Beranda

Duka Musik Indonesia: Vidi Aldiano Berpulang, Usai Berjuang Lawan Kanker

Duka Musik Indonesia: Vidi Aldiano Berpulang, Usai Berjuang Lawan Kanker
Oxavia Aldiano, atau yang lebih akrab disapa Vidi Aldiano, sang penyebar energi positif dan "Duta Persahabatan" para selebritas Tanah Air, telah menyelesaikan perjuangan panjangnya. Ia berpulang ke Rahmatullah pada usia 35 tahun. (io)

Musisi Vidi Aldiano meninggal dunia Sabtu (7/3/2026) usai berjuang melawan kanker ginjal. Simak perjalanan karier sang duta persahabatan di sini.

INDONESIAONLINE – Awan mendung seolah menggelayut di langit musik Indonesia pada Sabtu sore, 7 Maret 2026. Kabar yang selama ini ditakutkan, namun terus ditepis dengan doa dan harapan, akhirnya tiba.

Oxavia Aldiano, atau yang lebih akrab disapa Vidi Aldiano, sang penyebar energi positif dan “Duta Persahabatan” para selebritas Tanah Air, telah menyelesaikan perjuangan panjangnya. Ia berpulang ke Rahmatullah pada usia 35 tahun.

Kepergian Vidi bukan sekadar hilangnya seorang penyanyi bersuara emas, melainkan padamnya sebuah cahaya semangat dari sosok yang selama enam tahun terakhir mengajarkan kita arti berdamai dengan rasa sakit.

Mawar dari Andi Rianto dan Konfirmasi Keluarga

Kabar duka ini pertama kali menyeruak ke publik bukan melalui siaran pers formal, melainkan lewat unggahan penuh emosi dari komposer kenamaan, Andi Rianto. Melalui Insta Story-nya, Andi yang kerap berkolaborasi dengan Vidi mengunggah sebuah pesan perpisahan yang singkat namun menyayat hati.

“Selamat Jalan, Vidi Aldiano,” tulis Andi, menyematkan emoji bunga mawar yang layu, simbol perpisahan abadi.

Tak berselang lama, konfirmasi resmi datang dari pihak keluarga. Dalam pesan berantai yang diterima awak media, disebutkan bahwa Vidi mengembuskan napas terakhirnya pada pukul 16.33 WIB di rumah sakit, didampingi oleh orang-orang terkasihnya.

“Telah wafat anak saya: OXAVIA ALDIANO bin HARRY APRIANTO. Vidi wafat didampingi seluruh keluarga besar yang ikhlas akan kepergiannya menghadap Allah SWT, 7 Maret jam 16:33. Selamat Jalan Menuju Cahaya Ilahi Nak,” bunyi pesan yang menyiratkan ketabahan sekaligus kedalaman duka keluarga besar Harry Aprianto Kissowo.

Enam Tahun “Berdamai” dengan Kanker Ginjal

Membicarakan kepergian Vidi tak bisa lepas dari kisah heroiknya melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Publik masih ingat betul kejutan yang ia berikan pada akhir 2019. Lewat sebuah video di kanal YouTube-nya, Vidi dengan tegar mengumumkan bahwa ia didiagnosis mengidap kanker ginjal stadium 3.

Saat itu, ia baru saja melakukan operasi pengangkatan ginjal kiri di Singapura. Kanker yang dideritanya adalah jenis karsinoma sel ginjal (Renal Cell Carcinoma). Data medis menyebutkan bahwa ini adalah jenis kanker ginjal yang paling umum pada orang dewasa. Namun, bagi seorang pria muda yang aktif dan tidak merokok seperti Vidi, diagnosis ini adalah sebuah anomali yang mengejutkan.

Meski ginjal kirinya telah diangkat, sel kanker tersebut ternyata “bandel”. Pada tahun-tahun berikutnya, kanker tersebut bermetastasis atau menyebar ke beberapa titik di tubuhnya. Vidi pun harus menjalani rutinitas “spa day”—istilah halus yang ia gunakan untuk sesi kemoterapi—setiap tiga minggu sekali.

Dalam sebuah wawancara lawas di tahun 2023, Vidi pernah berujar, “Gue nggak mau dikenal sebagai orang sakit. Gue mau dikenal karena karya gue.”

Semangat inilah yang membuatnya terus bertahan. Meski jarum infus silih berganti menusuk lengannya, ia tetap tampil prima di panggung, menjadi juri ajang pencarian bakat, hingga aktif membuat konten podcast.

Namun, tubuh manusia memiliki batasnya. Pada Desember 2025, Vidi mengambil keputusan berat untuk hiatus total dari dunia hiburan guna fokus pada pengobatan intensif setelah kondisinya dikabarkan menurun. Itu adalah kali terakhir publik mendengar suara tawanya yang khas, sebelum kabar duka ini datang tiga bulan kemudian.

Darah Seni dan Kegagalan yang Membangun Legenda

Lahir di Jakarta pada 29 Maret 1990, Vidi Aldiano tumbuh dalam lingkungan yang sangat musikal. Ayahnya, Harry Aprianto Kissowo, bukan hanya pengusaha sukses pemilik V8Sound—perusahaan tata suara yang kerap dipakai di istana negara—tetapi juga pecinta musik. Ibunya, Besbarini, adalah seorang guru piano yang menanamkan dasar-dasar bermusik pada Vidi sejak usia tiga tahun.

