Beranda

Jejak Arang Menuju Kabah: Perjuangan Siti Robiah Naik Haji di Usia 91

Jejak Arang Menuju Kabah: Perjuangan Siti Robiah Naik Haji di Usia 91
Kisah mengharukan Siti Robiah (91), penjual arang asal Ponorogo yang menanti puluhan tahun dan merelakan tanahnya demi sujud di Baitullah pada 2026 (Ist)

Kisah mengharukan Siti Robiah (91), penjual arang asal Ponorogo yang menanti puluhan tahun dan merelakan tanahnya demi sujud di Baitullah pada 2026.

INDONESIAONLINE – Waktu memahat wajahnya dengan garis-garis ketabahan. Di usianya yang telah menyentuh 91 tahun, sepasang mata Siti Robiah tak lagi setajam dulu, namun pendar cahayanya tak pernah sungguh-sungguh padam.

Tangannya—yang kini keriput dengan jemari yang membengkok kaku—adalah peta sejarah tentang bagaimana seorang perempuan desa bertarung melawan kerasnya hidup demi sebuah mimpi yang bagi banyak orang terasa seperti angan belaka: bersujud di depan Kabah.

Siti Robiah bukanlah nama yang dikenal di layar kaca atau lembaran berita utama. Ia hanyalah seorang warga biasa dari Desa Prajegan, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Namun, pada musim haji tahun 2026 nanti, namanya akan terukir dalam daftar tamu Allah (Duyufurrahman).

Kepastian keberangkatan ini bukanlah hadiah yang jatuh dari langit, melainkan muara dari sungai kesabaran yang ia alirkan selama lebih dari setengah abad.

Kisah Siti adalah epik tentang arang, peluh, dan doa yang tak pernah putus.

Tahun 1975 adalah masa di mana langit seolah runtuh bagi Siti. Suaminya berpulang, meninggalkannya dalam kesendirian untuk membesarkan dua buah hati. Di era itu, tak ada jaring pengaman sosial yang bisa ia andalkan. Pilihannya hanya satu: menelan duka dan mulai bekerja menantang matahari.

Siti muda menjelma menjadi tulang punggung yang tak kenal patah. Hari-harinya dihabiskan di ladang sebagai buruh tani. Namun, upah dari bertani tak pernah cukup untuk merajut asa. Ia pun merangkap profesi sebagai pembuat dan penjual arang kayu.

Pekerjaan ini menuntut fisik yang prima. Siti harus membakar kayu dalam diam, menahan perihnya asap yang menyengat mata, lalu mengumpulkan bongkahan-bongkahan hitam itu ke dalam karung goni. Tak berhenti di situ, karung seberat puluhan kilogram tersebut harus ia pikul sendiri.

Dengan telanjang kaki atau beralaskan sandal jepit usang, ia menyusuri jalanan yang berdebu, berjalan belasan kilometer dari desanya menuju pasar di pusat kota Ponorogo.

“Nyambut damel tani, nggih areng kayu kulo lampahi sedoyo. Sadeyan ten kota, mlampah kulo gendong areng ten pasar,” kenang Siti dengan suara bergetar saat ditemui di kediamannya pada Kamis, 9 April 2026.

Di balik bahasa Jawanya yang halus, tersimpan memori tentang bagaimana rasa lelah ia lipat dalam-dalam. Bekerja tani dan berjualan arang ia lakoni semua. Berjalan kaki sambil menggendong arang ke pasar adalah rutinitas yang membentuk ketangguhan fisiknya.

Setiap lembar rupiah yang ia dapatkan dari tangan-tangannya yang menghitam karena debu arang, ia sisihkan. Keping demi keping, lembar demi lembar, uang itu dikumpulkan selama berpuluh-puluh tahun. Uang itu tak pernah ia gunakan untuk memanjakan diri. Cita-citanya hanya satu: ia ingin memiliki sebidang tanah, tabungan masa depan yang paling masuk akal bagi orang desa.

Mimpi itu pun terwujud. Sebidang tanah berhasil ia beli dari jerih payahnya mengumpulkan recehan arang.

