Pemberontakan petani Ciomas 1886 di pinggiran Bogor meledak dekat Istana Gubernur Jenderal Hindia Belanda, lawan tuan tanah zalim Sturler berdasarkan arsip ANRI.
INDONESIAONLINE – Hujan sore di Bogor selalu tercium seperti campuran bau bunga melati dari Istana Kepresidenan dan lumpur basah dari persawahan Ciomas yang berdenyut 15 kilometer ke arah selatan.
Tahun 1886, hujan yang sama membasahi seragam tentara Hindia Belanda yang mengepung gubuk-gubuk petani di Kampung Petier, sementara di utara, Gubernur Jenderal Otto van Rees sedang menyesap teh hangat di ruang tamu Istana Bogor, tak sadar bahwa cakrawala kekuasaannya hampir terbakar oleh amarah petani yang tak punya apa-apa selain parang dan bambu runcing.
Sejarah perlawanan Nusantara terhadap kolonial seringkali ditulis sebagai kisah elite feodal yang berjuang demi sangkar emas mereka. Namun di Ciomas, kisahnya berbeda. Alih-alih bupati atau menak lokal, yang mengangkat senjata adalah petani gurem yang setiap hari memegang cangkul di tanah partikelir yang mereka garap sendiri, tapi tak pernah mereka miliki.
Ciomas adalah salah satu dari sekian banyak tanah partikelir di Bogor yang sudah diperjualbelikan sejak sebelum era Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811).
Ahli hukum adat C. van Vollenhoven mencatat dalam Verordeningen inlandsch privaatrecht (1913) bahwa tanah-tanah di Bogor, kecuali pusat kota Blubur, telah menjadi komoditas swasta sejak awal abad ke-19. Kepemilikan Ciomas berpindah tangan berkali-kali hingga tahun 1860-an, ketika tercatat dua pemilik bersama: F.H.C. van Motman dan P.W.N. Merkus.
Tanah seluas 2.300 hektare itu ditanami padi, kopi, kina, dan cengkeh—komoditas ekspor yang mengisi pundi-pundi Belanda.
Kematian Merkus pada 22 Desember 1863 memicu sengketa waris yang berlarut-larut. Van Motman akhirnya memutuskan menjual seluruh tanah Ciomas, dengan bantuan Asisten Residen Buitenzorg.
Laporan koran Java Bode tertanggal 7 September 1886 mencatat bahwa harga taksiran van Motman hanya 757.000 gulden. Namun yang mengejutkan, J.W.E. de Sturler membelinya seharga 1,5 juta gulden—hampir dua kali lipat taksiran awal. Jika disesuaikan dengan nilai tukar hari ini, 1,5 juta gulden tahun 1880-an setara dengan sekitar 20 juta dolar AS.
Untuk menutupi biaya pembelian yang selangit itu, anak de Sturler, A.L. de Sturler Jr. yang kemudian dijuluki “Tuan Kecil”, memberlakukan kebijakan eksploitatif yang melanggar hukum kolonial sendiri.
Kontrak Kopi yang ditandatangani seluruh tuan tanah pada Oktober 1869 secara tegas melarang perempuan dan lansia dipekerjakan secara paksa di perkebunan kompenian. Tuan Kecil mengabaikan aturan ini sepenuhnya. Hampir seluruh penduduk pribumi Ciomas, dari anak-anak hingga nenek-nenek, dipaksa bekerja 12 jam sehari di kebun kopi dengan upah di bawah harga pasar.
Laporan Asisten Residen Buitenzorg O.A. Burnabij Lautier tahun 1885 mencatat berbagai bentuk penyiksaan: petani yang menolak bekerja dipukul rotan, tanah mereka disita sewenang-wenang, dan perempuan yang menolak dijadikan gundik akan kehilangan seluruh harta.
Kasus Mariah dari Kampung Cibeureum adalah contoh nyata: ia kehilangan sawah 0,5 hektare karena berani menolak ajakan Tuan Kecil ke rumahnya.
