INDONESIAONLINE – Mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat sekaligus eks Direktur Central Intelligence Agency (CIA) Leon Panetta menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai pihak yang bertanggung jawab atas memburuknya situasi di Timur Tengah hingga memicu krisis energi global.
Dalam wawancaranya dengan The Guardian, Panetta menyebut kebijakan Trump dalam konflik kawasan tersebut menunjukkan sikap yang naif dan kurang perhitungan. Ia bahkan mengibaratkan pendekatan Trump seperti cara berpikir seorang anak kecil.
“Dia cenderung naif tentang bagaimana sesuatu bisa terjadi. Jika dia mengatakannya dan terus mengatakannya, dia berharap apa yang dia katakan akan menjadi kenyataan. Tapi itu yang dilakukan anak-anak. Itu bukan yang dilakukan seorang presiden,” kata Panetta kepada The Guardian.
Menurut Panetta, penutupan Selat Hormuz yang berdampak besar terhadap pasokan energi dunia tidak akan terjadi jika langkah-langkah yang diambil pemerintah AS lebih matang. Ia menegaskan isu tersebut sebenarnya sudah lama menjadi perhatian dalam berbagai forum keamanan nasional.
Konflik antara AS dan Iran yang pecah sejak akhir Februari awalnya diperkirakan akan memberikan keunggulan cepat bagi Washington. Namun, situasi justru berkembang di luar kendali dan menimbulkan kerugian, termasuk korban jiwa di pihak militer AS.
Meski sempat berhasil menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, langkah tersebut dinilai tidak melemahkan pemerintahan Teheran, melainkan memperkuat soliditas internalnya.
Di dalam negeri, Trump juga menghadapi tekanan politik yang meningkat. Lonjakan harga minyak akibat konflik memicu ketidakpuasan publik, sementara dukungan politik mulai tergerus.
Panetta menilai kondisi tersebut membuat Trump berada dalam posisi sulit, terutama dalam menentukan langkah selanjutnya, apakah memperluas konflik atau mencari jalan keluar diplomatik. Namun, ia menegaskan bahwa situasi yang terjadi saat ini merupakan konsekuensi dari kebijakan yang diambil Trump sendiri.
Ia juga meragukan kemungkinan tercapainya gencatan senjata dalam waktu dekat selama Iran masih menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan dalam konflik yang berlangsung. (rds/hel)
