Beranda

Sahra Davaran dan Teeth Couture: Ketika 50 Ribu Gigi Resin Jadi Gaun

Sahra Davaran dan Teeth Couture: Ketika 50 Ribu Gigi Resin Jadi Gaun
Gaun dari gigi resin karya Sahra Davaran, desainer muda berusia 23 tahun (Ist)

Desainer 23 tahun asal Toronto ini sukses menciptakan polarisasi lewat koleksi kelulusan bertema anatomi gigi yang dipakai aktris Nadine Bhabha di karpet merah ACTRA Awards 2026.

INDONESIAONLINE – Dunia mode kembali dihebohkan oleh sebuah karya yang melampaui batas konvensi estetika. Sahra Davaran, desainer muda berusia 23 tahun, menciptakan gebrakan lewat koleksi busana bertajuk Teeth Couture yang sepenuhnya dibangun dari gigi resin.

Bukan sekadar motif atau aksen kecil, gaun-gaun dalam koleksi ini benar-benar dihiasi ribuan gigi yang disusun menyerupai tekstur enamel, rongga gigi berlubang, hingga tambalan amalgam.

Yang membuat koleksi ini menjadi fenomena global adalah pemakaiannya oleh aktris Nadine Bhabha, bintang serial Heated Rivalry, saat memandu acara ACTRA Awards 2026 di Toronto, Kanada. Bhabha tampil memukau dalam balutan gaun sepanjang lantai yang dihiasi 540 gigi resin.

Lima Karya yang Dinamai Seperti Istilah Kedokteran Gigi

Koleksi Teeth Couture terdiri dari lima tampilan yang masing-masing memiliki nama terinspirasi dari terminologi kedokteran gigi: Teeth (Gigi), Enamel (Email gigi), Cavity (Gigi berlubang), Root Canal (Akar gigi), dan Amalgam (Tambalan).

Salah satu tampilan paling mencuri perhatian adalah gaun putih krem berpotongan mengembang dari koleksi Enamel. Seluruh bagian bodice hingga roknya dipenuhi gigi-gigi kecil yang menyerupai susunan molar manusia. Aksen pita di pinggang memberikan kontras feminin yang justru semakin menegaskan kesan uncanny dari tekstur gigi yang mendominasi.

Koleksi Cavity menampilkan busana bernuansa abu-abu dengan detail gigi resin yang menjuntai dari area leher hingga dada. Siluet jaket berstruktur tegas dipadukan dengan rok bermotif gelap menciptakan kesan avant-garde yang kental.

Sementara itu, gaun hitam metalik dari koleksi Amalgam tampil dramatis dengan permukaan mengilap menyerupai logam tambalan gigi. Butiran putih di bagian tengah gaun merepresentasikan tambalan yang retak—sebuah interpretasi artistik yang gelap sekaligus elegan.

Total lebih dari 50.000 gigi resin digunakan dalam seluruh rangkaian koleksi ini, termasuk satu gaun yang nyaris seluruh permukaannya tertutup susunan gigi berwarna gading.

Debut di Karpet Merah yang Mengguncang Industri

Momen klimaks dari koleksi ini terjadi pada ajang ACTRA Awards di Toronto, di mana Nadine Bhabha mengenakan gaun Enamel tersebut. Dari kejauhan, detail-detail putih pada gaun itu tampak seperti mutiara atau batu kristal biasa.

Namun saat diamati lebih dekat, para tamu undangan dikejutkan oleh kenyataan bahwa hiasan tersebut adalah ratusan gigi palsu yang tersebar di sepanjang tali bahu, bodice, hingga ke bagian belakang gaun model lace-up.

Penampilan Bhabha disempurnakan dengan anting-anting hoop besar yang juga dihiasi kumpulan gigi palsu berwarna putih. Christal Williams, penata gaya yang mendandani Bhabha, mengungkapkan bahwa banyak orang yang melakukan double take—melihat dua kali—begitu menyadari detail sesungguhnya dari gaun tersebut.

“Orang-orang terus melihat dua kali. Sepanjang prosesnya saya juga bercanda bahwa ‘kami akan melahap semua penampilan,’ jadi terasa lucu dan pas ketika akhirnya statement piece-nya benar-benar berupa gaun dari gigi,” ujar Williams kepada Page Six.

