Beranda

Indonesia Gagal Masuk Daftar 20 Negara Paling Sopan di Dunia

Indonesia Gagal Masuk Daftar 20 Negara Paling Sopan di Dunia
Ilusrasi kesopanan masyarakat Jepang yang menempatkan negara Matahari Terbit ini jadi negara paling sopan di dunia urutan pertama (io)

Jepang puncaki daftar negara paling sopan sedunia. Ironisnya, Indonesia yang dikenal ramah tak masuk 20 besar. Simak analisis penyebabnya di sini.

INDONESIAONLINE – Selama puluhan tahun, brosur-brosur pariwisata internasional selalu menyematkan satu predikat tak tertulis bagi Indonesia: salah satu negara dengan penduduk paling ramah di muka bumi. Senyum yang mudah mengembang, sapaan hangat di jalanan, hingga budaya gotong royong seolah menjadi validasi atas klaim tersebut. Namun, sebuah laporan global terbaru baru saja memberikan tamparan realitas yang cukup mengejutkan.

Melansir publikasi dari Time Out, sebuah studi dan survei berskala global yang diinisiasi oleh layanan keuangan Remitly merilis daftar negara paling sopan di dunia. Hasilnya menjadi sebuah anomali bagi kebanggaan nasional kita: Indonesia sama sekali tidak berhasil menembus posisi 20 besar.

Survei ini bukanlah jajak pendapat sembarangan. Melibatkan sekitar 4.600 responden yang tersebar di 26 negara, metodologi survei ini mengukur metrik persepsi masyarakat terkait tingkat kesopanan yang holistik. Penilaian tidak hanya diukur dari seberapa sering warga tersenyum, melainkan bagaimana penduduk suatu negara memperlakukan orang lain, menghargai ruang publik, hingga cara mereka menyambut dan berinteraksi dengan wisatawan asing maupun sesama warga lokal.

Lantas, bagaimana peta kesopanan dunia saat ini, dan mengapa Indonesia—sang raksasa keramahan—bisa terdepak dari daftar elite tersebut?

Hegemoni Kesopanan Jepang dan Budaya “Omotenashi”

Tidak mengejutkan bagi banyak pengamat sosiologi ketika Jepang keluar sebagai juara mutlak dalam survei ini. Negara Matahari Terbit tersebut menempati posisi pertama dengan skor dominan, di mana 35,15 persen responden global menilai tingkat kesopanan masyarakat Jepang berada di level yang sangat tinggi dan tak tertandingi.

Kemenangan Jepang bukan sekadar soal mengucapkan salam. Ini adalah manifestasi dari filosofi kuno yang mengakar dalam DNA masyarakat mereka yang disebut Omotenashi—sebuah konsep keramahtamahan dan pelayanan sepenuh hati tanpa mengharapkan imbalan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kesopanan di Jepang termanifestasi dalam kedisiplinan sosial yang ketat. Mulai dari kebiasaan membungkuk (ojigi) dengan sudut kemiringan yang disesuaikan dengan tingkat penghormatan, menjaga volume suara di transportasi umum, hingga etika membuang sampah.

Budaya ini diajarkan secara terstruktur sejak pendidikan anak usia dini. Di sekolah-sekolah Jepang, anak-anak diajarkan moralitas dan etika komunal sebelum mereka dituntut untuk menguasai matematika atau sains. Harmoni sosial dinilai jauh lebih penting daripada keunggulan individual.

Sihir Kata “Maaf” ala Kanada dan Inggris

Menyusul di bawah bayang-bayang Jepang, negara-negara Barat menunjukkan karakteristik kesopanan yang berbeda namun sama efektifnya. Kanada menempati posisi kedua dengan skor 13,5 persen, disusul oleh Inggris di peringkat ketiga dengan 6,23 persen.

Apa rahasia mereka? Kekuatan magis dari tiga frasa sederhana: “maaf”, “tolong”, dan “terima kasih”.

Di Kanada, budaya meminta maaf bahkan diakui secara hukum melalui Apology Act tahun 2009. Masyarakat Kanada dikenal memiliki refleks untuk mengucapkan sorry (maaf) bahkan ketika mereka adalah pihak yang dirugikan atau ditabrak oleh orang lain di jalan.

Sementara itu, Inggris menonjol dengan tingkat penghormatan yang tinggi terhadap ketertiban sosial, terutama budaya antre. Bagi masyarakat Inggris, memotong antrean bukanlah sekadar pelanggaran aturan, melainkan sebuah dosa sosial yang sangat memalukan. Kepatuhan pada aturan tak tertulis di ruang publik inilah yang mendongkrak persepsi global terhadap kesopanan mereka.

Ketidakhadiran Indonesia dalam daftar 20 besar memunculkan satu pertanyaan besar: Apakah dunia salah menilai kita, atau kita yang terlalu berpuas diri dengan mitos keramahan masa lalu?

