FIFA perketat aturan di Piala Dunia 2026. Suporter Inggris dilarang bawa bendera bertentara & nyanyikan ejekan buat PM Keir Starmer.
INDONESIAONLINE – Ribuan suporter Timnas Inggris yang berencana menyaksikan langsung laga pembuka Grup L Piala Dunia 2026 melawan Kroasia di Stadion Dallas, Arlington, menerima peringatan keras dari FIFA. Mereka berisiko diusir dari stadion, bahkan lebih jauh lagi, federasi bisa terkena sanksi berat jika para pendukung “The Three Lions” melanggar protokol perilaku baru yang diterapkan selama turnamen berlangsung.
Ironisnya, aturan ketat ini diterapkan di Amerika Serikat, negara yang dikenal dengan regulasi kepemilikan senjata api yang longgar. Namun, di dalam arena sepak bola, FIFA justru menerapkan standar moral dan keamanan yang jauh lebih kaku.
FIFA secara eksplisit melarang penggunaan spanduk, bendera, atribut, hingga pakaian yang dianggap mengandung unsur ofensif, diskriminatif, atau bermuatan politik. Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) pun kini berada dalam posisi sulit. Mereka harus memastikan para pendukungnya tidak melakukan tindakan yang bisa berujung sanksi finansial bagi federasi.
Sebagai referensi, Federasi Sepak Bola Meksiko (FEMEXFUT) baru saja dijatuhi denda dengan total nilai lebih dari satu juta dolar AS akibat nyanyian bernada homofobia yang diteriakkan suporternya. FA tidak ingin hal serupa menimpa mereka di tengah mahalnya biaya operasional tim di AS.
Nyanyian Ejekan PM Keir Starmer Dalam Radar
Salah satu fokus utama pengawasan FIFA adalah penggunaan bahasa atau gestur yang dianggap ofensif. Menariknya, hal ini menyasar budaya suporter Inggris yang kerap mengejek tokoh politik. Nyanyian dengan lirik “Keir Starmer’s a w***er” (Keir Starmer adalah seorang brengsek) yang beberapa kali terdengar dalam pertandingan Timnas Inggris kini masuk dalam kategori berbahaya.
Chant tersebut sempat terdengar saat Inggris menjalani laga uji coba terakhir melawan Kosta Rika pekan lalu. Laporan menyebutkan bahwa siaran televisi bahkan sempat menurunkan volume suara penonton hanya untuk mengurangi terdengarnya nyanyian tersebut. FIFA menilai ejekan langsung kepada Perdana Menteri Inggris tersebut berpotensi menimbulkan masalah diplomatis dan melanggar aturan sportivitas.
Selain soal vokal, aturan visual juga menjadi perhatian serius. Suporter Inggris tetap diperbolehkan membawa bendera Salib St. George sebagai simbol kebanggaan nasional. Namun, FIFA menutup pintu bagi bendera yang digunakan untuk menghormati korban perang jika pada desainnya terdapat siluet tentara yang sedang memegang senapan.
Aturan lain menyebutkan bahwa bendera berukuran lebih dari 2 meter x 1,5 meter harus mendapatkan persetujuan tertulis dari FIFA sebelum turnamen dimulai. Tanpa izin tersebut, bendera raksasa tersebut tidak dapat dibawa masuk ke area stadion.
Kebijakan ini memicu keheranan di kalangan suporter. Seorang suporter Inggris yang diwawancarai Daily Mail mengaku tidak habis pikir dengan logika pengamanan FIFA.
“Ini gila!” katanya.
“Saya rasa jika saya pergi ke Walmart di seberang jalan untuk membeli senjata api, tidak akan ada masalah. Namun, saya justru tidak bisa masuk stadion dengan bendera untuk menghormati mereka yang telah mengorbankan nyawa demi negara kami hanya karena ada gambar tentara yang memegang senapan di sana!” lanjutnya.
Tekanan bagi Timnas dan Pelatih
Situasi ini menambah tekanan bagi skuad asuhan Thomas Tuchel. Setelah menghadapi Kroasia di Dallas, Inggris akan melanjutkan perjalanan ke Boston untuk menghadapi Ghana. Laga terakhir Grup L kemudian akan dimainkan di New Jersey melawan Panama.
Sebagian besar suporter Inggris disebut telah mengeluarkan biaya hingga ribuan paun untuk mengikuti perjalanan timnas tercinta di Piala Dunia 2026. Mereka tentu tidak ingin pengorbanan finansial tersebut berujung sia-sia hanya karena atribut yang mereka bawa ditahan petugas keamanan.
Sementara itu, pelatih Tuchel dikabarkan enggan ambil pusing meski salah satu pemainnya, Trent Alexander-Arnold, kembali menuai kritik dan sempat diabaikan dalam skema tertentu. Fokus utama tim saat ini adalah memastikan performa di lapangan tidak terganggu oleh keributan di tribun penonton.
Dengan aturan ketat ini, Piala Dunia 2026 dipastikan akan menjadi ajang ujian kesabaran bagi suporter. FIFA tampaknya bertekad untuk membersihkan citra sepak bola dari unsur politik dan militeristik, meskipun harus berbenturan dengan budaya tradisi suporter negara peserta
