Beranda

Ambisi Gila Amangkurat I: 300 Ribu Rakyat Dipaksa Bangun Segarayasa

Ambisi Gila Amangkurat I: 300 Ribu Rakyat Dipaksa Bangun Segarayasa
Pembangunan waduk Segarayasa di era Amangkurat I menjabat (io)

Mega proyek Segarayasa Amangkurat I kerahkan 300 ribu pekerja. Ambisi Mataram Islam yang picu kelaparan dan banjir demi istana di tengah danau.

INDONESIAONLINE – Sejarah panjang kekuasaan Mataram Islam di tanah Jawa mencatat sebuah babak kelam sekaligus megah di pertengahan abad ke-17. Di bawah pemerintahan Sri Susuhunan Amangkurat I, sebuah ambisi arsitektural raksasa digulirkan bukan sekadar untuk mempercantik ibu kota, melainkan sebagai manifestasi mutlak kuasa raja atas alam dan rakyatnya.

Proyek tersebut adalah pembangunan bendungan dan danau buatan Segarayasa di kawasan Keraton Plered, yang menurut catatan sejarah melibatkan pengerahan tenaga manusia dalam skala yang mencengangkan: 300.000 jiwa.

Proyek yang mengubah lanskap geografi di selatan Yogyakarta ini menjadi bukti otentik bagaimana politik air (water politics) digunakan sebagai alat legitimasi kekuasaan, meski harus dibayar mahal dengan kelaparan, banjir, dan penderitaan rakyat jelata.

Berdasarkan penelusuran data dari berbagai naskah kuno seperti Babad SangkalaBabad Momana, hingga catatan kolonial Daghregister VOC, terungkap betapa kolosalnya “kegilaan” infrastruktur sang penerus Sultan Agung ini.

Warisan yang Menuntut Pengorbanan

Amangkurat I, yang lahir dengan nama Raden Mas Sayidin, naik takhta membawa beban sejarah yang berat. Ayahnya, Sultan Agung Hanyakrakusuma, adalah figur sentral yang membawa Mataram ke puncak kejayaan. Untuk melepaskan diri dari bayang-bayang sang ayah yang berpusat di Karta, Amangkurat I memutuskan memindahkan pusat pemerintahan ke Plered pada tahun 1647.

Namun, perpindahan ini bukan sekadar geser lokasi. Di Plered, Amangkurat I hendak menciptakan sebuah konsep istana yang dikelilingi air, sebuah moated palace yang mengisolasi raja dari dunia luar, menciptakan jarak sakral antara penguasa dan kawula.

Gagasan membendung Sungai Opak sebenarnya telah dimulai sejak era Sultan Agung. Babad Sangkala mencatat pembangunan awal bendungan dilakukan pada 1565 Jawa atau sekitar 2 Maret 1643. Namun, di tangan Amangkurat I, proyek ini diekskalasi menjadi obsesi raksasa.

Pada tahun 1574 Jawa (14 Desember 1651), pembangunan bendungan besar diintensifkan. Air dari Sungai Opak dibelokkan untuk menggenangi lahan-lahan di sekitar keraton, menciptakan danau buatan yang kelak dikenal sebagai Segarayasa atau “laut buatan”.

Tujuannya jelas: menjadikan Keraton Plered sebagai pulau di tengah daratan, simbol bahwa raja adalah pusat kosmos yang mengapung di atas samudra kekuasaan.

Mobilisasi 300 Ribu Tenaga Kerja

Puncak dari mega proyek ini tercatat secara rinci dalam arsip Daghregister milik VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Catatan bertanggal 12 September 1661 menyebutkan sebuah fakta yang mengerikan: Raja sibuk menjadikan tempat tinggalnya sebuah pulau, dan untuk ambisi tersebut, ia memerintahkan pengerahan 300.000 orang pekerja.

Angka 300.000 pada masa itu adalah jumlah yang sangat masif, mengingat populasi Pulau Jawa belum sepadat sekarang. Mobilisasi ini melumpuhkan sektor-sektor lain. Para pekerja paksa ini didatangkan dari berbagai wilayah kekuasaan Mataram Islam termasuk dari daerah pesisir dan mancanegara wetan.

Pengawasan proyek dilakukan secara ketat oleh para pejabat daerah, penguasa pantai, dan umbul-umbul setempat. Mereka dipaksa memastikan suplai tenaga kerja terus mengalir demi memuaskan kehendak Susuhunan.

Dampak sosial dari pengerahan tenaga kerja ini sangat fatal. Sektor pertanian terbengkalai. Daghregister tertanggal 14 Maret 1659 mencatat bahwa para petani, bahkan yang didatangkan jauh dari Karawang, tidak sempat menyemai benih dan menanam padi karena waktunya habis untuk mengangkut tanah dan batu.

Akibatnya bisa ditebak: kekurangan pangan melanda, stok beras menipis, dan kelaparan membayangi rakyat kecil yang justru menjadi tulang punggung proyek tersebut.

Segarayasa: Keindahan di Atas Penderitaan

Pada 7 Juli 1659, sebuah seremoni dilakukan. Sunan Amangkurat I bersama permaisurinya menaiki kereta kencana menuju kolam raksasa yang baru selesai digali. Empat hari kemudian, kolam tersebut resmi diberi nama Segarayasa. Nama ini mengandung makna filosofis yang dalam: laut (segara) yang diciptakan oleh rasa atau kehendak (yasa).

