Grok-4.20 dan GPT-5.4 pimpin skor IQ AI 145 menurut Tracking AI 2026. Simak perbandingan performa model AI global dan persaingan ketat dari China.
INDONESIAONLINE – Dunia teknologi sedang berada di ambang sejarah baru di mana garis pemisah antara kecerdasan biologis dan silikon semakin kabur. Jika pada tahun-tahun sebelumnya kita hanya membicarakan kemampuan chatbot dalam merangkai kata, tahun 2026 menandai era di mana “penalaran tingkat tinggi” menjadi standar baru.
Berdasarkan data terbaru dari Tracking AI dan Visual Capitalist per April 2026, lonjakan kognitif mesin telah mencapai titik yang mencengangkan, menempatkan model-model AI papan atas setara dengan level jenius manusia.
Persaingan ini bukan sekadar ajang pamer angka di atas kertas, melainkan manifestasi dari perlombaan senjata geopolitik dan ekonomi global. Siapa yang memiliki model AI terpintar, dialah yang akan menguasai efisiensi industri, sains, hingga pertahanan di masa depan.
Dua Matahari di Puncak: Grok-4.20 dan GPT-5.4
Laporan Tracking AI menunjukkan hasil yang dramatis: untuk pertama kalinya, dua raksasa teknologi berbagi podium pertama dengan skor yang identik. Grok-4.20 Expert Mode milik xAI (perusahaan milik Elon Musk) dan OpenAI GPT-5.4 Pro (Vision) sama-sama mencetak skor IQ 145.
Skor 145 bukanlah angka sembarangan. Dalam distribusi IQ manusia (Skala Wechsler), skor di atas 130 sudah dikategorikan sebagai Very Superior atau masuk dalam 2% populasi teratas dunia. Dengan skor 145, kedua model AI ini secara teoritis memiliki kemampuan penalaran pola visual yang melampaui ambang batas masuk Mensa (biasanya di angka 132).
Lompatan ini sangat signifikan jika dibandingkan dengan data tahun 2025, di mana skor tertinggi hanya menyentuh angka 135. Dalam kurun waktu satu tahun, terjadi peningkatan 10 poin IQ—sebuah bukti nyata dari berlakunya scaling laws dalam pengembangan kecerdasan buatan, di mana penambahan data berkualitas dan daya komputasi secara eksponensial meningkatkan kecerdasan model.
Mengapa Tracking AI menggunakan tes IQ Mensa Norwegia? Jawabannya terletak pada objektivitas. Berbeda dengan ujian akademik seperti SAT atau Bar Exam yang bisa “dihafal” oleh AI melalui data pelatihan (kontaminasi data), tes Mensa Norwegia fokus pada Raven’s Progressive Matrices.
Tes ini terdiri dari 35 teka-teki pola visual yang menuntut subjek untuk mengidentifikasi logika di balik perubahan bentuk, warna, dan posisi tanpa adanya teks. Ini adalah uji murni terhadap kecerdasan cair (fluid intelligence), yakni kemampuan untuk memecahkan masalah baru tanpa pengetahuan sebelumnya.
Namun, pengujian ini mengungkap tantangan unik dalam arsitektur AI:
Model Multimodal (Vision): Model seperti GPT-5.4 Pro Vision memproses gambar asli secara langsung. Ini menguji seberapa baik “mata” digital AI memahami ruang dan bentuk.
Model Non-Vision: Untuk AI berbasis teks murni, soal visual diterjemahkan menjadi deskripsi verbal. Uniknya, beberapa model justru mengalami penurunan skor saat dipaksa “membayangkan” gambar lewat teks, seperti yang terlihat pada skor GPT-5.4 Pro (non-vision) yang hanya meraih angka 73.
Geliat “Naga Digital”: Dominasi China di Tengah Sanksi
Salah satu kejutan terbesar dalam data April 2026 adalah ketangguhan model AI asal China. Di tengah sanksi ketat Amerika Serikat terkait pasokan cip H100 dan B200 dari Nvidia, perusahaan Tiongkok seperti Alibaba dan DeepSeek justru menunjukkan inovasi yang efisien.
