Puluhan anak difabel dari 13 SLB di Malang Raya menemukan ruang setara melalui seni topeng, budaya, dan UMKM dalam kegiatan ramah disabilitas.
INDONESIAONLINE – Di tangan anak-anak itu, topeng Malangan tidak lagi sekadar benda seni yang menyimpan wajah tokoh dalam cerita Panji. Ia berubah menjadi kanvas kecil untuk menunjukkan keberanian, imajinasi, sekaligus cara lain mengatakan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya.
Suasana itu terasa di Jalan Kyai Parseh Jaya Nomor 29, Bumiayu, Kedungkandang, Kota Malang, pada 30-31 Agustus 2026. Puluhan anak berkebutuhan khusus dari 13 lembaga Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Malang Raya berkumpul dalam Harmonisasi Griya Kriya Topeng Ramah Difabel.
Kuas bergerak di atas permukaan topeng. Warna-warna bertemu tanpa harus selalu mengikuti garis yang sempurna. Di tempat itu, ukuran keberhasilan tidak semata ditentukan oleh hasil akhir, tetapi oleh kesempatan setiap anak untuk tampil, mencoba dan dihargai.
Kegiatan tersebut merupakan puncak program yang telah berjalan sejak Mei 2026. Sebelumnya, peserta mengikuti pelatihan membatik dan membuat sampur bersama Program Studi Fashion Design and Business Universitas Ciputra Surabaya pada 16 Mei, dilanjutkan pembuatan topeng Malangan pada 27 Juni dan pelatihan melukis topeng pada akhir Juli.
Program digerakkan Sanggar Budaya Anak Nareswari bersama Yayasan D’Mart Thithiek Tenger dengan dukungan Dana Indonesiana. Skema pendanaan tersebut memang dirancang pemerintah untuk mendukung ekosistem kebudayaan, termasuk komunitas dan lembaga budaya.
Pada 2025, Kementerian Kebudayaan menyebut Dana Indonesiana memiliki pembiayaan sekitar Rp465 miliar dan menargetkan lebih dari 1.000 penerima manfaat. Salah satu kategori yang tersedia adalah dukungan institusional.
Bagi Ketua Pelaksana sekaligus Ketua Yayasan D’Mart Thithiek Tenger, Ndaru Lazarus, kegiatan ini bukan sekadar festival. Seni ditempatkan sebagai pintu masuk menuju kepercayaan diri dan kemandirian anak-anak difabel.
Format kegiatannya dibuat berjenjang. Pelajar SLB tingkat SD hingga SMP mengikuti lomba mewarnai topeng, sementara jenjang SMA beradu kreativitas melalui lukisan topeng. Ada pula parade tari yang memberikan ruang kepada peserta untuk menunjukkan kemampuan di atas panggung.
Pilihan pendekatan itu memiliki makna lebih luas. Data BPS menunjukkan penyandang disabilitas menjadi bagian dari kelompok masyarakat yang membutuhkan akses pendidikan dan layanan publik yang inklusif.
Dalam statistik resminya, BPS bahkan mendefinisikan penyandang disabilitas yang bersekolah mencakup mereka yang menempuh pendidikan di sekolah reguler melalui sistem inklusi maupun di SLB.
Ketika Panggung Berubah Menjadi Ruang Pengakuan
Hari pertama kegiatan menyimpan salah satu adegan paling emosional. Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno, didaulat sebagai Bunda Disabilitas oleh lembaga-lembaga SLB se-Malang Raya. Pendaulatan secara simbolis dilakukan pembina Yayasan Thithiek Tenger dan Sanggar Nareswari, Ki Djoko Rendi.
Kehadiran Sri Untari pun menjadi perhatian tersendiri. Ia datang setelah menyelesaikan agenda kedinasan di Medan, transit di Jakarta, kemudian menuju Malang dan langsung melanjutkan perjalanan ke Bumiayu sebelum pulang ke rumah.
Di hadapan peserta, Sri Untari menyampaikan perkembangan pembahasan Perda Disabilitas Jawa Timur. Pernyataan tersebut memiliki konteks kebijakan yang kuat. Pada 6 Agustus 2026, DPRD Jawa Timur memang menyatakan pembahasan Perda Disabilitas beserta rencana pembentukan Komisi Disabilitas Jawa Timur ditargetkan rampung pada Agustus 2026. Lembaga itu dirancang untuk memperkuat perlindungan, pemenuhan hak dan pemberdayaan penyandang disabilitas.
