Ekonomi Kabupaten Malang 2025 tumbuh 5,92%, menyalip Surabaya dan menempel ketat Pacitan. Sektor industri dan transportasi jadi kunci di tengah tantangan iklim.
INDONESIAONLINE – Angka statistik bukan sekadar deretan digit di atas kertas; ia adalah cerminan denyut nadi kehidupan jutaan manusia. Ketika Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan kinerja ekonomi tahun 2025 pada awal pekan ini, sebuah kejutan menyeruak dari wilayah selatan Jawa Timur.
Kabupaten Malang, wilayah yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan dan destinasi wisata alam, berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,92 persen.
Capaian ini bukan prestasi sembarangan. Angka tersebut menempatkan Kabupaten Malang di posisi kedua (runner-up) tertinggi di antara 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur, bersanding kembar dengan tetangganya, Kota Malang, yang mencatatkan persentase identik. Yang lebih mengejutkan, laju pertumbuhan ini melampaui raksasa ekonomi provinsi seperti Kota Surabaya dan pusat industri Sidoarjo.
Di balik euforia angka 5,92 persen tersebut, tersimpan narasi panjang tentang transformasi struktur ekonomi, ketangguhan sektor industri olahan, hingga kerentanan sektor pertanian yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah.
Anomali di Papan Atas: Mengapa Malang?
Senin (2/3/2026) pagi, Kepala BPS Kabupaten Malang, Erny Fatma Setyoharini, memberikan keterangan pers yang dinanti banyak pihak. Dalam lanskap ekonomi Jawa Timur yang biasanya didominasi oleh kawasan “Ring 1” (Surabaya, Gresik, Sidoarjo), munculnya Kabupaten Malang di peringkat kedua adalah sebuah fenomena menarik.
“Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Malang menempati urutan ke-2 dari 38 kota dan kabupaten di Jawa Timur,” tegas Erny.
Posisi pertama secara mengejutkan dipegang oleh Kabupaten Pacitan dengan lonjakan 6,35 persen, sebuah anomali yang dipicu oleh pembangunan infrastruktur masif dan pariwisata di wilayah barat daya Jatim tersebut.
Namun, konsistensi Kabupaten Malang dinilai lebih fundamental. Erny menjabarkan bahwa mesin pertumbuhan wilayah ini tidak lagi hanya bertumpu pada satu kaki. Ada diversifikasi yang matang. Sektor industri pengolahan, transportasi, dan jasa menjadi trula pendorong utama (key drivers).
Jika dibedah lebih dalam, industri pengolahan di Kabupaten Malang—yang mencakup pabrik rokok besar di wilayah utara hingga industri makanan-minuman skala UMKM—menunjukkan resiliensi luar biasa pasca-pemulihan ekonomi global.
Permintaan domestik yang kuat sepanjang 2025 menjaga roda pabrik tetap berputar kencang, menyerap ribuan tenaga kerja, dan menciptakan efek pengganda (multiplier effect) ke sektor perdagangan.
Konektivitas dan Geliat Transportasi
Faktor kedua yang tak kalah krusial adalah sektor transportasi dan pergudangan. Tahun 2025 menjadi tahun di mana konektivitas di Malang Raya mencapai titik optimalnya. Rampungnya beberapa ruas perbaikan di Jalur Lintas Selatan (JLS) dan optimalisasi tol Malang-Pandaan telah mengubah peta logistik.
Arus barang yang keluar masuk Kabupaten Malang menjadi lebih lancar. Hal ini berdampak langsung pada biaya logistik yang lebih efisien, membuat produk-produk lokal lebih kompetitif di pasar regional. Selain itu, mobilitas manusia—baik wisatawan maupun pekerja komuter—meningkat drastis.
Sektor jasa, khususnya pariwisata, menikmati buah dari konektivitas ini. Desa-desa wisata di kawasan Tumpang, Poncokusumo, hingga pantai-pantai di Malang Selatan tidak pernah sepi pengunjung sepanjang 2025. Data kunjungan wisata yang berbanding lurus dengan okupansi hotel dan restoran menjadi bukti sahih bahwa sektor jasa adalah tambang emas baru bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Namun, di tengah gemerlap pertumbuhan sektor sekunder dan tersier, Erny Fatma memberikan catatan kaki yang penting: sektor pertanian. Sebagai wilayah agraris, pertanian masih menjadi basis ekonomi Kabupaten Malang. Namun, kontribusinya mengalami tantangan berat akibat faktor eksternal yang sulit dikendalikan: iklim.
“Sektor pertanian sebenarnya juga tetap menjadi basis penting meskipun rentan terpengaruh oleh faktor iklim,” ujar Erny.
Tahun 2025 diwarnai oleh anomali cuaca yang cukup ekstrem. Pola hujan yang tidak menentu dan serangan hama sempat membuat produktivitas beberapa komoditas unggulan seperti padi, tebu, dan hortikultura di wilayah Ngantang serta Pujon mengalami fluktuasi.
Meski demikian, inovasi teknologi pertanian dan diversifikasi tanaman yang dilakukan petani mampu menahan sektor ini agar tidak terkontraksi terlalu dalam, sehingga tetap memberikan sumbangan positif meski tidak seagresif sektor industri.
Fenomena “Kembar Siam” Malang Raya
Hal menarik lainnya dari data BPS tahun 2025 adalah kesamaan angka pertumbuhan antara Kabupaten Malang dan Kota Malang, yakni sama-sama 5,92 persen. Fenomena ini menegaskan bahwa batas administratif antara kedua wilayah ini semakin kabur secara ekonomi.
