Beranda

Layar Perak Pekan Ini: Obsesi Toksik, Jeritan Aztec, dan Trauma Ayah

Layar Perak Pekan Ini: Obsesi Toksik, Jeritan Aztec, dan Trauma Ayah
Film Wuthering Heights, sebuah interpretasi ulang atas mahakarya gotik Emily Bront (Ist)

Ulasan mendalam film akhir pekan: Obsesi toksik di Wuthering Heights, teror peluit Aztec di Whistle, hingga aksi brutal Zee Asadel di Jangan Seperti Bapak.

INDONESIAONLINE – Aroma mentega dari mesin pembuat berondong jagung bercampur dengan dinginnya pendingin udara lobi bioskop selalu menawarkan janji yang sama: pelarian. Namun, jika kita menelisik deretan poster film yang menghiasi dinding teater akhir pekan ini, narasi yang ditawarkan industri perfilman global maupun domestik sedang tidak menawarkan mimpi indah.

Sebaliknya, layar perak minggu ini menjadi cermin retak yang memantulkan kecemasan kolektif kita tentang cinta yang merusak, warisan kekerasan dalam keluarga, hingga ketakutan purba yang bangkit dari artefak masa lalu.

Dari adaptasi literatur klasik Inggris hingga jalanan berdarah di Jakarta, film-film yang rilis pekan ini bukan sekadar hiburan visual. Mereka adalah studi kasus sosiologis tentang apa yang menghantui dan menggerakkan emosi penonton kontemporer.

Dekonstruksi Obsesi: Wuthering Heights dan Romantisasi “Red Flag”

Sorotan utama tertuju pada Wuthering Heights, sebuah interpretasi ulang atas mahakarya gotik Emily Brontë. Kehadiran Margot Robbie sebagai Catherine Earnshaw dan Jacob Elordi sebagai Heathcliff bukan sekadar strategi casting berbasis algoritma popularitas.

Ini adalah eksperimen berisiko yang menempatkan dua ikon budaya pop modern—satu identik dengan boneka plastik sempurna (Barbie), lainnya dengan toksisitas remaja (Euphoria)—ke dalam lumpur emosional Yorkshire abad ke-19.

Secara historis, kisah Heathcliff dan Catherine sering disalahartikan sebagai romansa epik. Namun, produksi terbaru ini tampaknya mencoba mengembalikan naskah aslinya ke akar yang lebih gelap: sebuah studi patologis tentang dendam dan obsesi kelas sosial.

Jacob Elordi, dengan rekam jejak peran-peran yang kerap memancarkan aura bahaya, menjadi pilihan logis untuk memerankan Heathcliff, seorang anti-hero yang didorong oleh kemarahan sistemik akibat diskriminasi ras dan kelas.

Dampak sosial dari film ini patut dicermati. Di tengah diskusi global mengenai toxic relationship dan kesehatan mental, Wuthering Heights versi ini menantang penonton untuk tidak meromantisasi penderitaan. Ambisi Catherine untuk menikahi Edgar Linton (Shazad Latif) demi status sosial, yang kemudian memicu transformasi Heathcliff menjadi monster kapitalis yang pendendam, adalah kritik tajam terhadap materialisme yang relevan hingga hari ini.

Rating D17+ menjadi indikator bahwa film ini tidak akan menyensor brutalitas emosional yang menjadi inti dari novel aslinya. Pertanyaannya, apakah penonton Gen Z akan melihat ini sebagai peringatan, atau justru estetika baru dari kesedihan?

Akustik Ketakutan: “Whistle” dan Komodifikasi Artefak Kuno

Bergeser ke genre horor, Whistle garapan Corin Hardy membawa kita pada tren horor berbasis objek terkutuk (cursed object). Namun, ada elemen antropologis yang menarik di sini: penggunaan Peluit Kematian Aztec (Aztec Death Whistle).

Data arkeologi menunjukkan bahwa peluit ini nyata. Ditemukan pertama kali pada penggalian kuil di Meksiko tahun 1999, instrumen ini menghasilkan suara yang menyerupai jeritan manusia yang sedang disiksa atau tiupan angin ribut.

Para sejarawan berspekulasi alat ini digunakan dalam ritual pengorbanan atau intimidasi perang psikologis. Corin Hardy, yang sukses membangun atmosfer mencekam dalam The Nun, memanfaatkan fakta sejarah ini untuk menciptakan teror auditori.

Dalam konteks sinema horor modern, Whistle mengeksploitasi ketakutan kita terhadap konsekuensi dari “mengganggu” masa lalu. Premis tentang siswa SMA yang memanggil kematian dari masa depan melalui artefak kuno adalah metafora klasik tentang keingintahuan remaja yang berujung fatal.

