Beranda

Jet Li Comeback 2026: Blades of the Guardians & Reuni Raksasa Kung Fu

Jet Li Comeback 2026: Blades of the Guardians & Reuni Raksasa Kung Fu
Sejak haitus cukup lama karena kesehatan aktor legendaris Jet Li dipastikan akan kembali tampil dalam film terbaru berjudul Blades of the Guardians atau dalam judul aslinya dikenal sebagai Biao Ren yang tayang Februari 2026 (ist)

Legenda Jet Li ‘turun gunung’ di Blades of the Guardians 2026. Reuni akbar bareng Wu Jing & Yuen Woo-ping, prediksi box office tembus Rp21 T.

INDONESIAONLINE – Setelah bertahun-tahun sepi dari debur pukulan dan sabetan pedang sang maestro, dunia sinema bela diri (martial arts) bersiap menyambut kembalinya rajanya. Jet Li, ikon laga yang telah melintasi zaman dari era emas Hong Kong hingga Hollywood, dipastikan “turun gunung”.

Februari 2026 akan menjadi saksi kembalinya aktor berusia 62 tahun ini lewat film epik terbarunya, Blades of the Guardians atau dalam judul aslinya dikenal sebagai Biao Ren.

Kabar ini bukan sekadar rilis film biasa. Bagi industri perfilman Tiongkok dan penggemar global, ini adalah peristiwa budaya. Jet Li, yang dalam satu dekade terakhir bergulat dengan masalah kesehatan hipertiroidisme dan cedera tulang belakang yang nyaris memensiunkannya, kini tampil kembali bukan sebagai cameo, melainkan sebagai poros utama dalam sebuah narasi kolosal.

Lebih dari Sekadar Mulan: Li Kembali Bertarung

Terakhir kali publik melihat wajah Jet Li di layar lebar global adalah pada tahun 2020 lewat live-action Mulan produksi Disney. Namun, peran tersebut menyisakan rasa lapar di hati penggemar. Sebagai Kaisar, Li duduk di singgasana dengan jubah kebesaran yang berat, memancarkan wibawa namun minim aksi fisik. Itu adalah peran “aman” bagi seorang aktor yang sedang memulihkan diri.

Namun, Blades of the Guardians menjanjikan sesuatu yang berbeda. Poster promosi yang telah beredar memperlihatkan siluet Li yang garang, memegang senjata dengan tatapan mata yang tajam—kilatan mata yang sama yang pernah menghidupkan karakter Wong Fei Hung tiga dekade lalu.

Keputusan Li untuk kembali mengambil peran fisik di usia kepala enam, di bawah arahan sutradara legendaris Yuen Woo-ping, menandakan bahwa kondisi kesehatannya telah membaik secara signifikan. Ini adalah pembuktian diri bahwa sang “Naga” belum kehilangan apinya.

“The Avengers” Sinema Mandarin

Kekuatan utama Blades of the Guardians tidak hanya bertumpu pada nostalgia Jet Li semata. Film ini dirancang sebagai “bom atom” box office dengan menyatukan ansambel pemain yang mengerikan. Proyek ini menciptakan kolaborasi lintas generasi yang jarang terjadi.

Li akan beradu akting dengan Wu Jing, aktor yang saat ini memegang takhta sebagai raja box office China lewat dwilogi Wolf Warrior dan The Battle at Lake Changjin. Jika Jet Li adalah representasi keindahan wushu tradisional, Wu Jing adalah simbol aksi militeristik modern yang keras. Pertemuan keduanya di layar lebar ibarat mempertemukan dua matahari.

Tak berhenti di situ, nama Nicholas Tse (Raging FireNew Police Story) turut memperkuat jajaran pemain. Kehadiran Tse membawa energi action Hong Kong yang gritty dan cepat. Ditambah dengan aktor watak senior Tony Leung Ka-fai dan aktris laga veteran Kara Hui, film ini seolah menjadi surat cinta bagi sejarah sinema aksi Asia.