Ketika Algoritma Amazon Mempertemukan Daging Palsu dan Gigi Resin

Di balik koleksi kontroversial ini, terdapat kisah yang tak kalah unik. Davaran mengaku ide tersebut muncul secara tidak sengaja ketika ia sedang mencari properti daging palsu di platform belanja daring Amazon untuk proyek lainnya. Algoritma justru merekomendasikan gigi resin, dan sang desainer impulsif membeli satu paket.

“Awalnya saya hanya bereksperimen dengan beberapa gigi untuk perhiasan. Lama-lama saya berpikir, bagaimana kalau seluruh gaun dibangun dari elemen ini,” ungkap Davaran.

Dari eksperimen kecil membuat aksesori, ide itu berkembang menjadi koleksi tugas akhir untuk program mode di Toronto Metropolitan University (TMU). Davaran kemudian mengatur langganan dua mingguan dengan sebuah pabrik di Tiongkok—500 gigi per pengiriman. Ia menghabiskan sekitar 6.000 hingga 7.000 dolar AS atau sekitar Rp98 hingga Rp114 juta hanya untuk membeli gigi resin.

“Saya sangat khawatir mereka akan bertanya apakah saya punya klinik atau semacamnya, tapi ternyata tidak,” ujarnya sambil tertawa.

Gaun Enamel yang dikenakan Bhabha sendiri membutuhkan waktu pengerjaan sekitar 180 jam. Davaran membuatnya dari 300 potong bahan shirting yang dipotong secara individual, lalu setiap tepian mentahnya dibakar dengan solder untuk menciptakan tekstur bergelombang menyerupai batuan geologis.

Respons Publik yang Terbelah: Kagum atau Jijik?

Davaran sejak awal sudah memperhitungkan bahwa koleksinya akan memicu reaksi yang terpolarisasi. Ia sengaja menciptakan busana yang tidak dirancang untuk menyenangkan semua orang.

“Ada yang benar-benar jijik. Ada yang membencinya, dan ada juga yang menyukainya. Itu memang yang saya inginkan,” kata Davaran.

Williams, sang penata gaya, mengaku langsung tertarik pada gaun tersebut saat pertama kali melihatnya. “Yang membuat saya tertarik pada gaun ini secara spesifik adalah bagaimana sang desainer dengan mulus mengubah sesuatu yang tidak konvensional menjadi sesuatu yang indah secara visual dari kejauhan. Ini terasa seperti seni yang bisa dipakai,” ujarnya.

Di media sosial, reaksi publik benar-benar terbelah. Banyak yang menyebutnya menjijikkan, sementara yang lain memuji keberanian dan orisinalitas Davaran. Beberapa komentar menyebut koleksi ini sebagai salah satu momen mode paling provokatif tahun ini.

Seni di Atas Rasa Jijik: Memperluas Batasan Mode

Dengan koleksi Teeth Couture-nya, Davaran ingin menyampaikan pesan bahwa sesuatu yang biasanya dianggap menjijikkan atau tabu justru bisa diolah menjadi karya seni mode yang bernilai tinggi. Anatomi gigi yang sering diasosiasikan dengan rasa sakit, karies, atau prosedur medis yang tidak nyaman berhasil ditransformasikannya menjadi wearable art yang memukau sekaligus mengganggu.

Koleksinya bukan hanya tentang estetika, melainkan juga cara menantang persepsi publik terhadap hal-hal yang dianggap tidak indah. Di tangan Davaran, gigi resin yang biasanya digunakan untuk latihan mahasiswa kedokteran gigi berubah menjadi medium ekspresi artistik yang provokatif.

Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana batas antara mode dan seni kontemporer semakin kabur. Di era di mana karpet merah menjadi panggung bagi pernyataan artistik, karya seperti Teeth Couture membuktikan bahwa fashion bisa menjadi kendaraan untuk memancing diskusi, mengguncang zona nyaman, dan mendefinisikan ulang apa yang pantas disebut indah.

Apakah ini masa depan mode atau sekadar sensasi sesaat? Yang pasti, Sahra Davaran telah mencatatkan namanya dalam daftar desainer muda yang berani mendobrak batas—dan membuat semua orang, suka atau tidak, berhenti sejenak untuk memperhatikan.

Exit mobile version