Prabowo terima undangan FIFA untuk Piala Dunia 2026 di sela WEF. Diplomasi olahraga menguat, bahas masa depan sepak bola RI bersama Infantino & Zidane.
INDONESIAONLINE – Di tengah dinginnya pegunungan Alpen, Swiss, tempat para pemimpin dunia berkumpul membahas isu-isu berat seputar ekonomi global dan perubahan iklim dalam World Economic Forum (WEF) 2026, sebuah diplomasi yang lebih cair namun berdampak besar sedang terjadi. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, tidak hanya membawa agenda ekonomi, melainkan menegaskan posisi Indonesia dalam peta geopolitik olahraga dunia.
Pada Jumat (23/1/2026), Tim Media Presiden mengonfirmasi sebuah pertemuan strategis yang berlangsung hangat antara Presiden Prabowo dengan Presiden Fédération Internationale de Football Association (FIFA), Gianni Infantino. Pertemuan yang terjadi di sela-sela kepadatan agenda WEF ini menghasilkan satu poin simbolis namun krusial: undangan resmi bagi Kepala Negara Indonesia untuk menghadiri langsung putaran final Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat.
Undangan di Tengah Pesta Terbesar Sepak Bola
Undangan Gianni Infantino kepada Presiden Prabowo bukan sekadar formalitas protokoler. Piala Dunia 2026 yang akan digelar pada Juni hingga Juli mendatang mencatat sejarah baru dalam evolusi sepak bola global. Ajang ini akan menjadi edisi pertama yang diikuti oleh 48 negara peserta, meningkat drastis dari format sebelumnya yang hanya 32 tim.
Diselenggarakan di tiga negara raksasa Amerika Utara—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—turnamen ini diproyeksikan menjadi panggung olahraga terbesar dalam sejarah manusia. Kehadiran Presiden Indonesia di tribun kehormatan, jika terealisasi, akan menempatkan Indonesia dalam sorotan diplomasi tingkat tinggi.
Hal ini sejalan dengan visi “Indonesia Emas” di mana negara tidak hanya menjadi penonton, tetapi partisipan aktif dalam komunitas global.
“Gianni Infantino turut mengundang Presiden untuk menyaksikan secara langsung Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung pada bulan Juni hingga Juli mendatang di Amerika Serikat,” tulis keterangan resmi Tim Media Presiden.
Undangan ini menandakan bahwa FIFA melihat Indonesia bukan lagi sekadar pasar, melainkan mitra strategis di Asia.
FIFA dan Komitmen Jangka Panjang untuk Indonesia
Pertemuan di Davos ini mempertebal hubungan mesra antara Jakarta dan Zurich (markas FIFA) yang telah terbangun dalam beberapa tahun terakhir. Jika kita menarik data ke belakang, komitmen FIFA terhadap Indonesia sangat signifikan.
Mulai dari pendampingan pasca-tragedi Kanjuruhan, suksesnya Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-17 pada 2023, hingga pembangunan FIFA Training Center di Ibu Kota Nusantara (IKN) yang didanai melalui program FIFA Forward.
Dalam pertemuan dengan Prabowo, Infantino kembali memaparkan gagasan strategis pengembangan sepak bola Indonesia. Ini bukan sekadar obrolan warung kopi. FIFA menyadari bahwa dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan fanatisme suporter yang nyaris tak tertandingi di dunia, Indonesia adalah “raksasa tidur” yang perlu terus dibangunkan.
Stabilitas politik dan dukungan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo menjadi kunci bagi FIFA untuk terus menanamkan program-program pengembangannya di tanah air.
Sisi menarik lain dari diplomasi Prabowo di Davos adalah pendekatan yang humanis dan lintas generasi. Tidak hanya berbicara regulasi dengan birokrat bola seperti Infantino, Prabowo juga terlibat diskusi akrab dengan legenda hidup sepak bola dunia, Zinedine Zidane.