Tak banyak yang tahu bahwa darah seni Vidi juga mengalir deras dari neneknya, S. Darsih Kissowo, seorang penyanyi keroncong legendaris asal Semarang. Bakat itu jelas terlihat saat Vidi kecil sudah pandai menirukan jingle iklan dan melantunkan adzan dengan merdu.

Namun, jalan menuju puncak popularitas tidaklah mulus. Ironi terbesar dalam kariernya terjadi pada tahun 2006. Vidi remaja yang penuh percaya diri mengikuti audisi Indonesian Idol. Membawakan lagu “Pada Satu Cinta” milik mendiang Glenn Fredly, langkah Vidi justru terhenti di babak 100 besar. Ia ditolak oleh industri yang kelak justru akan memujanya.

Kegagalan itu menjadi bensin yang membakar semangatnya. Alih-alih menyerah, Vidi dan ayahnya memproduksi album debut secara independen. Pada 2008, album Pelangi di Malam Hari dirilis.

Siapa sangka, lagu daur ulang “Nuansa Bening” (yang aslinya dipopulerkan Keenan Nasution) meledak di pasaran. Vokal Vidi yang renyah dengan teknik falsetto yang mumpuni menjadi angin segar di tengah dominasi band Melayu kala itu.

Diskografi dan Prestasi Internasional

Sepanjang kariernya, Vidi membuktikan bahwa ia bukan musisi one hit wonder. Album keduanya, Yang Kedua (2011), memantapkan posisinya di jajaran solois pria papan atas. Namun, pencapaian artistik tertingginya mungkin terlihat pada album Persona (2016).

Tidak main-main, proses mastering album ini dilakukan di Abbey Road Studios, London, studio legendaris tempat The Beatles berkarya. Album ini sukses besar secara komersial, meraih predikat Triple Platinum dengan penjualan fisik melampaui 250.000 keping pada Januari 2017—angka yang fantastis di era digital.

Karya terakhirnya, album Senandika (2022), menjadi surat cinta sekaligus catatan harian perjuangannya. Lagu “Bertahan Lewati Senja” di album tersebut secara eksplisit menggambarkan perasaannya saat divonis kanker. Lagu itu bukan sekadar lirik, melainkan mantra penguat bagi dirinya dan para pejuang kanker lainnya.

Selain musik, Vidi juga dikenal sebagai sosok yang mementingkan pendidikan. Ia merupakan lulusan Universitas Pelita Harapan (UPH) dengan predikat Summa Cum Laude dan melanjutkan studi S2 di University of Manchester, Inggris, dengan predikat Cum Laude. Kecerdasan akademis ini tercermin dari cara bicaranya yang tertata dan manajemen kariernya yang rapi.

Cinta, Sheila Dara, dan Gelar Sutan Sari Alam

Di balik sorotan lampu panggung, kisah cinta Vidi Aldiano dengan aktris Sheila Dara Aisha menjadi oase tersendiri. Hubungan mereka unik; Vidi yang ekstrovert dan ekspresif bersanding dengan Sheila yang introvert dan super santai. Netizen bahkan kerap membuat kompilasi video lucu tentang betapa “pasrahnya” Sheila menghadapi tingkah Vidi.

Sempat putus nyambung sejak kedekatan mereka di serial Stereo (2015), keduanya membuktikan bahwa jodoh tak akan kemana. Vidi melamar Sheila pada 2021 dan menikahinya pada 15 Januari 2022. Pernikahan itu tak hanya menyatukan dua hati, tapi juga dua budaya. Pasca menikah, Vidi mendapat gelar kehormatan adat Minangkabau dari Bukittinggi, yakni Sutan Sari Alam.

Sheila Dara menjadi saksi bisu hari-hari terberat Vidi. Dalam lagu “Dara”, Vidi menuliskan betapa besar peran sang istri sebagai penopang hidupnya. Kepergian Vidi tentu menjadi pukulan terberat bagi Sheila, sosok yang selama ini terlihat tenang namun menyimpan cinta yang dalam.

Julukan “Duta Persahabatan” atau social butterfly bukan tanpa alasan disematkan pada Vidi. Ia dikenal sebagai sosok yang bisa masuk ke segala circle pertemanan, mulai dari musisi senior, atlet, influencer, hingga pejabat negara. Kehadirannya selalu membawa tawa.

Kini, tawa itu telah menjadi kenangan. Industri musik Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Bukan hanya karena suara falsetto-nya yang khas, tapi karena ketangguhan mentalnya. Vidi Aldiano mengajarkan kita bahwa vonis dokter hanyalah data medis, namun semangat untuk hidup dan berkarya adalah pilihan jiwa.

Selamat jalan, Oxavia Aldiano. Lagu-lagumu akan terus menjadi “Nuansa Bening” yang abadi di telinga kami, dan perjuanganmu akan selalu menjadi “Status Palsu” bagi keputusasaan—karena kau membuktikan bahwa harapan itu selalu nyata. Terima kasih telah mewarnai dunia kami.

Exit mobile version