Beranda

Huckabee dan Fantasi Israel Raya: Ketika Teologi Guncang Diplomasi Timteng

Huckabee dan Fantasi Israel Raya: Ketika Teologi Guncang Diplomasi Timteng
Dubes AS untuk Israel Mike Huckabee (Foto: REUTERS/Eduardo Munoz)

Pernyataan Mike Huckabee soal Israel Raya dari Nil ke Efrat memicu kemarahan Arab Saudi hingga Mesir. Mengapa narasi teologis ini berbahaya bagi diplomasi modern?

INDONESIAONLINE – Dalam dunia diplomasi yang penuh tata krama dan kehati-hatian, kata-kata adalah senjata. Namun, di sebuah studio podcast yang santai, di hadapan mikrofon milik komentator sayap kanan Tucker Carlson, Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, seolah melepaskan “granat” verbal ke jantung Timur Tengah.

Bukan dengan ancaman perang, melainkan dengan sebuah tafsir kitab suci yang memantik trauma sejarah dan ketakutan geopolitik di seluruh kawasan Arab.

Jumat lalu, dalam percakapan yang seharusnya cair, Carlson memantik diskusi tentang konsep teologis kuno: hak alkitabiah Israel atas tanah yang membentang dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Efrat di Irak. Jawaban Huckabee, meski kemudian diklarifikasi sebagai “hiperbolis”, tidak hanya menggema di Washington, tetapi mengguncang istana-istana kerajaan di Riyadh, Amman, hingga Kairo.

“Tidak masalah jika mereka (Israel) ingin mengambilnya,” ujar Huckabee santai.

Sebuah kalimat pendek yang seketika menghapus garis batas antara keyakinan pribadi seorang Evangelis dan posisi resmi seorang diplomat negara adidaya.

Artikel ini tidak hanya melihat “apa” yang dikatakan, tetapi menelusuri “mengapa” hal itu diucapkan, akar sejarah di baliknya, dan mengapa fantasi tentang “Israel Raya” ini menjadi mimpi buruk bagi stabilitas modern di Timur Tengah.

Membongkar Mitos “Dari Sungai ke Sungai”

Untuk memahami kemarahan dunia Arab, kita harus menyelami apa yang sebenarnya disinggung oleh Carlson dan diamini oleh Huckabee. Konsep ini merujuk pada janji Tuhan kepada Abraham dalam Kitab Kejadian (Genesis) 15:18: “Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat.”

Dalam terminologi politik Zionis garis keras, ini dikenal sebagai Eretz Yisrael HaShlema atau “Tanah Israel Lengkap”. Secara harfiah, peta ini akan mencaplok wilayah modern Palestina, sebagian besar Yordania, sebagian Suriah, Lebanon, sebagian Arab Saudi, hingga perbatasan Irak dan Mesir.

Bagi Huckabee, seorang mantan pendeta Baptis yang beralih menjadi politisi, ayat ini adalah kebenaran iman. Namun, bagi para pemimpin Arab, ini adalah ancaman eksistensial. Ketika seorang Duta Besar AS—negara penjamin keamanan utama di kawasan—memberi sinyal “lampu hijau” pada klaim teritorial seluas itu, hantu kolonialisme dan ekspansionisme kembali bangkit.

Sejarawan Timur Tengah mencatat bahwa ketakutan ini bukan tanpa dasar. Pada tahun 1982, Oded Yinon, seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Israel, pernah menulis strategi (dikenal sebagai Yinon Plan) yang menyarankan agar Israel memecah belah negara-negara tetangga Arab menjadi satuan-satuan etnis kecil demi hegemoni regional.

Ucapan Huckabee, sengaja atau tidak, menghidupkan kembali memori tentang rencana strategis tersebut di benak para diplomat Arab.

Gelombang Kecaman: Dari Kairo hingga Riyadh

Reaksi yang muncul sangat cepat dan terkoordinasi, menandakan betapa sensitifnya isu kedaulatan di kawasan ini. Arab Saudi, yang selama ini sedang dalam proses negosiasi normalisasi hubungan yang rumit dengan AS dan Israel, mengeluarkan pernyataan yang tidak biasa kerasnya.

Riyadh menyebut komentar itu “ceroboh” dan “tak bertanggung jawab”. Bagi Saudi, yang merupakan penjaga Dua Kota Suci, membiarkan narasi ekspansi Israel ke wilayah Arab tanpa tantangan adalah bunuh diri politik.

Yordania dan Mesir bereaksi lebih keras lagi. Kedua negara ini adalah satu-satunya tetangga yang memiliki perjanjian damai resmi dengan Israel dan berbatasan langsung. Yordania menyebutnya sebagai “serangan terhadap kedaulatan”, sementara Mesir menegaskan kembali hukum internasional.

Ketakutan Amman dan Kairo sangat spesifik: jika Israel merasa berhak atas wilayah “Biblical”, maka perjanjian damai Camp David (1979) dan Wadi Araba (1994) bisa dianggap batal demi teologi.

“Ini bukan sekadar retorika podcast,” ujar seorang analis politik di Amman yang enggan disebut namanya.

“Bagi kami di Yordania, wacana ‘Israel Raya’ sering kali berarti ‘Yordania adalah Palestina’. Ini ancaman langsung terhadap keberlangsungan kerajaan Hashemite,” lanjutnya.