Untuk membedah hal ini, kita harus memahami perbedaan fundamental antara friendly (ramah) dan polite (sopan). Masyarakat Indonesia secara umum memang sangat ramah. Kita mudah tersenyum kepada orang asing, suka mengajak mengobrol, dan memiliki rasa toleransi komunal di lingkungan rukun tetangga.

Hal ini dibuktikan oleh survei Expat Insider 2022 dari InterNations, di mana Indonesia masuk dalam peringkat atas sebagai negara yang paling bersahabat bagi ekspatriat.

Namun, “sopan” membutuhkan lebih dari sekadar senyuman. Kesopanan (politeness) berkaitan erat dengan penghormatan terhadap privasi, kepatuhan pada aturan di ruang publik, dan etika berinteraksi tanpa mengganggu hak orang lain. Di sinilah Indonesia kedapatan memiliki rapor merah.

Coba amati kehidupan sehari-hari di kota-kota besar di Indonesia. Perilaku berkendara yang ugal-ugalan, kebiasaan memotong antrean, membunyikan klakson tanpa henti, merokok di fasilitas umum, hingga membuang sampah sembarangan masih menjadi pemandangan lumrah. Sikap-sikap invasif ini, di mata komunitas internasional, adalah bentuk nyata dari ketidaksopanan.

Faktor Etika Digital: Wajah Asli di Balik Layar

Analisis mendalam tidak akan lengkap tanpa memasukkan variabel perilaku digital. Di era modern, persepsi warga dunia terhadap sebuah negara tidak hanya dibentuk dari pertemuan tatap muka, tetapi juga dari jejak digital di internet.

Data yang dirilis oleh Microsoft dalam Digital Civility Index (DCI) tahun 2020/2021 memberikan data yang sangat relevan dan mengejutkan. Laporan tersebut menempatkan netizen Indonesia di peringkat ke-29 dari 32 negara yang disurvei, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kesopanan digital paling rendah di Asia Tenggara.

Faktor utama yang menjerumuskan posisi Indonesia dalam indeks Microsoft tersebut adalah tingginya tingkat penyebaran hoaks, penipuan online, ujaran kebencian (hate speech), dan diskriminasi di media sosial. Barangkali, wajah ramah masyarakat kita di dunia nyata berbanding terbalik dengan agresivitas mereka saat berlindung di balik anonimitas layar ponsel.

Fenomena “barbar” netizen Indonesia saat menyerang akun media sosial tokoh publik atau warga negara asing kerap kali menjadi berita internasional, yang secara langsung merusak citra kesopanan bangsa di mata global.

Daftar 20 Negara Paling Sopan di Dunia

Sebagai referensi komprehensif, berikut adalah daftar lengkap 20 negara paling sopan di dunia berdasarkan survei persepsi Remitly yang dirilis Time Out:

  1. Jepang
  2. Kanada
  3. Inggris
  4. China
  5. Jerman
  6. Filipina (Satu-satunya wakil Asia Tenggara di Top 10)
  7. Swedia
  8. Denmark
  9. Finlandia
  10. Afrika Selatan
  11. Australia dan Swiss (Seri)
  12. Amerika Serikat
  13. India
  14. Irlandia
  15. Selandia Baru
  16. Norwegia
  17. Belanda
  18. Thailand dan Prancis (Seri)
  19. Brasil
  20. Spanyol

Refleksi Ke Depan

Hasil survei Remitly ini sejatinya bukanlah vonis mati bagi identitas bangsa Indonesia, melainkan sebuah cermin evaluasi yang sangat berharga. Kesopanan dinilai dari beragam metrik yang terus berevolusi; bukan lagi hanya sebatas kebiasaan berbahasa tutur dan senyuman di jalan, tetapi juga kedisiplinan sosial, penghargaan terhadap ruang publik, dan etika dalam berjejaring di dunia maya.

Jepang telah membuktikan bahwa kemajuan teknologi tidak harus mengorbankan akar etika dan tata krama masa lalu. Sementara negara-negara Barat memberikan pelajaran bahwa ungkapan sederhana penyesalan dan terima kasih bisa menjadi perekat kohesi sosial yang kuat.

Meskipun saat ini Indonesia belum berhasil masuk ke dalam daftar bergengsi tersebut, modal sosial berupa citra masyarakat yang hangat dan ramah tetaplah menjadi aset diplomasi budaya yang tidak ternilai. Tantangan kita ke depan adalah bagaimana mentransformasi “keramahan” tersebut menjadi “kesopanan” yang sesungguhnya—baik di jalan raya, di ruang publik, maupun di kolom komentar media sosial.

Sebab, bangsa yang besar bukan hanya dilihat dari seberapa lebar senyum penduduknya, tetapi dari seberapa besar mereka menghargai hak dan martabat orang lain.

Exit mobile version