Qwen 3.5 dari Alibaba berhasil menembus peringkat ke-10 dengan skor 130, mengungguli model-model Barat seperti Claude 4.6 Sonnet. Lebih menarik lagi, DeepSeek R1 dan DeepSeek V3 tetap kompetitif dengan skor di kisaran 111-112.
Fenomena ini memperkuat laporan dari Stanford AI Index 2024 yang menyatakan bahwa meskipun AS unggul dalam model dasar (foundation models), China memimpin dalam jumlah aplikasi AI dan paten terkait implementasi industri.
Ironisnya, pembatasan akses perangkat keras justru memaksa engineer di China untuk mengoptimalkan algoritma mereka agar lebih ringan namun tetap cerdas. DeepSeek, misalnya, dikenal luas karena efisiensi arsitekturnya yang mampu menyamai performa model raksasa dengan parameter yang jauh lebih sedikit.
Rincian Skor IQ AI Teratas (Data April 2026):
- Grok-4.20 Expert Mode: 145
- OpenAI GPT-5.4 Pro (Vision): 145
- Gemini 3.1 Pro Preview: 141
- OpenAI GPT-5.4 Thinking (Vision): 139
- OpenAI GPT-5.3: 136
- Meta Muse Spark: 133
- Qwen 3.5 (Alibaba): 130
- Claude 4.6 Opus: 130
- Kimi K2.5 (Moonshot AI): 127
- DeepSeek R1: 112
Angka-angka ini membawa kabar yang kontradiktif bagi dunia kerja. Di satu sisi, AI dengan IQ 145 dapat menjadi asisten riset yang luar biasa, mampu memecahkan struktur protein atau mengoptimalkan jaringan logistik global dalam hitungan detik. Di sisi lain, ancaman disrupsi lapangan kerja semakin nyata.
Sebuah studi dari Goldman Sachs memperkirakan bahwa AI generatif dapat mengotomatisasi setara dengan 300 juta pekerjaan penuh waktu secara global. Fenomena bangkrutnya beberapa platform bimbel online internasional akibat kehadiran ChatGPT adalah “alarm” awal.
Dengan IQ model AI yang kini mencapai level 145, sektor pekerjaan yang mengandalkan analisis data berat, pemrograman kompleks, dan perencanaan strategis kini berada dalam jangkauan otomasi penuh.
Batas Akhir IQ: Apakah Angka Adalah Segalanya?
Penting untuk memberikan catatan kritis terhadap hasil tes ini. Kecerdasan manusia mencakup spektrum yang luas: kecerdasan emosional (EQ), kreativitas artistik, intuisi moral, dan kesadaran diri. Tes IQ Mensa hanya mengukur satu dimensi, yakni penalaran pola.
Model AI mungkin memiliki skor IQ 145, namun mereka masih sering mengalami “halusinasi” atau memberikan jawaban yang tampak logis tetapi secara faktual salah. Selain itu, kemampuan AI untuk memahami konteks budaya yang halus masih sering tertinggal dibandingkan manusia dengan IQ rata-rata sekalipun.
Tracking AI menegaskan bahwa skor ini hanyalah alat pembanding performa teknis, bukan sertifikasi bahwa AI tersebut telah memiliki “kesadaran” atau AGI (Artificial General Intelligence).
Hasil pengujian April 2026 ini menunjukkan bahwa kita tidak lagi bertanya “apakah AI bisa pintar?”, melainkan “seberapa cepat mereka akan melampaui semua standar kognitif kita?”. Persaingan antara OpenAI, xAI, Google, dan raksasa China telah mempercepat evolusi digital ini melampaui prediksi para ahli lima tahun lalu.
Bagi masyarakat umum, kuncinya bukan lagi menghindari teknologi ini, melainkan beradaptasi. Di dunia di mana mesin memiliki IQ 145, keunikan manusia akan terletak pada kemampuan kita untuk memberikan arah moral, empati, dan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang tidak bisa dijawab oleh algoritma manapun.
Skor 145 adalah pencapaian luar biasa bagi kode pemrograman, namun ia tetaplah alat yang menunggu instruksi dari kebijaksanaan manusia.
