INDONESIAONLINE – Akses terhadap sejumlah situs pemerintah dan perusahaan di berbagai negara mendadak mengalami gangguan setelah ditemukan celah keamanan serius pada PHP. Pengelola situs memilih menutup sementara layanan tertentu untuk mencegah peretas masuk ke sistem dan mencuri data.
Masalah ini menjadi sorotan dunia setelah Cloudflare mencatat lonjakan upaya serangan dalam waktu singkat. CEO Cloudflare Matthew Prince mengatakan, jaringannya mendeteksi ribuan upaya eksploitasi dalam 10 jam sebelum informasi celah keamanan diumumkan ke publik. Jumlahnya melonjak menjadi puluhan ribu dalam 45 menit, ratusan ribu dalam dua jam, hingga mencapai jutaan upaya.
Amazon juga melaporkan adanya upaya eksploitasi lebih dalam. Pengembang PHP kemudian merilis pembaruan keamanan pada Rabu (21/10/2026) dan meminta pengguna segera memperbarui sistemnya.
Lantas, apa itu PHP dan mengapa masalah pada bahasa pemprograman ini bisa membuat sejumlah situs web mendadak offline?
Apa Itu PHP?
PHP adalah bahasa pemprograman yang digunakan untuk menjalankan berbagai fungsi di balik layar situs web. Teknologi ini membantu situs menampilkan informasi, memproses data, mengelola akun pengguna, hingga terhubung dengan basis data.
Sederhananya, ketika seseorang membuka situs dan masuk menggunakan akun, ada proses di belakang layar yang memeriksa data pengguna dan menyiapkan halaman yang akan ditampilkan. PHP dapat menjalankan tugas-tugas tersebut.
PHP telah digunakan selama puluhan tahun dan menjadi fondasi banyak situs web. Teknologi ini juga digunakan oleh sistem pengelola konten seperti WordPress dan Drupal.
Karena penggunaannya luas, celah keamanan pada PHP berpotensi berdampak pada banyak layanan sekaligus. Pengelola situs mungkin tidak menyadari bahwa sistem yang digunakan bergantung pada PHP, terutama jika pengembangan dan pemeliharaannya dilakukan oleh pihak lain.
Mengapa Celah Keamanan PHP Berbahaya?
Masalah yang ditemukan kali ini berkaitan dengan dua celah keamanan kritis yang dikenal sebagai php2shell. Keduanya dapat membuka peluang bagi penyerang untuk menjalankan perintah tanpa izin pada server yang rentan, dalam kondisi tertentu.
Server merupakan komputer atau sistem yang menyimpan data dan menjalankan layanan sebuah situs. Jika penyerang berhasil mengambil alih kendali server, dampaknya bisa berupa gangguan layanan, akses tanpa izin terhadap data, hingga perubahan pada sistem.
Celah tersebut telah ada selama bertahun-tahun sebelum akhirnya ditemukan dan diperbaiki. Peneliti keamanan dari perusahaan Calif berhasil mengidentifikasi salah satu masalah dengan bantuan model kecerdasan buatan GPT-5.6 Sol milik OpenAI. Peneliti dari perusahaan keamanan siber Wiz juga menemukan dan melaporkan kerentanan secara independen.
Temuan ini menunjukkan bahwa AI bisa membantu peneliti menemukan kelemahan perangkat lunak yang sebelumnya luput terdeteksi. Namun, kemampuan serupa juga berpotensi dimanfaatkan penyerang untuk mencari celah dan menyusun serangan lebih cepat.
Madeline Lawrence, salah satu pendiri perusahaan keamanan siber Belgia Aikido Security, mengatakan informasi tentang celah tersebut telah beredar sebelum perbaikan tersedia. Situasi ini membuat pengelola sistem harus bergerak cepat untuk menutup celah sebelum dimanfaatkan pihak lain.
“Perusahaan berlomba memperbarui sistem untuk menghadapi penyerang yang dapat menggunakan AI untuk mengeksploitasi celah tersebut. Itulah inti perlombaannya,” ujar Lawrence, dikutip dari Reuters.
Mengapa Situs Pemerintah dan Perusahaan Dimatikan?
Ketika celah keamanan serius ditemukan, pengelola situs perlu memastikan sistemnya aman sebelum layanan kembali dibuka. Jika pembaruan belum bisa diterapkan atau keamanan belum dapat dipastikan, menonaktifkan situs sementara menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi risiko.
Sejumlah perusahaan dan lembaga pemerintah di berbagai negara mengambil langkah tersebut.