Namun, secara teknis, film ini menyoroti bagaimana desain suara (sound design) kini memegang peran lebih krusial daripada jump scare visual. Ketegangan dibangun bukan dari apa yang kita lihat, melainkan dari apa yang kita dengar. Ini adalah evolusi penting dalam genre horor yang mencoba menembus kejenuhan pasar.

Trauma Generasi dan Wajah Baru Aksi Indonesia

Di ranah perfilman nasional, Jangan Seperti Bapak menawarkan antitesis menarik terhadap drama keluarga yang biasanya melankolis. Film ini menandai pergeseran tren di mana aktor muda seperti Zee Asadel (eks JKT48) mulai berani mengambil peran yang jauh dari citra remaja manis.

Film ini menyelami tema “Dosa Ayah” (Sins of the Father). Karakter Angel yang diperankan Zee tidak memilih jalan berkabung yang pasif pasca kematian ayahnya, Pablo (Verdi Solaiman). Ia memilih kekerasan. Bergabungnya Angel dengan sindikat Red Dragon untuk membalas dendam adalah representasi dari siklus kekerasan yang sulit diputus.

Judul Jangan Seperti Bapak sendiri adalah sebuah ironi. Angel melakukan persis apa yang dilakukan bapaknya untuk menghindari nasib bapaknya. Secara sosiologis, film ini membedah realitas kelam dunia bawah tanah yang seringkali menjadi satu-satunya opsi bagi mereka yang terpinggirkan secara sistemik.

Keberanian sineas Indonesia mengangkat tema gangster dengan protagonis perempuan muda menunjukkan kedewasaan industri dalam mengeksplorasi spektrum karakter yang lebih luas, melampaui stereotip gender tradisional dalam film aksi.

Dapur yang Dingin: “Rumah Tanpa Cahaya” dan Sosiologi Kehilangan

Jika Jangan Seperti Bapak merespons kematian dengan darah, Rumah Tanpa Cahaya meresponsnya dengan kehampaan di meja makan. Film ini menyentuh aspek kultural yang sangat dekat dengan masyarakat Indonesia: makanan sebagai bahasa cinta.

Karakter Nurul (Ira Wibowo) dan warung empal gentongnya bukan sekadar latar tempat. Warung itu adalah jantung ekonomi dan sosial keluarga. Ketika Nurul wafat, yang mati bukan hanya seorang ibu, tetapi juga sistem pendukung (support system) keluarga tersebut.

Qomar (Donny Damara) dan kedua putranya harus menghadapi realitas domestik yang brutal: siapa yang akan memasak? Siapa yang akan menjaga warung?

Film ini menyoroti kerapuhan struktur patriarki tradisional ketika figur domestik utama hilang. Dalam banyak keluarga Indonesia, ibu adalah manajer emosional dan operasional. Kehilangan sosok ini seringkali melumpuhkan fungsi keluarga secara total.

Rumah Tanpa Cahaya menjadi refleksi penting tentang peran tak tergantikan perempuan dalam arsitektur sosial keluarga kita, yang seringkali baru disadari ketika mereka telah tiada.

Meritokrasi dalam Kandang: Analisis “Goat”

Terakhir, di segmen animasi, Goat mungkin tampak seperti hiburan ringan untuk anak-anak. Namun, narasi tentang kambing yang ingin menjadi atlet profesional di dunia predator mengandung subteks politik yang kuat tentang meritokrasi dan diskriminasi.

Will Harris, sang kambing, adalah simbol minoritas yang mencoba menembus “langit-langit kaca” (glass ceiling) dalam struktur sosial yang didesain untuk predator. Olahraga roarball adalah metafora dari pasar kerja yang kompetitif dan seringkali bias.

Pesan bahwa “mimpi besar bisa diraih meski dipandang sebelah mata” memang klise, namun dalam konteks animasi olahraga, ia mengajarkan anak-anak tentang resistensi terhadap label sosial. Film ini mengajarkan bahwa bakat tidak mengenal spesies—atau dalam dunia nyata, tidak mengenal latar belakang.

Akhir pekan ini, bioskop tidak hanya menawarkan tontonan. Ia menawarkan spektrum emosi manusia yang paling mentah. Dari obsesi Jacob Elordi di padang rumput Inggris hingga dendam Zee Asadel di gang-gang Jakarta, benang merah yang menghubungkan semua film ini adalah perjuangan manusia menghadapi takdir dan trauma.

Bagi penonton, ini adalah kesempatan untuk melakukan katarsis. Kita menonton Wuthering Heights untuk memahami batas cinta dan benci, kita menonton Whistle untuk menertawakan kematian, dan kita menonton film-film Indonesia pekan ini untuk merenungkan arti keluarga.

Di tengah ketidakpastian dunia nyata, kegelapan ruang bioskop memberikan kita keberanian untuk menghadapi monster—baik yang berbentuk hantu Aztec maupun kenangan tentang ayah—dengan aman, sebelum lampu kembali menyala.

Exit mobile version