Momen yang terjadi pada Kamis (22/1/2026) malam waktu setempat itu menjadi lebih cair dengan kehadiran putra-putra mereka. Presiden Prabowo didampingi putranya, Ragowo Hediprasetyo Djojohadikusumo (Didit), sementara Zidane membawa putranya, Theo Zinedine Zidane.
Interaksi ini menembus batas formalitas kenegaraan. Obrolan antara Presiden Prabowo dengan Theo Zidane, yang kini berusia 23 tahun, menunjukkan perhatian Presiden terhadap detail perkembangan atlet. Theo, yang merupakan jebolan akademi Real Madrid (La Fabrica), saat ini tengah meniti karier profesionalnya bersama Cordoba CF di divisi dua Liga Spanyol (Segunda Division).
“Theo merespons pertanyaan Presiden dengan mengabarkan bahwa dirinya kini sedang memperkuat skuad Cordoba,” ungkap sumber dari pertemuan tersebut.
Dialog ini menyiratkan pesan tersirat: Indonesia sedang belajar dari ekosistem sepak bola Eropa. Bagaimana seorang legenda seperti Zidane mendidik anaknya untuk bersaing di level profesional adalah blueprint mentalitas yang dibutuhkan oleh talenta-talenta muda Indonesia.
Diplomasi Olahraga sebagai Soft Power
Apa yang dilakukan Presiden Prabowo di Davos adalah manifestasi nyata dari Sports Diplomacy atau diplomasi olahraga. Dalam studi hubungan internasional, olahraga seringkali menjadi soft power yang efektif untuk mencairkan ketegangan politik atau membuka pintu kerja sama ekonomi yang lebih luas.
Kehadiran Prabowo di WEF 2026 sendiri sudah strategis, namun pertemuannya dengan elit sepak bola dunia menambah dimensi lain. Sepak bola adalah bahasa universal. Ketika seorang Presiden RI duduk satu meja dengan Presiden FIFA dan legenda sekelas Zidane, citra Indonesia sebagai negara yang modern, terbuka, dan ramah terhadap komunitas global semakin kuat.
Hal ini juga menepis anggapan bahwa agenda presiden di forum ekonomi melulu soal investasi pabrik atau tambang. Investasi di bidang sumber daya manusia (SDM) melalui olahraga, kesehatan, dan pembentukan karakter pemuda—seperti yang tercermin dalam disiplin atlet—juga menjadi prioritas.
Masa Depan Sepak Bola di Era Pemerintahan Baru
Undangan ke Amerika Serikat dan diskusi di Swiss ini mengirimkan sinyal positif ke dalam negeri. Publik pecinta sepak bola Indonesia boleh optimis bahwa di bawah pemerintahan Presiden Prabowo, dukungan negara terhadap PSSI dan Timnas Indonesia tidak akan surut.
Apalagi, tantangan sepak bola Indonesia ke depan semakin kompleks. Mulai dari peningkatan infrastruktur liga domestik, penggunaan teknologi Video Assistant Referee (VAR) yang lebih masif, hingga target menembus peringkat 100 besar FIFA secara konsisten. Dukungan politik dari kepala negara (political will) sangat dibutuhkan untuk memuluskan jalan tersebut, terutama dalam hal perizinan, pendanaan, dan pembangunan fasilitas.
Agenda Presiden Prabowo yang padat, termasuk ketidakhadiran beliau di KTT G20 sebelumnya karena fokus pada urusan dalam negeri, menunjukkan bahwa setiap perjalanan luar negeri yang beliau lakukan—termasuk ke WEF 2026—memiliki bobot kepentingan nasional yang tinggi. Pertemuan dengan FIFA adalah bukti bahwa “sepak bola” sudah masuk dalam agenda strategis nasional, bukan sekadar hiburan rakyat semata.
Juni 2026 di Amerika Serikat nanti mungkin akan menjadi saksi, tidak hanya bagi kehebatan bintang-bintang lapangan hijau dunia, tetapi juga bagi kehadiran Indonesia yang diwakili oleh pemimpin tertingginya, menegaskan bahwa Garuda siap terbang lebih tinggi di angkasa global.