Sri Untari juga menyampaikan pesan mengenai pola konsumsi ibu selama kehamilan serta kaitannya dengan perkembangan anak.
“Hari ini kegiatan kami Harmoni hari kedua. Kegiatannya adalah penampilan dan lomba-lomba untuk umum,” kata Ndaru Lazarus menjelaskan perbedaan format dari hari sebelumnya.
Dari panggung, perhatian kemudian bergerak ke stan-stan UMKM. Sri Untari berkeliling ke hampir seluruh stan yang dikelola 13 SLB. Ia tidak hanya melihat karya yang dipajang, tetapi juga membeli produk di setiap stan yang disinggahinya.
Adegan itu sederhana, tetapi penting. Sebab pemberdayaan difabel tidak berhenti pada kesempatan tampil di panggung. Karya juga membutuhkan pasar, pembeli dan ekosistem ekonomi.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 sendiri telah menempatkan kesempatan kerja sebagai bagian dari pemenuhan hak penyandang disabilitas. Regulasi tersebut mengatur kesamaan kesempatan, aksesibilitas dan akomodasi yang layak, termasuk dalam dunia kerja.
Pada akhir hari pertama, tumpeng dipotong. Potongan pertama diberikan kepada Ki Djoko Rendi, sementara potongan tumpeng jajanan pasar diserahkan kepada Bunda Maria Carmela Nur Indri Hariani, pengelola Sanggar Budaya Anak Nareswari.
Hari kedua kemudian bergeser. Jika hari pertama sepenuhnya menempatkan anak-anak difabel sebagai pusat kegiatan, hari kedua membuka ruang bagi masyarakat umum.
Lomba diamond painting tingkat TK diikuti sembilan dari sepuluh peserta yang terdaftar dari TK Islam Bumiayu. Satu peserta tidak hadir karena sakit. Setelah itu, kegiatan berlanjut dengan lomba melukis topeng 3D untuk tingkat SD, SMP dan SMA serta lomba membatik kategori umum.
Sekitar 20 pelaku UMKM turut meramaikan kegiatan. Tujuh di antaranya berasal dari Forum Disabilitas Kelurahan Bumiayu dan 13 lainnya berkolaborasi dengan SLB se-Kabupaten Malang.
Keterlibatan mahasiswa dari Binus, Universitas Ma Chung, Universitas Negeri Malang dan Universitas Brawijaya ikut menopang acara. Meski demikian, hari kedua menghadirkan persoalan tersendiri karena bertepatan dengan hari kerja sehingga hanya lima panitia yang dapat berada di lapangan.
Bagi Ndaru, kondisi itu tidak mengurangi pesan utama kegiatan. “Budaya di Malang akhir-akhir ini sudah sangat naik sekali tingkat trafiknya bagi pengunjung, juga pengadaan acaranya,” ujarnya.
Ia melihat kebudayaan tidak semestinya diperlakukan hanya sebagai benda masa lalu. Tradisi dapat tumbuh mengikuti masyarakat yang merawatnya. Dalam konteks itulah topeng Malangan menjadi relevan: warisan budaya bertemu dengan kebutuhan zaman, termasuk kebutuhan menghadirkan ruang yang lebih inklusif.
Dari perlombaan, muncul nama-nama yang layak dicatat. Zikal Vegan Alfazil dari SLB Bimantara menjadi juara pertama mewarnai topeng tingkat SD-LB. Pada tingkat SMP-LB, Atiqa Bilqis dari SMPN 17 Kelas Inklusi berada di posisi pertama. Sementara kategori melukis topeng 3D SMA-LB dimenangi A. Dzalikal Denovan dari SLB PGRI.
Untuk parade tari, SLBN Pembina Tingkat Nasional Bagian C meraih juara pertama, disusul SLB Putra Harapan Karangkates dan SLB Dharma Wanita 03 Turen.
Rangkaian akhirnya ditutup dengan Sarasehan Budaya dan Sejarah Topeng Malang bersama sejarawan Drs. M. Dwi Cahyono, M.Hum. Di sana, topeng tidak hanya dibicarakan sebagai objek seni, tetapi sebagai bagian dari perjalanan sejarah dan identitas budaya Malang.
Pada titik itu, pesan dua hari kegiatan menjadi lebih terang. Anak-anak difabel tidak sedang meminta belas kasihan. Mereka sedang memperlihatkan kemampuan.
Dan topeng yang mereka warnai menjadi semacam cermin: bahwa ruang kebudayaan akan jauh lebih hidup ketika semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berada di dalamnya.
