INDONESIAONLINE – Sebuah potongan video yang memperlihatkan sosok Rara Istiati Wulandari, atau yang populer dikenal sebagai Mbak Rara si “Pawang Hujan”, viral di media sosial. Dalam video tersebut, Mbak Rara yang mengenakan busana mirip abdi dalem lengkap dengan sanggul, dinarasikan diusir oleh petugas saat mengikuti prosesi labuhan yang digelar Keraton Yogyakarta di Pantai Parangkusumo pada Senin (19/1).
Menanggapi kegaduhan tersebut, pihak Keraton Yogyakarta melalui Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura GKR Condrokirono memberikan klarifikasi mengenai aturan pelaksanaan hajad dalem. Menurut dia, seluruh rangkaian inti prosesi labuhan wajib dijalankan oleh abdi dalem resmi Keraton Yogyakarta. Sedangkan publik diperbolehkan hadir hanya sebagai penonton dengan syarat mutlak menjaga ketenangan, ketertiban, dan mengikuti protokol yang berlaku.
” Keterlibatan pihak luar, baik individu maupun instansi, dalam agenda resmi keraton harus mendapatkan izin tertulis dari Kawedanan Hageng Panitrapura,” ungkapnya.
Pembelaan Mbak Rara: “Saya Diundang”
Di sisi lain, melalui akun media sosialnya, Mbak Rara menepis anggapan bahwa dirinya hadir tanpa izin. Ia mengklaim kedatangannya adalah atas undangan dari pihak yang ia sebut sebagai “Romo Rekso”.
Mbak Rara mengaku masih menyimpan riwayat percakapan terkait persiapan acara tersebut dan menyatakan kesediaannya membantu secara sukarela demi pelestarian budaya.
Mbak Rara juga menyebutkan bahwa selama ini sering memberikan dukungan doa untuk kelancaran cuaca di berbagai acara Keraton Yogya maupun Surakarta, meskipun terkadang kontribusinya tidak diakui secara terbuka.
Mbak Rara mengaku sudah mengikhlaskan insiden tersebut dan memilih fokus menjalani ritual pribadi (tirakatan).
Mengenal Tradisi Labuhan
Prosesi labuhan sendiri merupakan bagian dari peringatan Tingalan Jumenengan Dalem atau ulang tahun kenaikan takhta ke-38 Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Secara filosofis, “labuh” bermakna membuang atau menghanyutkan sifat-sifat buruk manusia melalui simbolisme pelarungan benda-benda tertentu (ubarampe). Pada tahun 2026 ini, labuhan alit digelar secara serentak di empat lokasi sakral: Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepih Wonogiri. (rds/hel)