Lautier, yang didukung oleh Demang Bogor Mas Djasiman, mencoba menyelidiki tindak tanduk Tuan Kecil. Namun Keluarga Sturler membalas dengan menuduh Lautier korupsi saat menjabat Asisten Residen Sukabumi.
Gubernur Jenderal Otto van Rees lebih memercayai Lautier, namun alih-alih menghukum Sturler, ia memindahkan Lautier menjadi Residen Bali pada 1885. Keluarga Sturler pun bernapas lega—tak ada lagi yang menghalangi kekejaman mereka.
Bulan Februari 1886, api amarah itu akhirnya meledak. Arpan Ba Sa’maah, petani dari Kampung Pasir Angsana, membunuh Camat Ciomas Hadji Abdurrachim karena menolak diajak berjihad melawan keluarga Sturler.
Arpan kemudian mengklaim dirinya sebagai Imam Mahdi, dan mengumpulkan pengikut di Dramaga dengan bantuan Leboj Ba Nahidi yang diangkatnya menjadi wakil.
Pengganti Lautier, Asisten Residen Coenen, memerintahkan polisi menyergap Dramaga, namun mereka malah diserang gerombolan Arpan di Kampung Petier. Dalam laporannya ke Batavia, Coenen menulis: “Kami mengepung rumah Nahidi dan memberondongnya tanpa henti. Arpan dan 17 pengikutnya tewas seketika, tubuh mereka dibiarkan membusuk di lumpur selama tiga hari sebagai peringatan.”
Tapi kematian Arpan tak memadamkan api. Mei 1886, seorang pemimpin baru muncul: Mochamad Idris, yang kemudian dijuluki “Panembahan Ciomas”.
Berbeda dengan Arpan yang bertindak spontan, Idris menyusun rencana jauh-jauh hari. Sejak pemberontakan Arpan, ia telah mengumpulkan ratusan petani dari Kampung Pepojok, termasuk perempuan yang sawahnya disita Tuan Kecil.
Dengan orasi yang menggetarkan, Idris memobilisasi 300 orang—laki-laki dan perempuan—untuk menyerang landhuis keluarga Sturler di Kampung Taman pada 19 Mei 1886. Rencana mereka sederhana: bunuh seluruh keluarga Sturler, dari yang dewasa hingga anak-anak.
Namun saat mereka tiba, Tuan Kecil sudah melarikan diri ke Batavia. Kecewa, Idris dan pengikutnya menyerang para menak yang berkolaborasi dengan Belanda, serta menyandera gudang kopi Sturler di Warungloa. Coenen dan Tuan Kecil nyaris tewas dalam serangan itu.
Esok harinya, pasukan tambahan didatangkan dari Batavia. Mereka mengepung pasukan Idris di Pasir Paok, dan berhasil menangkap Idris beserta puluhan pengikutnya. Namun dampaknya jauh lebih besar: 2.000 petani—data dari Arsip Nasional RI (ANRI) mencatat jumlah itu tepat 2.000 orang—melakukan mogok massal dan eksodus ke Gunung Malang di Ciampea.
Momok bagi seluruh tuan tanah di Buitenzorg Barat pun lahir.
Pemberontakan Ciomas ini memang lebih kecil dibandingkan Pemberontakan Banten 1888 yang terkenal dalam tulisan Sartono Kartodirdjo. Namun yang membuatnya berbahaya adalah lokasinya yang hanya 15 kilometer dari Istana Bogor, tempat tinggal Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Jika Ciomas jatuh, seluruh kekuasaan kolonial di Priangan akan terancam.
Hingga hari ini, nama Arpan dan Idris tak pernah tercantum di buku pelajaran sejarah nasional. Yang diperingati hanyalah perlawanan elite, sementara ribuan petani yang rela mati demi tanah garapan mereka tetap terkubur dalam arsip-arsip tua berbahasa Belanda.
Di persawahan Ciomas yang masih ditanami pare setiap musim hujan, sisa-sisa kemarahan 1886 masih terasa: bahwa perlawanan sejati selalu dimulai dari orang-orang kecil yang tak punya apa-apa selain harga diri yang tak bisa dibeli dengan 1,5 juta gulden.