Di Jepang, beberapa layanan internet milik Nomura, Mitsubishi UFJ Financial Group, ANA, dan East Japan Railway dihentikan sementara.
Asahi Group Holdings juga menangguhkan sejumlah situs dan sistem untuk memeriksa dampak keamanan. Kementerian Keuangan, Badan Meteorologi, dan Badan Pajak Nasional Jepang turut membatasi sebagian layanan daring.
Perusahaan telekomunikasi Prancis Orange membatasi akses ke sejumlah situs dan aplikasi berbasis PHP di beberapa anak usahanya. Sementara itu, sejumlah situs pemerintah di Eropa, termasuk Belanda, juga sempat dinonaktifkan sebagai langkah pencegahan.
Di Finlandia, penyedia layanan teknologi informasi pemerintah Valtori memasang pembaruan keamanan dan memulihkan layanan secara bertahap. Direktur Jenderal Valtori Hannu Naumanen mengatakan proses pemulihan bisa memakan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu karena sistem perlu diperbarui dan diuji.
Valtori menjelaskan gangguan layanan pemerintah Finlandia bukan disebabkan oleh eksploitasi celah PHP atau serangan siber. Pihaknya juga menyatakan belum menemukan bukti eksploitasi aktif pada sistem yang ditanganinya.
Langkah menonaktifkan situs tidak otomatis berarti situs tersebut telah diretas. Dalam kasus ini, sebagian pengelola memilih membatasi akses sebagai tindakan pencegahan sembari memperbarui dan memeriksa sistem.
Apa yang Dilakukan Pemerintah dan Perusahaan?
Sejumlah negara meminta pengelola sistem segera memasang pembaruan keamanan. Kementerian Perindustrian China, misalnya, mengimbau organisasi dan pengguna memperbarui PHP ke versi aman, memperkuat pemantauan, serta mengganti akun, kata sandi, dan kunci akses jika diperlukan.
Korea Selatan juga meningkatkan kewaspadaan keamanan siber di sektor swasta dan mengaktifkan langkah tanggap darurat.
Di Jerman, Kepala Keamanan Asosiasi Industri Digital Bitkom Felix Kuhlenkamp mengatakan banyak operator besar telah memperbarui sistemnya. Namun, proses tersebut dapat berlangsung lebih lama bagi organisasi kecil atau pengelola yang menggunakan sistem teknologi informasi kompleks.
Situs yang masih memakai PHP versi lama dan tidak lagi mendapat dukungan keamanan mungkin membutuhkan pembaruan lebih besar, bahkan hingga mengganti bagian sistem yang sudah usang.
CEO Microsoft Satya Nadella menilai insiden tersebut menjadi pengingat bahwa perangkat lunak harus dirancang agar mudah dirawat dan diamankan, terutama ketika sistem digital semakin kompleks.
“Saya sudah lama sekali tidak melihat kejadian seperti ini,” kata Nadella dalam sebuah acara di Jerman pada Kamis (22/10/2026).
Apakah Pengguna Internet Perlu Khawatir?
Pengguna internet tidak perlu memasang atau memperbarui PHP sendiri hanya untuk mengakses situs. Pembaruan ini menjadi tanggung jawab pengelola situs, penyedia hosting, dan tim teknologi informasi yang menjalankan sistem tersebut.
Meski begitu, dampaknya bisa dirasakan pengguna. Situs perbankan, layanan pemerintah, pemesanan tiket, atau layanan lain mungkin tidak dapat diakses sementara saat pengelolanya melakukan pembaruan dan pemeriksaan keamanan.
Pengguna sebaiknya tidak mengklik tautan mencurigakan atau memberikan kata sandi dan kode verifikasi melalui pesan yang mengatasnamakan layanan resmi. Jika suatu situs sedang tidak bisa dibuka, periksa pengumuman dari kanal resminya dan hindari tautan alternatif yang tidak jelas sumbernya.
Bagi pengelola situs, langkah yang harus dilakukan adalah memeriksa apakah sistem menggunakan PHP, memasang pembaruan keamanan yang sesuai, dan memastikan tidak ada tanda-tanda akses tanpa izin.
Lonjakan upaya eksploitasi yang terdeteksi Cloudflare menunjukkan betapa cepatnya penyerang bergerak setelah celah keamanan diumumkan. Karena itu, sebaiknya pengelola situs segera menutup celah dan memeriksa sistem, sebelum layanan kembali beroperasi normal. (bn/hel)