Namun, seiring usianya yang semakin senja, ada kerinduan lain yang menyelinap ke dalam batinnya. Pada tahun 2020, saat usianya menginjak 86 tahun, Siti merasa panggilan Tanah Suci semakin kuat bergaung di dadanya. Ia ingin berumrah. Niat itu ia sampaikan kepada anak-anaknya.

Anak-anaknya, yang sangat memahami betapa berharganya tanah tersebut bagi sang ibu, memberikan jawaban yang mengubah jalan hidup Siti. “Jangan cuma umrah, Mak. Sekalian haji saja.”

Tanah kebanggaan yang dibeli dari keringat dan jelaga arang itu pun akhirnya dijual. Semua demi melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH).

“Raos e nggih seneng sanget. Ser kulo umroh, tapi putrane matur haji sisan. Terus sade lemah,” (Rasanya bahagia sekali. Awalnya saya ingin umrah, tapi anak-anak bilang haji sekalian. Lalu jual tanah), tutur Siti dengan senyum yang merekah.

Wajahnya berseri, seolah beban puluhan tahun tiba-tiba luruh. Ada keikhlasan yang luar biasa dalam suaranya; melepaskan harta duniawi demi menyambut panggilan Ilahi.

Namun, punya uang saja tidak serta-merta membuat langkah Siti mulus. Pendaftaran haji di Indonesia adalah sebuah ujian kesabaran yang berlapis-lapis.

Merujuk pada data Kementerian Agama Republik Indonesia, masa tunggu haji di Jawa Timur merupakan salah satu yang terlama di Indonesia, bisa mencapai 30 hingga 35 tahun untuk kuota reguler. Jika mengikuti jalur normal, Siti yang mendaftar pada tahun 2020 baru akan berangkat di atas tahun 2050.

Usianya tidak akan mampu menunggu selama itu. Satu-satunya harapan adalah kuota prioritas lanjut usia (lansia) yang disediakan pemerintah. Berdasarkan kebijakan Kemenag terbaru, alokasi untuk jemaah lansia diberikan sekitar 5% dari total kuota nasional, yang pada tahun 2024 mencapai 241.000 jemaah.

Kendala pertama yang harus dihadapi Siti justru datang dari tubuhnya sendiri yang telah renta termakan usia. Cucunya, Binti Masruroh, mengenang momen dramatis saat mengantar sang nenek melakukan perekaman data biometrik di Kantor Kementerian Agama Ponorogo.

Proses yang seharusnya hanya memakan waktu beberapa menit itu berubah menjadi ketegangan yang menyesakkan dada. Jari-jari Siti yang sudah bengkok dan kulitnya yang mengeras akibat puluhan tahun memegang cangkul dan arang panas, membuat mesin pemindai sidik jari tak mampu membaca identitasnya. Mesin itu terus-menerus menolak.

Di ruang Kemenag itu, waktu seakan berhenti. Kepanikan mulai menjalar di hati Binti. “Untuk rekam ambil sidik jari itu lama, hampir satu jam,” cerita Binti.

Dalam keputusasaan, Binti memanjatkan doa, berdialog dengan takdir. “Kalau memang rezeki nenek naik haji, tolong munculkan sidik jarinya ya Allah,” batinnya saat itu.

Berbagai cara dilakukan oleh petugas dan pihak keluarga. Tangan Siti dilap menggunakan cairan pembersih tangan (hand sanitizer), digosok dengan lembut, hingga akhirnya diolesi minyak telon bayi dengan harapan kulit kasarnya sedikit melunak dan garis sidik jarinya timbul.

Sebuah metafora yang ironis sekaligus indah; tangan yang membesarkan anak-anaknya, tangan yang menghitam demi menghidupi keluarga, sempat tak diakui oleh mesin buatan manusia. Namun, Tuhan memiliki cara-Nya sendiri. Berkat doa dan minyak telon tersebut, layar mesin berkedip hijau. Sidik jarinya terbaca. Pendaftaran resmi disahkan pada 15 Juli 2020.

