DLH Kota Malang berjibaku angkut 70 ton sampah sisa 1 Abad NU. Simak operasi senyap 1.194 petugas kembalikan wajah Kota Malang dalam 12 jam.
INDONESIAONLINE – Gema selawat dan munajat akbar “Mujahadah Kubro 1 Abad NU” di Stadion Gajayana, Minggu (8/2/2026), perlahan surut seiring beranjaknya puluhan ribu jemaah meninggalkan arena. Namun, ketika lautan manusia berbaju putih itu surut, tertinggalah “lautan” lain yang tak kalah masif: hamparan sampah.
Botol plastik, kemasan styrofoam sisa makanan, hingga lembaran koran alas duduk berserakan, mengubah wajah aspal Jalan Semeru hingga area dalam stadion menjadi kanvas kelabu sisa perhelatan akbar.
Di sinilah babak kedua dimulai. Bukan lagi tentang doa, melainkan dedikasi. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang tidak membuang waktu. Sesaat setelah acara usai, sebuah operasi pembersihan masif—layaknya operasi militer—langsung digelar. Targetnya ambisius: mengembalikan wajah bersih Kota Malang dalam kurun waktu kurang dari 12 jam.
Operasi Semut di Balik Euforia
Pelaksana harian (Plh) Kepala DLH Kota Malang, Raymond Hatigoran Matondang, tampak sibuk memantau pergerakan armadanya di lapangan. Ia tidak hanya berbicara tentang menyapu, tetapi tentang manajemen krisis sampah dalam skala besar. Fokus pembersihan menyebar bak jaring laba-laba, mencakup titik-titik krusial mulai dari Jalan Semeru, Welirang, Lawu, hingga Merapi.
“Pembersihan sudah kami lakukan, sekarang tinggal pengangkutan sampah yang terkumpul. Target kami maksimal rampung dalam waktu 12 jam,” tegas Raymond dengan nada optimis di tengah hiruk-pikuk suara mesin truk pengangkut.
Optimisme Raymond bukan tanpa dasar. DLH Kota Malang telah menyiagakan “alutsista” kebersihannya sejak dini. Enam unit pikap roda empat, tiga truk besar, serta armada tambahan disebar strategis.
Namun, kekuatan sesungguhnya ada pada 1.194 personel yang diturunkan. Angka ini bukanlah jumlah yang sedikit. Sebagai perbandingan, jumlah ini hampir setara dengan satu batalion pasukan militer penuh, yang kali ini bersenjata sapu lidi dan trash bag.
Sebanyak 500 personel inti ditempatkan di “zona merah” atau area utama stadion, sementara sisanya menyisir area penyangga. Strategi pembagian lima shift kerja—mulai dari pagi buta, sore, malam, hingga dini hari pukul 01.00 WIB—menunjukkan bahwa DLH memahami betul ritme kelelahan manusia dan volume sampah yang harus dihadapi.
Matematika Sampah: 70 Ton dalam Semalam
Data yang dihimpun di lapangan mencatat angka yang mencengangkan. Volume sampah yang dihasilkan dari perhelatan satu hari ini diperkirakan mencapai 70 ton.
Untuk memberikan konteks, berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), rata-rata timbulan sampah harian Kota Malang berkisar antara 600 hingga 700 ton. Artinya, dalam satu event ini saja, beban sampah Kota Malang melonjak sekitar 10 hingga 12 persen dari beban harian normal.
Raymond membenarkan prediksi ini. “Volume sampah diperkirakan mencapai 70 ton. Karakter sampah didominasi material ringan seperti plastik, styrofoam bekas makanan, dan kertas pembungkus,” ungkapnya.
Dominasi sampah anorganik (plastik dan styrofoam) menjadi tantangan tersendiri. Berbeda dengan sampah organik yang berat dan basah, sampah jenis ini memakan volume ruang yang besar (voluminous), membuat truk pengangkut terlihat cepat penuh meski tonasenya belum maksimal. Hal ini memaksa armada untuk melakukan ritasi (bolak-balik) lebih sering menuju TPA Supiturang.
