Beranda

Tokyo Revengers dan Bosozoku: Nostalgia Berandal Jepang yang Kian Memudar

bosozoku, geng motor Jepang yang pernah berjaya pada 1980-an. Di balik citra ksatria, ada sejarah kekerasan dan pemberontakan remaja (io)

Tokyo Revengers menghidupkan nostalgia bosozoku, geng motor Jepang yang pernah berjaya pada 1980-an. Di balik citra ksatria, ada sejarah kekerasan dan pemberontakan remaja.

INDONESIAONLINE – Hanagaki Takemichi dalam anime Tokyo Revengers memiliki misi yang tak biasa: melintasi waktu dari 2017 ke 2005 demi menyelamatkan mantan kekasihnya, Tachibana Hinata. Ia harus berhadapan dengan Tokyo Manji, kelompok berandalan yang dipimpin Sano Manjiro alias Mikey.

Namun, Mikey yang ditemui Takemichi pada masa lalu bukanlah sosok kejam sebagaimana bayangan orang terhadap pemimpin geng kriminal. Ia tampil santai, ceria, dan memiliki prinsip untuk tidak menindas mereka yang lebih lemah.

Dalam sebuah percakapan di tepi sungai, Mikey mengenang masa ketika kakaknya, Shinichiro, masih hidup. Ia juga menyinggung perubahan cara masyarakat Jepang memandang furyo, sebutan bagi remaja berandalan, serta bōsōzoku, subkultur geng motor yang pernah meramaikan jalanan Jepang.

“Sekarang itu zamannya furyo [remaja berandalan] dibilang norak, ‘kan? Di zaman abangku, di sekitar sini terdapat banyak bosozoku [geng motor]. Mereka mengitari daerah ini dengan membunyikan klakson. Mereka mengangkat bahu dan siku dengan berani. Walau kerjaannya cuma berantem, mereka menyelesaikan masalahnya sendiri.”

Kenangan Mikey tersebut sejalan dengan pendekatan Ken Wakui, pencipta Tokyo Revengers. Dalam wawancara dengan Le Monde, Wakui mengaku pernah menjadi furyo ketika muda. Ia menggunakan perjalanan waktu sebagai cara membawa cerita ke masa lalu sekaligus menghidupkan kembali nostalgia terhadap budaya berandalan yang pernah dikenalnya.

“Menjadi anggota geng, setidaknya pada zaman saya, lebih ke arah gaya hidup dan penampilan. Jika kami sampai berkelahi, itu dilakukan antar-furyo, bukan dengan warga biasa: terhadap mereka, kami tetap sopan dan hormat,” tutur Wakui.

Gambaran itu menghadirkan dunia geng motor yang memiliki aturan internal dan ikatan persaudaraan. Akan tetapi, sejarah bōsōzoku tidak hanya berisi persahabatan dan keberanian. Di balik penampilan mencolok serta konvoi yang mengundang perhatian, terdapat catatan pelanggaran lalu lintas, kerusuhan, dan kekerasan.

Dari Kegemaran Motor Menjadi Subkultur Pemberontakan

Menurut kajian Ikuya Sato tentang bōsōzoku yang terbit pada 1982, akar subkultur tersebut dapat ditelusuri hingga pertengahan 1950-an. Pada masa itu, kelompok pemuda yang menyukai sepeda motor mulai berkumpul dan dikenal dengan sebutan kaminari-zoku, merujuk pada suara bising kendaraan mereka.

Pada awal kemunculannya, kelompok tersebut banyak diisi pemuda yang memiliki akses terhadap sepeda motor, termasuk mereka yang berasal dari keluarga berada atau bekerja sebagai mekanik. Aktivitas mereka berkisar pada pelanggaran lalu lintas, berkendara zig-zag, dan memamerkan kemampuan mengendarai motor.

Situasinya berubah seiring pertumbuhan ekonomi Jepang dan perkembangan industri otomotif pada 1960-an. Sepeda motor menjadi lebih mudah dijangkau, sehingga kelompok penggemar motor berkembang dengan anggota dari latar sosial yang lebih beragam.

Konvoi dan aksi berkendara mereka menarik perhatian masyarakat, tetapi juga memicu persoalan. Kerumunan penonton dapat berubah menjadi kerusuhan, sementara aksi berkendara berbahaya mengganggu ketertiban umum.

Sato mencatat bahwa kerusuhan besar terjadi di Toyama pada 1972. Peristiwa tersebut melibatkan lebih dari 3.000 orang dan berujung pada penangkapan 1.104 orang. Seiring perkembangan fenomena itu, istilah bōsōzoku semakin digunakan untuk menyebut geng motor yang dikenal melalui konvoi liar dan perilaku agresif.

Popularitasnya mencapai puncak pada awal 1980-an. Berdasarkan data kepolisian Jepang yang dikutip The Japan Times, jumlah anggota bōsōzoku mencapai sekitar 42.500 orang pada 1982. Angka itu menunjukkan besarnya daya tarik subkultur tersebut pada masa itu. <Cite refs={[“turn426709search0″,”turn426709search1”]}/>

Mengapa begitu banyak remaja tertarik bergabung?