Di kursi sutradara, duduk Yuen Woo-ping. Nama ini adalah jaminan mutu. Dialah otak di balik koreografi The MatrixCrouching Tiger Hidden Dragon, dan film klasik Jet Li, Fist of Legend. Reuni antara Jet Li dan Yuen Woo-ping adalah reuni antara ‘otot’ dan ‘otak’ yang dulu mendefinisikan standar film kung fu dunia.

Adaptasi Manhua Gelap: Biao Ren

Secara naratif, Blades of the Guardians diadaptasi dari manhua (komik Tiongkok) populer karya Xu Xianzhe berjudul Biao Ren. Materi aslinya dikenal memiliki nada yang gelap, sadis, dan penuh intrik politik, jauh dari kesan film kung fu ceria.

Berlatar pada masa transisi Dinasti Sui yang penuh gejolak di bawah kekuasaan Kaisar Yang Guang, cerita berfokus pada Dao Ma (peran yang kemungkinan besar diadaptasi untuk karakter utama), seorang “Biao” atau pengawal bayaran/kurir yang sangat terampil. Ia melakukan perjalanan berbahaya melintasi gurun pasir bersama putranya yang masih kecil, Xiao Qi.

Premis “Lone Wolf and Cub” (ayah dan anak dalam perjalanan berbahaya) ini memberikan kedalaman emosional yang kuat. Jet Li tidak hanya dituntut untuk mematahkan tulang lawan, tetapi juga menampilkan sisi kebapakan yang protektif dan rapuh di tengah dunia yang kejam. Narasi tentang konspirasi yang bisa mengubah sejarah memberikan bobot epik pada setiap adegan pertarungan yang terjadi.

Taruhan Ekonomi Rp21,7 Triliun

Optimisme industri terhadap film ini sangat tinggi, bahkan cenderung ambisius. Para analis pasar film Tiongkok, sebagaimana dikutip media lokal China.org, memproyeksikan pendapatan box office yang fantastis: 10 miliar Yuan atau setara Rp21,7 triliun.

Untuk memberikan konteks, film terlaris sepanjang masa di China saat ini, The Battle at Lake Changjin (2021), meraup sekitar 5,77 miliar Yuan. Prediksi 10 miliar Yuan menyiratkan bahwa Blades of the Guardians diharapkan tidak hanya memecahkan rekor, tetapi melipatgandakannya.

Apakah angka ini masuk akal? Ada beberapa faktor pendorong:

  1. Faktor Kelangkaan: Kerinduan publik terhadap Jet Li sudah memuncak.
  2. Kekuatan Wu Jing: Wu Jing adalah magnet penonton domestik China yang belum tertandingi saat ini.
  3. Kualitas Produksi: Dengan teknologi sinematografi modern dipadukan dengan koreografi klasik Yuen Woo-ping, visual film ini diprediksi akan spektakuler.
  4. Basis Penggemar Manhua: Biao Ren memiliki basis pembaca setia yang besar yang menuntut adaptasi live-action berkualitas.

Tentu saja, tantangan terbesar ada pada fisik Jet Li. Di usia 62 tahun, melakukan adegan laga intensif memiliki risiko tinggi. Namun, teknologi perfilman modern, penggunaan stunt double yang cerdas, serta teknik penyuntingan, dan CGI (Computer Generated Imagery) dapat membantu memuluskan aksi tanpa mengurangi kredibilitas sang aktor.

Namun, penggemar setia tahu, satu jurus kuda-kuda atau tatapan mata dari Jet Li sudah cukup untuk menggetarkan layar. Blades of the Guardians bukan sekadar film tentang pertarungan pedang; ini adalah tentang warisan (legacy). Ini mungkin menjadi salah satu penampilan akbar terakhir Jet Li dalam skala produksi sebesar ini.

Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai distributor yang akan membawa film ini ke Indonesia. Namun, mengingat basis penggemar film Mandarin yang besar di Tanah Air, besar kemungkinan jaringan bioskop besar akan memboyong pertarungan epik ini pada Februari 2026 mendatang. Dunia menanti, apakah “Sang Naga” masih mampu menyemburkan apinya?

Exit mobile version