Dark Mode disebut lebih nyaman untuk mata dan hemat baterai. Riset terbaru menunjukkan manfaatnya bergantung pada layar, kondisi cahaya, dan pengguna.
INDONESIAONLINE – Ada alasan mengapa hampir semua sistem operasi modern menyediakan pilihan Dark Mode. Latar hitam dengan teks terang terasa lebih dramatis, tampak nyaman digunakan pada malam hari, dan pada perangkat tertentu memang dapat mengurangi konsumsi energi.
Namun, popularitas Mode Gelap juga melahirkan sejumlah anggapan yang belum tentu sepenuhnya benar. Fitur yang kini ditemukan pada iPhone, Android, komputer, hingga berbagai aplikasi sebenarnya bukan teknologi baru.
Konsep tampilan dengan karakter terang di atas latar gelap telah lama dikenal sejak era komputer dengan layar CRT. Pada masa itu, monitor monokrom lazim menampilkan teks hijau atau terang di atas latar hitam.
Perubahan terjadi ketika teknologi komputer bergerak menuju konsep what you see is what you get atau WYSIWYG. Tampilan teks gelap di atas latar terang kemudian menjadi lebih dekat dengan pengalaman membaca di atas kertas dan perlahan menjadi standar.
Puluhan tahun kemudian, skema lama itu kembali populer.
Apple memperkenalkan Dark Mode secara luas melalui iOS 13 pada 2019, sementara Google menghadirkannya secara sistematis di Android 10. Sejak itu, Mode Gelap berkembang menjadi salah satu fitur standar dalam pengalaman menggunakan perangkat digital.
Pertanyaannya kini bukan lagi mengapa Dark Mode populer, tetapi apakah pengguna memang memperoleh manfaat kesehatan dan efisiensi baterai seperti yang selama ini diyakini.
Jawabannya ternyata tidak sesederhana mengubah warna putih menjadi hitam.
Mata Tidak Otomatis Lebih Sehat karena Dark Mode
Salah satu alasan paling sering digunakan untuk mengaktifkan Dark Mode adalah anggapan bahwa cahaya dari layar membuat mata cepat lelah. Masalahnya, kelelahan mata akibat penggunaan perangkat digital tidak hanya ditentukan oleh warna tampilan.
American Academy of Ophthalmology melalui EyeWiki menjelaskan bahwa digital eye strain atau computer vision syndrome berkaitan dengan penggunaan perangkat digital dalam waktu lama. Gejalanya dapat berupa mata lelah, kering, iritasi, pandangan kabur, sakit kepala hingga nyeri pada area sekitar mata. Penggunaan layar juga membuat frekuensi berkedip menurun sehingga permukaan mata lebih mudah mengalami kekeringan.
Dengan kata lain, lamanya seseorang menatap layar, jarak pandang, kondisi pencahayaan ruangan, ukuran teks, kontras, frekuensi berkedip, hingga kelainan refraksi memiliki peran dalam munculnya keluhan.
Dark Mode memang dapat terasa lebih nyaman bagi sebagian pengguna, khususnya dalam kondisi pencahayaan rendah. Tetapi pengalaman nyaman tersebut tidak berarti fitur itu otomatis mencegah kerusakan mata.
Temuan ilmiah terbaru bahkan memberikan gambaran yang lebih hati-hati.
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2025 membandingkan penggunaan Light Mode dan Dark Mode pada 30 pengguna tablet. Peneliti tidak menemukan perbedaan yang signifikan secara statistik dalam tingkat kelelahan visual antara kedua mode.
Namun, terdapat perbedaan pada sejumlah indikator seperti critical flicker frequency dan gejala mata kering. Penelitian tersebut menyimpulkan Dark Mode berpotensi membantu mengurangi ketidaknyamanan, tetapi masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami efek jangka panjangnya.
Temuan ini penting karena membantah anggapan bahwa Dark Mode merupakan semacam “obat” untuk mata lelah.
Bahkan dalam beberapa situasi, teks terang di atas latar gelap dapat membuat keterbacaan lebih sulit. EyeWiki mencatat bahwa tampilan dengan karakter terang di atas latar gelap dapat dihindari pada kondisi tertentu, sementara karakter gelap di atas latar terang direkomendasikan untuk kenyamanan membaca.
Orang dengan gangguan penglihatan tertentu juga dapat merasakan pengalaman berbeda. Astigmatisme, misalnya, dapat memperburuk gejala digital eye strain. Karena itu, pilihan mode tampilan tidak dapat dipukul rata untuk semua orang.
Ada pula persoalan yang sering salah dipahami: blue light.
Cahaya biru memang merupakan bagian dari spektrum cahaya yang dipancarkan layar. Namun, menganggap cahaya biru sebagai satu-satunya penyebab mata lelah adalah penyederhanaan masalah.