Bagi Amangkurat I, Segarayasa adalah bukti bahwa ia mampu menandingi kekuatan alam. Ia tidak perlu pergi ke Laut Selatan untuk menemui Ratu Kidul; ia membawa “laut” itu ke halaman depan istananya.

Namun, alam memiliki caranya sendiri untuk merespons rekayasa manusia yang berlebihan. Bencana datang pada musim penghujan pergantian tahun 1661 ke 1662. Hujan deras mengguyur hulu Sungai Opak, menyebabkan debit air tak terkendali.

Banjir bandang menerjang, menghantam “Lumbung Besar” (gudang logistik kerajaan) dan menyapu jebol bendungan yang dibangun dengan susah payah.

Banjir besar tahun 1584 Jawa (27 Agustus 1661) ini menjadi titik balik tragis. Ribuan jerih payah rakyat hancur dalam semalam. Persediaan beras hanyut, memperparah krisis pangan yang sudah terjadi sebelumnya. Namun, alih-alih berhenti, bencana ini justru memicu obsesi lanjutan sang raja.

Rekonstruksi dan Isolasi Sang Raja

Pasca-banjir, proyek sempat terhenti sejenak. Namun, pada tahun 1663, pembangunan kembali dilanjutkan dengan intensitas yang tak kalah tinggi. Daghregister 28 Agustus 1663 mencatat rencana raja untuk membuat “kolam besar” di belakang istananya.

Pada 1 Oktober 1663, proyek penggalian segarayasa dinyatakan selesai kembali. Air dialirkan tidak hanya ke selatan dan timur keraton, tetapi dikembangkan hingga mengelilingi sisi utara dan barat. Praktis, Keraton Plered benar-benar menjadi istana di tengah danau.

Seorang pelancong Belanda, Abraham Verspreet, yang mengunjungi keraton pada 16 Oktober 1668, memberikan kesaksian visual tentang hasil akhir proyek ini. Ia menulis bahwa untuk mencapai alun-alun keraton, ia harus melintasi jembatan yang membentang di atas parit lebar yang mengelilingi istana.

Kesaksian ini mengonfirmasi keberhasilan teknis proyek tersebut. Namun, keberhasilan fisik ini berbanding terbalik dengan kondisi psikologis rajanya. Setelah proyek rampung, Sunan Amangkurat I justru dilaporkan semakin menarik diri. Ia tidak lagi antusias bermain perahu di danau buatannya.

Segarayasa yang megah justru menjadi penjara emas. Danau itu berfungsi ganda: sebagai benteng pertahanan dari serangan musuh luar, sekaligus benteng pemisah antara raja dengan rakyatnya yang mulai resah. Keterasingan Amangkurat I di tengah pulau buatan ini menjadi simbol ironis dari kekuasaan absolut yang kesepian.

Antakapura: Proyek Ambisius Terakhir

Selain proyek air, nafsu membangun Amangkurat I juga terlihat saat kematian istri kesayangannya, Ratu Mas Malang. Sang Ratu wafat pada 1588 Jawa (14 Juli 1665), meninggalkan duka mendalam bagi raja.

Sebagai bentuk cinta—sekaligus ketidakmampuannya menerima takdir—Amangkurat I memerintahkan pembangunan kompleks makam megah di Gunung Kelir yang diberi nama Antakapura.

Proyek ini rampung pada 1668, sebagaimana dicatat dalam Babad Momana. Pembangunan mausoleum ini kembali menyedot sumber daya kerajaan, di saat kondisi sosial politik Mataram mulai goyah akibat ketidakpuasan para pangeran dan ulama.

Apa yang dilakukan Amangkurat I dengan keraton plered dan segarayasa memberikan pelajaran penting tentang sejarah tata ruang di Nusantara. Bahwa pembangunan infrastruktur di masa lalu, sama halnya dengan masa kini, tidak pernah lepas dari motif politik.

Sistem pengairan yang dibangun sejatinya memiliki potensi luar biasa untuk irigasi pertanian yang memakmurkan. Namun, karena orientasi utamanya adalah kemegahan (“mercusuar”) dan pertahanan istana, fungsi kesejahteraan rakyat menjadi terabaikan. Air yang seharusnya menghidupi padi, justru ditahan untuk menghiasi pandangan mata sang raja.

Sejarawan menilai bahwa ambisi infrastruktur Amangkurat I ini menjadi salah satu faktor yang memperlemah fondasi ekonomi Mataram dari dalam. Kelelahan sosial akibat kerja paksa (corvee), ditambah krisis pangan, menciptakan api dalam sekam yang kelak meledak dalam Pemberontakan Trunojoyo, yang akhirnya meruntuhkan Keraton Plered yang megah itu pada tahun 1677.

Hari ini, sisa-sisa kemegahan segarayasa nyaris tak berbekas, tertimbun sedimentasi zaman dan pemukiman penduduk di Bantul, Yogyakarta. Namun, catatan statistik 300.000 pekerja yang tertulis dalam arsip sejarah tetap abadi, menjadi pengingat bahwa di balik setiap monumen kekuasaan yang agung, selalu ada keringat dan darah rakyat kecil yang menjadi tumbalnya.

Kisah Segarayasa adalah monumen peringatan: bahwa pembangunan yang tidak memanusiakan manusia, pada akhirnya hanya akan mewariskan cerita tentang kehancuran, bukan keabadian.

Exit mobile version