Namun, ada sisi humanis yang menarik dari tumpukan sampah ini. Raymond mengapresiasi pola perilaku jemaah yang mulai sadar lingkungan. Di banyak titik, sampah tidak berserakan liar, melainkan sudah terkumpul dalam gundukan-gundukan kecil atau masuk ke dalam trash bag yang disediakan.
“Kami mengapresiasi kesadaran para jemaah. Ini sangat membantu kerja petugas. Sampah yang sudah terkumpul tinggal kami angkut, memangkas waktu penyapuan,” tambahnya.
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Di balik angka statistik dan strategi manajerial, ada keringat sosok-sosok seperti Sutaji. Petugas kebersihan DLH ini tampak tak mengenal jeda. Tangannya cekatan memungut sisa kotak makan, matanya awas menyisir sudut-sudut jalan.
“Iya mas, langsung saya bersihkan dan kumpulkan. Tinggal nunggu truk datang, langsung kita angkut,” ucap Sutaji sembari menyeka peluh.
Bagi Sutaji dan ribuan rekannya, acara besar seperti ini adalah ujian fisik dan mental. Mereka bekerja dalam bayang-bayang, memastikan ketika warga Malang bangun esok pagi, kota sudah kembali cantik seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Kerja keras Sutaji juga diringankan oleh kolaborasi lintas elemen. Sekitar 1.000 kantong sampah (trash bag) yang disebar DLH tidak dibiarkan kosong. Pramuka, Palang Merah Indonesia (PMI), pelajar SMA, hingga kader lingkungan turun tangan. Ini adalah potret gotong royong modern: kolaborasi antara otoritas kota dan warganya dalam menjaga ruang publik.
Penyediaan fasilitas kebersihan pun terbilang masif. Sebanyak 200 unit tempat sampah portabel disebar (40 di dalam, 60 di luar), menciptakan akses mudah bagi jemaah untuk membuang sampah.
Manajemen Sanitasi Lintas Wilayah
Persoalan dalam kerumunan massa bukan hanya sampah padat, tetapi juga sanitasi. Di sinilah terlihat solidaritas “Malang Raya”. DLH Kota Malang tidak bekerja sendirian dalam urusan toilet. Fasilitas sanitasi diperkuat oleh bantuan dari Pemerintah Kota Batu dan Cipta Karya Kabupaten Malang.
Mobil-mobil toilet dari Kota Batu bersiaga di sisi timur stadion dan Perpustakaan Jalan Semeru, sementara armada dari Kabupaten Malang mengamankan area parkir barat. Sinergi ini menunjukkan bahwa batas administrasi pemerintahan lebur ketika menghadapi hajat hidup orang banyak.
Ke mana perginya 70 ton sampah tersebut? Muaranya adalah TPA Supiturang. TPA ini bukan sekadar tempat pembuangan, melainkan fasilitas yang telah dimodernisasi dengan sistem Sanitary Landfill—teknologi yang meminimalkan dampak pencemaran lingkungan.
Sebagian sampah langsung dibawa ke sana untuk diproses. Namun, strategi cerdas DLH juga menerapkan pemilahan di Tempat Penampungan Sementara (TPS). Pemilahan ini krusial agar sampah plastik yang bernilai ekonomis tidak tertimbun sia-sia di tanah, melainkan bisa didaur ulang, sejalan dengan visi ekonomi sirkular yang sedang digalakkan pemerintah pusat.
Pembersihan pasca-Mujahadah Kubro 1 Abad NU di Malang bukan sekadar rutinitas birokrasi. Ia adalah cermin dari kesiapan infrastruktur kota dalam menghadapi mass tourism atau kegiatan berskala besar. Respons cepat DLH, kolaborasi lintas daerah, dan partisipasi publik adalah modal sosial yang mahal.
Ketika matahari Senin terbit nanti, Jalan Ijen dan sekitarnya mungkin sudah bersih kembali. Namun, jejak 70 ton sampah ini meninggalkan pesan penting: bahwa kesalehan spiritual dalam acara keagamaan haruslah berbanding lurus dengan kesalehan sosial dan lingkungan.
Dan malam ini, 1.194 “pasukan kuning” telah membuktikan bentuk kesalehan mereka melalui kerja keras dalam sunyi, menjaga kehormatan kota agar tetap layak huni dan dicintai (rw/dnv).