Keduanya telah tumbuh menjadi satu kesatuan aglomerasi ekonomi yang saling menopang. Kota Malang sebagai pusat jasa, pendidikan, dan perdagangan, membutuhkan suplai sumber daya dan tenaga kerja dari Kabupaten. Sebaliknya, Kabupaten Malang membutuhkan pasar dan akses keuangan yang ada di Kota.
Sinergi “Malang Raya” ini terbukti ampuh menciptakan ekosistem ekonomi yang stabil, terlepas dari dinamika politik lokal.
“Dalam kurun waktu 13 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Malang relatif stabil. Yakni terjaga pada kisaran 5-6 persen,” tambah Erny, menyoroti tren jangka panjang yang positif ini. Stabilitas ini menjadi sinyal baik bagi investor yang membutuhkan kepastian iklim usaha.
Melihat lanskap Jawa Timur secara keseluruhan, pergeseran kekuatan ekonomi mulai terlihat. Kota Surabaya, yang selama puluhan tahun menjadi lokomotif utama, kali ini harus puas berada di urutan keempat dengan pertumbuhan 5,87 persen. Meski selisihnya tipis, fakta bahwa wilayah hinterland seperti Malang dan Tulungagung (5,75 persen) mampu menyalip ibu kota provinsi menunjukkan adanya pemerataan pembangunan. Desentralisasi ekonomi mulai menampakkan hasilnya; gula-gula ekonomi tidak lagi hanya menumpuk di Surabaya.
Di sisi lain, jurang ketimpangan antardaerah masih menganga lebar. Kontras dengan kegemilangan Pacitan dan Malang, Kota Kediri justru terperosok di posisi paling buncit (urutan ke-38) dengan pertumbuhan hanya 1,74 persen.
Jatuhnya ekonomi Kota Kediri ini menjadi peringatan keras bagi daerah yang terlalu bergantung pada satu industri dominan (single industry town). Ketika industri utama tersebut mengalami guncangan—baik karena regulasi cukai maupun dinamika pasar global—maka seluruh bangunan ekonomi kota akan terguncang hebat.
Kasus Kediri menjadi antitesis dari keberhasilan Kabupaten Malang yang mampu melakukan diversifikasi ekonomi ke berbagai sektor.
Sementara itu, Kabupaten Sampang di Madura masih berkutat di papan bawah dengan 3,45 persen, menunjukkan bahwa tantangan pembangunan di wilayah kepulauan dan daerah kering masih membutuhkan intervensi khusus dari pemerintah provinsi maupun pusat.
Suara dari Akar Rumput
Di lapangan, angka 5,92 persen ini diterjemahkan dalam bentuk geliat usaha yang nyata. Sutrisno (45), seorang pengusaha keripik buah di kawasan Tajinan, Kabupaten Malang, merasakan dampak positif tersebut.
“Tahun 2025 orderan memang naik, Mas. Bukan cuma dari toko oleh-oleh di Batu atau Kota Malang, tapi pengiriman ke luar pulau juga lancar karena ekspedisi makin cepat masuk desa,” ujarnya saat dihubungi terpisah.
Namun, ia juga mengakui tantangan bahan baku. “Cuma ya itu, kadang buahnya susah karena cuaca nggak jelas. Kalau pas langka, harga bahan baku naik, untung menipis. Tapi secara umum, usaha jalan terus.”
Testimoni Sutrisno adalah mikrokosmos dari makroekonomi Kabupaten Malang: industri pengolahannya tumbuh didukung transportasi yang baik, namun dibayang-bayangi oleh ketidakpastian suplai pertanian akibat iklim.
Memasuki tahun 2026, tantangan bagi Pemerintah Kabupaten Malang adalah bagaimana mempertahankan posisi runner-up ini, atau bahkan mengejar ketertinggalan dari Pacitan. Ketergantungan pada industri pengolahan harus dibarengi dengan penguatan di sektor hulu (pertanian).
Program hilirisasi pertanian yang digaungkan pemerintah pusat harus benar-benar mendarat di Kabupaten Malang. Petani tidak boleh hanya menjual gabah atau buah segar, tetapi harus didorong untuk masuk ke industri olahan agar nilai tambahnya tetap berputar di desa.
Selain itu, mitigasi bencana iklim harus menjadi prioritas anggaran. Infrastruktur irigasi, asuransi pertanian, dan teknologi smart farming bukan lagi pilihan, melainkan keharusan jika ingin sektor pertanian tetap menjadi bantalan ekonomi yang empuk saat sektor industri mengalami guncangan.
Capaian tahun 2025 adalah bukti bahwa Kabupaten Malang memiliki potensi raksasa. Dengan wilayah yang luas, sumber daya alam melimpah, dan demografi yang produktif, “Bumi Kanjuruhan” sedang menapaki jalan untuk menjadi pusat gravitasi ekonomi baru di Jawa Timur, menyeimbangkan dominasi Surabaya di utara.
Kini, bola ada di tangan para pemangku kebijakan. Apakah angka 5,92 persen ini akan menjadi puncak prestasi, atau sekadar pijakan awal untuk lompatan yang lebih tinggi? Waktu dan kerja keras yang akan menjawabnya.
Peringkat Pertumbuhan Ekonomi Jatim 2025 (Top 5 & Bottom 2):
- Pacitan: 6,35%
- Kabupaten Malang: 5,92%
- Kota Malang: 5,92%
- Kota Surabaya: 5,87%
- Tulungagung: 5,75% …
- Sampang: 3,45%
- Kota Kediri: 1,74%