Kelelahan mata akibat perangkat digital lebih banyak berkaitan dengan aktivitas melihat dekat dalam waktu lama, berkurangnya kedipan, kondisi mata, jarak pandang, pencahayaan, dan ergonomi. Karena itu, mengganti tampilan menjadi hitam tidak otomatis menyelesaikan persoalan.
Bahkan penelitian lain pada 2025 menunjukkan bahwa menurunkan tingkat kecerahan layar memberikan penurunan signifikan pada skor kelelahan mata, sementara penggunaan perangkat pengubah temperatur warna tidak menunjukkan penurunan gejala yang signifikan dalam penelitian tersebut.
Temuan itu memberi petunjuk sederhana: mengatur brightness bisa sama pentingnya, bahkan dalam kondisi tertentu lebih penting, daripada sekadar memilih Dark Mode.
Dark Mode Lebih Masuk Akal untuk Layar OLED
Jika manfaat untuk mata masih bergantung pada kondisi, cerita mengenai baterai justru lebih jelas. Dark Mode memang dapat menghemat energi, tetapi terutama pada perangkat yang menggunakan layar OLED atau teknologi turunannya.
Pada OLED, setiap piksel menghasilkan cahayanya sendiri. Ketika harus menampilkan warna hitam, piksel tertentu dapat dimatikan atau menggunakan energi sangat kecil. Semakin banyak area hitam pada layar, semakin besar pula peluang penghematan energi.
Penelitian Purdue University mengenai konsumsi daya layar OLED menunjukkan bahwa penghematan energi Dark Mode bergantung pada tingkat kecerahan dan pola tampilan. Studi tersebut secara khusus mengembangkan metode untuk mengukur konsumsi daya layar OLED pada smartphone secara lebih akurat.
Ini berbeda dengan layar LCD.
LCD menggunakan sumber cahaya latar yang tetap bekerja ketika layar menampilkan warna berbeda. Karena itu, mengubah antarmuka menjadi hitam tidak memberikan keuntungan energi sebesar pada OLED.
Sederhananya, pengguna ponsel dengan layar OLED berpotensi memperoleh manfaat baterai lebih nyata ketika menggunakan Dark Mode. Pengguna LCD tidak seharusnya berharap penghematan yang sama.
Namun, bahkan pada OLED, penghematan tidak berarti baterai tiba-tiba bertahan dua kali lebih lama. Konsumsi energi smartphone berasal dari banyak komponen. Prosesor, jaringan seluler, Wi-Fi, GPS, kamera, speaker, aplikasi yang berjalan di latar belakang, refresh rate, serta tingkat kecerahan layar semuanya ikut menentukan daya tahan baterai.
Karena itu, Dark Mode lebih tepat dipandang sebagai salah satu strategi efisiensi, bukan solusi tunggal. Pada akhirnya, perdebatan Light Mode versus Dark Mode sebenarnya terlalu sederhana jika digunakan untuk menjawab persoalan kenyamanan mata. Tidak ada satu pengaturan yang cocok untuk seluruh pengguna.
Pada malam hari atau ruangan gelap, Dark Mode dapat terasa lebih nyaman bagi sebagian orang. Pada siang hari dengan pencahayaan terang, Light Mode mungkin memberikan keterbacaan lebih baik. Pada perangkat OLED, Dark Mode juga dapat memberikan keuntungan konsumsi energi. Sementara itu, pengguna yang mengalami mata lelah tidak cukup hanya mengganti tampilan.
Istirahat tetap menjadi bagian terpenting. EyeWiki merekomendasikan prinsip 20-20-20, yakni setiap 20 menit melihat layar, mengalihkan pandangan selama sekitar 20 detik ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau enam meter. Pengguna juga dianjurkan berkedip secara teratur dan mengatur posisi serta jarak layar.
Jadi, jika mata mulai terasa panas, kering, atau berat setelah berjam-jam menatap ponsel, solusi paling sederhana bukan selalu mencari warna layar yang lebih gelap.
Letakkan ponsel. Alihkan pandangan. Beri mata waktu untuk kembali bekerja tanpa layar.
Dark Mode hanyalah sebuah pilihan tampilan. Pada OLED, ia bisa menjadi pilihan hemat energi. Dalam kondisi tertentu, ia juga dapat terasa lebih nyaman bagi mata.
Tetapi kesehatan mata tidak ditentukan oleh warna layar semata. Dan baterai tidak hanya hidup atau mati karena latar belakang berwarna hitam. Teknologi boleh semakin pintar. Namun, untuk menjaga mata tetap nyaman, kebiasaan pengguna masih memegang peranan terbesar.