Setelah rintangan administratif terlewati, ujian berikutnya adalah menunggu tanpa kepastian. Pandemi Covid-19 sempat menghentikan pengiriman jemaah haji, membuat antrean semakin menumpuk.

Sejak tahun 2021, keluarga Binti tak kenal lelah mencari informasi, berharap nama Siti Robiah masuk dalam kuota prioritas lansia. Namun, nihil. Kegagalan demi kegagalan menghampiri. Harapan sempat meredup, terutama mengingat usia Siti yang semakin bertambah.

Hingga akhirnya, kejutan manis itu datang di tahun 2026. Di saat keluarga sudah lelah mencari informasi dan memilih untuk memasrahkan segalanya pada kehendak Tuhan, utusan dari Kantor Kemenag Ponorogo mengetuk pintu rumah mereka. Bukan untuk meminta dokumen, melainkan membawa kabar bahwa Siti Robiah mendapatkan panggilan berangkat ke Baitullah.

“Mulai 2021 gagal terus. Namun 2026 saya malah tidak cari info, justru pihak Kemenag yang ke sini bilang Mbah bisa naik haji,” ujar Binti dengan mata berkaca-kaca, masih tak percaya dengan keajaiban yang menyapa keluarganya.

Memasuki tahun 2026, regulasi penyelenggaraan ibadah haji Indonesia menitikberatkan pada syarat Istitha’ah Kesehatan (kemampuan kesehatan fisik dan mental) sebagai prasyarat utama sebelum jemaah melunasi biaya haji. Ini adalah langkah mitigasi dari Kemenag untuk menekan angka kematian jemaah lansia di Tanah Suci yang sempat membludak di tahun-tahun sebelumnya akibat cuaca ekstrem di Arab Saudi.

Meski usianya nyaris satu abad, keajaiban kembali berpihak pada Siti. Hasil rekam medis dari rumah sakit rujukan Kemenag menyatakan kondisi kesehatannya secara umum normal. Jantungnya berdetak stabil, paru-parunya bersih. Pekerjaan kasar di masa lalu rupanya menjadi olahraga tak disengaja yang menjaga fungsi organ dalamnya tetap baik.

“Cek medis normal semua, hanya fisik karena memang sudah tua. Mohon doanya agar mabrur,” tutur Binti, yang menyadari bahwa tubuh neneknya tak lagi sekuat dulu.

Fisik rentanya tentu membutuhkan pendampingan khusus kelak di tengah lautan jutaan manusia di Mekkah dan Madinah. Namun, semangat yang menyala di mata sang nenek membuat keluarga yakin, Siti akan mampu menyelesaikan rukun Islam kelima tersebut.

Kini, di usianya yang ke-91 tahun, Siti Robiah hidup dikelilingi oleh cinta dari 2 anak, 8 cucu, dan 5 cicitnya. Hari-harinya kini diisi dengan melantunkan kalimat talbiyah, menyiapkan lahir dan batin untuk perjalanan terbesar dalam hidupnya.

Di sudut kamarnya, tak ada lagi karung goni berisi arang. Yang ada hanyalah lembaran kain ihram berwarna putih bersih yang akan membalut tubuh rentanya. Kain suci yang seolah menghapus segala jelaga dan hitamnya debu arang masa lalu.

Kisah Siti Robiah bukan sekadar tentang seorang lansia yang pergi naik haji. Ini adalah monumen kemanusiaan tentang seorang ibu yang bertarung melawan kemiskinan dengan kehormatan. Ia membuktikan bahwa di balik tangan yang legam oleh arang dan kulit yang terbakar matahari, tersimpan sebuah hati yang suci, yang terus mengetuk pintu langit hingga Tuhan sendiri yang membukakannya.

Di musim haji 2026 nanti, di antara jutaan langkah kaki yang mengitari Kabah, ada jejak langkah seorang penjual arang dari Ponorogo yang doanya telah lebih dulu sampai ke Arasy sebelum kakinya menjejak di Tanah Suci.

Exit mobile version