Profil Huckabee: Diplomat atau Misionaris?

Siapa sebenarnya Mike Huckabee? Mengapa pandangannya begitu berbeda dari konsensus diplomatik AS selama puluhan tahun?

Huckabee bukan diplomat karier jebolan Foreign Service. Ia adalah mantan Gubernur Arkansas dan seorang pendeta yang mewakili sayap Kristen Zionis di Amerika Serikat.

Kelompok ini, yang menjadi basis pemilih setia Donald Trump, percaya bahwa kembalinya Yahudi ke Tanah Israel adalah prasyarat bagi Kedatangan Kedua Yesus Kristus.

Dalam pandangan teopolitik ini, batas negara modern (seperti Tepi Barat atau Gaza) tidak relevan jika bertentangan dengan teks Alkitab. Huckabee sebelumnya pernah menyatakan bahwa “tidak ada yang namanya orang Palestina” dan secara konsisten menolak solusi dua negara (two-state solution).

Penunjukannya oleh Trump sebagai Duta Besar adalah sinyal jelas bahwa pemerintahan AS yang baru akan memprioritaskan ideologi di atas protokol diplomatik tradisional.

Klarifikasi Huckabee di platform X (sebelumnya Twitter) yang menyebut pernyataannya “hiperbolis” dan bahwa Israel “tidak meminta untuk mengambil semuanya” tampak seperti upaya pemadam kebakaran yang terlambat. Kerusakan diplomatik telah terjadi. Kepercayaan yang rapuh antara Washington dan ibu kota-ibu kota Arab kembali retak.

Paradoks Tucker Carlson dan Sayap Kanan

Sisi lain yang menarik dari kontroversi ini adalah panggung di mana ia terjadi: podcast Tucker Carlson. Carlson adalah figur yang kompleks. Di satu sisi, ia dituduh memberikan platform kepada pandangan antisemitisme—terutama setelah wawancaranya dengan Nick Fuentes, seorang penyangkal Holocaust. Di sisi lain, ia menjadi tuan rumah bagi seorang Zionis Kristen ultra-kanan seperti Huckabee.

Amir Ohana, Ketua Parlemen Israel (Knesset), bahkan memuji Huckabee dan menyerang Carlson, menuduhnya melakukan manipulasi. Ini menunjukkan keretakan di dalam kubu konservatif global itu sendiri: antara kaum nasionalis isolasionis (seperti Carlson/Fuentes) yang skeptis terhadap keterlibatan asing, dan kaum neokonservatif religius (seperti Huckabee) yang ingin AS mendukung Israel tanpa syarat atas dasar iman.

Apa konsekuensi riil dari “keseleo lidah” Huckabee ini?

Pertama, ini mempersulit posisi Arab Saudi. Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) membutuhkan jaminan keamanan dan jalan menuju negara Palestina sebagai syarat normalisasi dengan Israel. Pernyataan Dubes AS yang menyiratkan dukungan pada aneksasi besar-besaran membuat posisi tawar Saudi di mata rakyatnya sendiri menjadi lemah.

Kedua, ini memperkuat kelompok garis keras di Israel. Dengan memiliki sekutu di Washington yang berbicara tentang “hak alkitabiah” hingga Sungai Efrat, menteri-menteri sayap kanan di kabinet Benjamin Netanyahu, seperti Bezalel Smotrich dan Itamar Ben-Gvir, mendapatkan angin segar untuk terus mendorong perluasan permukiman ilegal di Tepi Barat, bahkan mungkin melihat ke Gaza utara.

Ketiga, erosi hukum internasional. Ketika seorang pejabat tinggi AS berbicara tentang wilayah negara berdaulat lain sebagai “hak milik” negara lain berdasarkan teks keagamaan ribuan tahun lalu, fondasi hukum internasional modern—yang berbasis pada batas negara yang diakui PBB—menjadi goyah.

Kuwait dan Oman secara tepat menyoroti aspek ini: pelanggaran terhadap prinsip hukum internasional. Jika narasi Huckabee dinormalisasi, maka tidak ada lagi batas negara yang aman di Timur Tengah. Setiap sengketa bisa dibenarkan atas dasar klaim religius masa lalu.

Timur Tengah adalah wilayah di mana sejarah tidak pernah benar-benar mati; ia hanya tertidur. Pernyataan Mike Huckabee telah membangunkan salah satu narasi paling berbahaya di kawasan itu: perang agama yang dibungkus sengketa wilayah.

Meskipun Washington mungkin akan berusaha melokalisir insiden ini sebagai pendapat pribadi di sebuah podcast, pesan yang diterima oleh dunia Arab sangat jelas. Di era baru diplomasi Amerika, Alkitab mungkin akan lebih sering dibuka di meja perundingan daripada piagam PBB. Dan bagi stabilitas kawasan yang sudah membara oleh perang di Gaza dan Lebanon, ini adalah bahan bakar yang sangat tidak diperlukan.

Diplomasi membutuhkan ambiguitas yang konstruktif, namun Huckabee menawarkan kepastian teologis yang destruktif. Ketika iman menjadi peta jalan politik luar negeri, jalan menuju perdamaian di Timur Tengah tampaknya akan semakin jauh, terjal, dan berdarah.

Exit mobile version