raden Adipati Aria Wiranatakusumah V—bangsawan Sunda yang kelak dikenal sebagai salah satu tokoh penting administrasi Hindia Belanda dan kemudian Republik Indonesia—terpikat kepada perempuan muda asal Minangkabau itu.
Usia keduanya terpaut cukup jauh. Ketika itu Wiranatakusumah telah berkeluarga dan memiliki anak. Latar belakang budaya mereka pun berbeda. Syarifah tumbuh dalam lingkungan keluarga guru yang menjunjung pendidikan modern, sementara Wiranatakusumah hidup dalam tradisi aristokrasi Sunda yang masih kuat mempertahankan tata kehidupan kaum menak.
Perbedaan itulah yang mula-mula membuat Syarifah ragu.
Dalam catatan hariannya yang kemudian dikutip putri bungsunya, Mien Soedarpo, ia mengakui perhatian sang bupati justru membuat pikirannya tidak tenang.
“Pikirannya terganggu dan terkacau oleh perhatian pria ini, ia jauh lebih tua, anggota ningrat Sunda […] Anaknya telah lima orang, seorang putra dari perkawinannya yang pertama dan seorang putra serta tiga putri dari perkawinannya yang kedua.”
Di balik keraguan itu tersimpan kegelisahan yang lebih besar. Sebagai perempuan yang telah mengecap pendidikan Barat, Syarifah memendam keinginan untuk terus mengembangkan diri melalui dunia pendidikan. Ia memahami bahwa menjadi istri seorang bupati berarti memasuki kehidupan yang diatur oleh tata krama istana kabupaten, penuh protokol, sekaligus membatasi ruang geraknya.
Namun sejarah memilih jalan lain.
Pada Mei 1916, Syarifah menerima pinangan Wiranatakusumah V. Pernikahan itu mengantarkannya memasuki lingkungan elite birokrasi Hindia Belanda. Ketika sang suami dipromosikan menjadi Bupati Bandung pada 1920, Syarifah menyandang gelar Raden Ayu Bandung. Di mata masyarakat kolonial, kehidupannya tampak sempurna.
Ia tinggal di pendopo kabupaten, mengenakan kebaya terbaik, menghadiri jamuan resmi pemerintah kolonial, serta menjadi simbol kehormatan kaum priyayi Sunda. Akan tetapi, di balik kemegahan itu, ruang kebebasan yang dahulu dinikmatinya perlahan menyempit.
Sejarawan menyebut awal abad ke-20 sebagai masa ketika perempuan bumiputra mulai memasuki pendidikan modern, tetapi belum sepenuhnya terbebas dari ekspektasi sosial sebagai pendamping laki-laki. Syarifah berada tepat di persimpangan dua dunia itu: modernitas yang membuka kesempatan belajar dan tradisi feodal yang tetap menempatkan perempuan di belakang suami.
Sementara itu, jauh di Belanda, Tan Malaka mulai menempuh jalan yang sama sekali berbeda. Ia menyelesaikan pendidikan guru, mengenal pemikiran sosialisme, lalu perlahan menjadi aktivis politik antikolonial. Hubungan keduanya seolah berakhir begitu saja, meski nama Syarifah tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan Tan Malaka.
Harry A. Poeze bahkan mencatat adanya anekdot yang berkembang di kalangan aktivis pergerakan.
Konon, kegagalan mempersunting Syarifah menjadi salah satu kisah yang kemudian melahirkan guyonan bahwa Tan Malaka “menjadi komunis karena kalah oleh kaum feodal.”
Tentu saja kisah itu tidak pernah dapat dibuktikan secara historis. Pilihan ideologi Tan Malaka lahir dari proses panjang selama belajar di Belanda dan berinteraksi dengan gerakan buruh internasional. Namun, anekdot tersebut menunjukkan betapa kuatnya jejak Syarifah dalam narasi kehidupan sang revolusioner.
Telegram yang Mengubah Segalanya
Delapan tahun setelah menikah, rumah tangga yang dari luar terlihat tenang mendadak runtuh. Pada 1923 pasangan itu berencana menunaikan ibadah haji bersama. Namun rencana tersebut berubah secara sepihak. Wiranatakusumah memutuskan berangkat seorang diri dan meminta Syarifah pulang ke Bukittinggi bersama anak-anak mereka.
Syarifah menurut. Ia kembali ke rumah orang tuanya pada 28 Maret 1924. Selain menunggu kepulangan suami, ia memanfaatkan waktu itu untuk memulihkan kondisi setelah melahirkan putri bungsunya.
Belum genap sebulan berada di kampung halaman, sebuah telegram tiba. Tanggal 17 April 1924, ayahnya menerima kabar yang mengejutkan. Wiranatakusumah mengajukan perceraian. Alasan yang disampaikan kemudian dikutip Mien Soedarpo dalam Kenangan Masa Lampau.
Syarifah dianggap “kurang luwes dan kurang bisa menyesuaikan diri dengan tradisi dan tata hidup Sunda.”
Alasan itu segera memicu polemik di berbagai surat kabar Hindia Belanda. Perceraian seorang bupati terkenal terhadap istrinya yang dikenal berpendidikan menjadi perbincangan publik. Salah satu tokoh yang bereaksi keras adalah Haji Agus Salim.
Tokoh Sarekat Islam itu menilai alasan perceraian tersebut terlalu dipaksakan dan mencederai martabat perempuan. Baginya, perceraian yang dilakukan ketika sang suami sedang menunaikan ibadah haji merupakan tindakan yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam.
Peristiwa itu bukan hanya mengguncang kehidupan pribadi Syarifah. Ia juga kehilangan status sosial, kedudukan sebagai istri bupati, serta kehidupan yang selama bertahun-tahun dibangunnya di Bandung.
Namun justru dari titik terendah itulah, kehidupan Syarifah mulai menemukan jalannya sendiri.
Kabar perceraian itu akhirnya sampai ke telinga Tan Malaka yang ketika itu telah menjadi tokoh pergerakan internasional dan hidup dalam pelarian akibat aktivitas politiknya. Ia kembali mencoba membuka pintu yang pernah tertutup belasan tahun sebelumnya.
Tan Malaka sekali lagi mengajukan cinta kepada perempuan yang tidak pernah berhasil ia lupakan. Jawabannya tetap sama. Syarifah kembali memilih menolak. Penolakan kedua itu bukan sekadar akhir sebuah kisah asmara.
Ia menjadi penanda bahwa hidup Syarifah tidak lagi akan ditentukan oleh siapa laki-laki yang mendampinginya, melainkan oleh pilihan hidup yang ia bangun sendiri melalui dunia pendidikan dan gerakan perempuan.

