16 tim dayung adu cepat di Bengawan Jero meriahkan 1 Abad NU. Bupati Yuhronur dorong sport tourism, ekonomi warga, dan pelestarian sungai Lamongan.
INDONESIAONLINE – Permukaan air Bengawan Jero yang biasanya tenang dan identik dengan citra kawasan rawan banjir, mendadak berubah wajah pada Minggu (8/2/2026). Teriakan semangat, deburan air akibat kayuhan dayung yang serempak, serta tabuhan drum penyemangat memecah keheningan Desa Blawi, Kecamatan Karangbinangun., Kabupaten Lamongan.
Di bawah terik matahari pagi yang menyengat kulit, ribuan pasang mata menjadi saksi transformasi jalur air ini menjadi arena adu gengsi dan prestasi.
Sebanyak 16 tim dayung lokal berjibaku dalam perlombaan Dragon Boat (Perahu Naga). Bukan sekadar lomba biasa, ajang ini digelar sebagai penanda momentum bersejarah: Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU). Namun, di balik riuh rendah sorak penonton, tersimpan narasi besar tentang bagaimana Kabupaten Lamongan mencoba meredefinisi potensi geografisnya—dari kawasan “bonorowo” (dataran rendah berair) menjadi destinasi sport tourism masa depan.
Menari di Atas “Bonorowo”
Jalur sepanjang 300 meter di Bengawan Jero hari itu menjadi panggung pembuktian. Para atlet dayung, dengan otot lengan yang menegang dan peluh bercucuran, memacu perahu naga berhias ornamen khas. Ini adalah pemandangan yang kontras namun menyegarkan.
Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, yang hadir langsung di bibir sungai, tak bisa menyembunyikan antusiasmenya. Sosok yang akrab disapa Pak Yes ini melihat sesuatu yang lebih jauh dari sekadar garis finis. Baginya, karakteristik geografis Bengawan Jero adalah “emas biru” yang belum terpoles sempurna.
“Bengawan Jero ini punya potensi besar untuk kegiatan sport tourism, khususnya lomba dayung. Kontur airnya tenang namun menantang, sangat ideal,” ujar Pak Yes di sela tinjauannya.
Konsep sport tourism yang digaungkan Pak Yes sejalan dengan tren pariwisata global pascapandemi. Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mencatat bahwa wisata olahraga adalah salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia, menyumbang devisa yang signifikan dan memiliki multiplier effect (efek berganda) bagi ekonomi lokal. Dengan memanfaatkan topografi alami Lamongan yang kaya akan aliran sungai, strategi ini dinilai tepat sasaran.
“Kedepan ini direncanakan sebagai agenda tahunan dengan melibatkan lebih banyak unsur dan UMKM agar bisa menggerakkan ekonomi sekitar,” tambahnya dengan nada optimis.
Misi Ekologis: Melawan Stigma Eceng Gondok
Namun, perhelatan ini membawa misi ganda. Di balik kemeriahan lomba, terselip pesan lingkungan yang krusial. Bengawan Jero, sebagai bagian dari sub-sistem daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo, kerap menghadapi masalah pendangkalan dan invasi gulma air.
Pak Yes menekankan bahwa event seperti ini adalah sarana edukasi paling efektif. “Ini juga menjadi cara agar masyarakat sadar kebersihan sungai. Kita ingin mengubah mindset, sungai bukan tempat sampah, tapi halaman depan rumah kita,” tegasnya.
Isu eceng gondok yang kerap menjadi momok—menyumbat aliran air dan memicu banjir—kini dilihat dari perspektif berbeda. Dengan adanya aktivitas rutin seperti lomba dayung, pembersihan sungai menjadi sebuah keharusan yang berkelanjutan, bukan sekadar respons reaktif saat bencana datang. Pelibatan masyarakat dalam menjaga lintasan lomba secara tidak langsung membentuk sense of belonging (rasa memiliki) terhadap ekosistem sungai mereka.
Keriuhan di Desa Blawi hari itu juga memantik perhatian dari sisi keamanan. Kapolres Lamongan, AKBP Arif Fazlurrahman, yang turut memantau jalannya acara, memberikan catatan penting. Antusiasme warga yang memadati bibir sungai yang licin menjadi indikator bahwa jika acara ini naik kelas, standar keselamatan pun harus ditingkatkan.
“Kami mendukung penuh. Namun, jika kedepan mendatangkan penonton dari luar daerah, protokol keselamatan di bibir sungai harus menjadi perhatian serius agar menjadi event kebanggaan Lamongan yang aman dan nyaman,” jelas AKBP Arif.
Pernyataan Kapolres ini relevan, mengingat data kecelakaan air dalam kegiatan wisata rakyat di berbagai daerah di Indonesia seringkali disebabkan oleh minimnya infrastruktur pengamanan di area penonton (tribun alami).
Sementara itu, di sisi teknis perlombaan, Ketua Panitia sekaligus Ketua PAC GP Ansor Karangbinangun, Fathur Rohman, mengungkapkan bahwa ajang ini adalah “radar” untuk mendeteksi bakat terpendam. Lamongan, dengan wilayah pesisir dan sungainya yang luas, sejatinya adalah lumbung atlet dayung potensial.
“Lomba ini diikuti oleh 16 tim dari seluruh Kabupaten Lamongan. Antusiasme warga ternyata di luar ekspektasi kami. Ini membuktikan bahwa dayung bukan olahraga asing bagi warga Lamongan,” kata Fathur.
Ia menyuarakan harapan para atlet lokal agar pemerintah daerah tidak berhenti pada penyelenggaraan event saja, tetapi juga investasi infrastruktur. “Kami butuh dukungan fasilitas sarana dan prasarana, seperti perahu latihan yang standar, guna menunjang prestasi para atlet dayung di masa depan,” harapnya. Hal ini selaras dengan kebutuhan pembinaan atlet dayung nasional di bawah naungan PODSI (Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia) yang selalu membutuhkan regenerasi atlet dari daerah.
Ekonomi Rakyat yang Bergeliat
Dampak nyata dari perhelatan 1 Abad NU di Bengawan Jero ini paling dirasakan oleh “wong cilik”. Sepanjang bantaran sungai menuju lokasi lomba, puluhan tenda UMKM berdiri. Aroma jagung bakar, soto Lamongan, hingga es dawet bercampur dengan aroma sungai, menciptakan suasana pesta rakyat yang hangat.
Warung-warung kecil kehabisan stok, pedagang asongan tersenyum lebar. Inilah wujud nyata dari teori ekonomi yang disebutkan Bupati Yuhronur. Sebuah event olahraga, sekecil apapun, mampu memutar roda ekonomi desa yang mungkin melambat di hari-hari biasa.
Ketika matahari mulai condong ke barat dan tim pemenang telah mengangkat pialanya, Bengawan Jero kembali tenang. Namun, riaknya telah menyisakan harapan baru. Bahwa sungai di Lamongan tidak hanya membawa air dari hulu, tetapi juga membawa harapan akan prestasi, pariwisata, dan kesejahteraan bagi masyarakat yang hidup di tepinya.
Perayaan 1 Abad NU di tahun 2026 ini, pada akhirnya, bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi mendayung mantap menatap masa depan (db/dnv).