Dalam kajiannya mengenai pemuda jalanan Jepang, Joachim Kersten menghubungkan daya tarik bōsōzoku dengan pencarian identitas pada masa remaja. Di tengah aturan sekolah dan keluarga yang ketat, kelompok tersebut menawarkan ruang untuk mengekspresikan diri di luar norma yang berlaku.

Identitas itu tampak melalui rambut yang ditata mencolok, modifikasi sepeda motor, serta jaket khusus bernama tokkō-fuku. Pakaian tersebut bukan sekadar busana, melainkan simbol kebanggaan dan penanda keanggotaan kelompok.

Kebersamaan juga menjadi daya tarik penting. Anggota menemukan kawan yang memiliki pengalaman dan pandangan serupa, sekaligus memperoleh pengakuan yang mungkin sulit mereka dapatkan di lingkungan sekolah atau rumah.

Namun, rasa persaudaraan tidak menghapus risiko. Mantan pemimpin kelompok Narashino Specter, Kazuhiro Hazuki, menggambarkan kerasnya kehidupan tersebut kepada VICE.

“Dunia bōsōzoku adalah tempat yang menakutkan. Anda harus memangsa sebelum dimangsa.”

Hazuki juga mengakui kuatnya ikatan emosional terhadap masa lalu itu. “Jika kau pernah ada di bosozoku, memorinya tidak akan pernah pergi. Masa itu adalah hari-hari terbaik dalam hidupku,” katanya.

Pengalaman tersebut memperlihatkan paradoks nostalgia: masa yang penuh risiko dapat dikenang sebagai periode paling bermakna karena menawarkan kebebasan, identitas, dan rasa memiliki.

Ketika Jalanan Sepi, Nostalgia Berpindah ke Budaya Pop

Memasuki dekade berikutnya, ruang gerak bōsōzoku semakin terbatas. Pemerintah Jepang memperketat penindakan terhadap aksi berkendara berbahaya dan konvoi yang mengganggu lalu lintas. Revisi aturan lalu lintas pada 2004 turut memperkuat penegakan hukum terhadap pengendara yang melakukan aksi berbahaya secara berkelompok.

Perubahan sosial dan ekonomi juga berperan. Modifikasi motor serta pembuatan tokkō-fuku membutuhkan biaya, sedangkan sebagian remaja beralih ke bentuk hiburan lain. Internet dan ponsel turut mengubah cara mereka membangun pergaulan dan mengekspresikan identitas.

Penurunan jumlah anggota terlihat dalam statistik. Jika pada 1982 jumlahnya sekitar 42.500 orang, laporan yang mengutip data kepolisian Jepang mencatat hanya 5.880 anggota pada 2024, atau turun hampir 90 persen dari puncaknya. <Cite refs={[“turn426709search2″,”turn426709search3”]}/>

Meski demikian, bōsōzoku tidak sepenuhnya lenyap. Yang berubah adalah skala dan kedudukannya dalam kehidupan sehari-hari. Di saat keberadaannya di jalanan menyusut, citra berandalan bermotor justru terus hidup melalui manga, anime, film, dan produk budaya populer.

Tokyo Revengers, yang diserialisasikan pada 2017–2022, menjadi salah satu karya yang mengangkat kembali dunia tersebut kepada generasi baru. Melalui Takemichi, Mikey, dan Tokyo Manji, pembaca diajak memasuki dunia yang dibangun dari persahabatan, kesetiaan, konflik, dan keinginan memperbaiki masa lalu.

Cerita itu tidak sepenuhnya dimaksudkan sebagai catatan sejarah. Sejumlah sisi kelam kehidupan geng motor dikesampingkan, sementara kehormatan dan persaudaraan mendapat tempat lebih besar. Itulah yang membuat dunia fiksi tersebut berbeda dari kenyataan yang pernah dihadapi masyarakat Jepang.

Pada akhirnya, daya tarik Tokyo Revengers bukan hanya terletak pada pertarungan atau kemampuan melintasi waktu. Ceritanya juga menyentuh kerinduan terhadap masa muda, saat seseorang berusaha mencari tempat di dunia dan membangun ikatan dengan orang-orang yang dianggap sebagai keluarga.

Bagi Ken Wakui, bōsōzoku menyimpan kenangan tentang gaya hidup dan solidaritas yang pernah ia kenal. Bagi pembaca masa kini, subkultur itu hadir sebagai gambaran masa lalu yang jauh, sekaligus bahan untuk memahami mengapa pemberontakan remaja dapat terasa begitu memikat.

Namun, nostalgia perlu dibedakan dari kenyataan. Persahabatan dan pencarian identitas memang menjadi bagian dari pengalaman anggota bōsōzoku, tetapi sejarahnya juga mencatat kekerasan, pelanggaran hukum, dan bahaya bagi masyarakat. Ketegangan antara kedua sisi itulah yang membuat kisahnya lebih kompleks daripada sekadar romantisasi geng motor.

Exit mobile version