Beranda

Kisah Haru Jumaidin: Hilang dan Dikira Meninggal usai Gempa Palu 2018, Pulang setelah 8 Tahun

Jumaidin bersama kakaknya, Mahania, saat kembali ke rumah setelah 8 tahun hilang dan dikira meninggal usai gempa Palu 2018. (ist)

INDONESIAONLINE –Keluarga Jumaidin (26), warga Desa Bongka Makmur, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, tak kuasa menahan haru saat kembali bertemu dengannya setelah delapan tahun terpisah. Jumaidin sebelumnya dikabarkan meninggal dunia akibat gempa dan tsunami yang melanda Palu pada 2018.

Kepulangannya menjadi kejutan besar bagi keluarga yang selama ini meyakini dirinya telah tiada. Bahkan, keluarga sempat menggelar tahlilan 40 hari dan menyumbangkan sisa pakaian milik Jumaidin kepada orang lain.

Kakak Jumaidin, Mahania (33), mengaku tidak menyangka adiknya masih hidup. Keluarga awalnya sempat meragukan pria yang tiba-tiba datang ke rumah mereka. Namun, setelah mengenali ciri fisik berupa wajah dan giginya, mereka akhirnya yakin bahwa pria tersebut adalah Jumaidin.

“Awalnya kami sempat tidak percaya. Tetapi setelah melihat giginya, kami yakin bahwa memang benar dia adik kami,” kata Mahania.

Mahania mengungkapkan, setibanya di rumah, Jumaidin langsung mencari ayah mereka. Sayangnya, sang ayah telah meninggal dunia sekitar tiga tahun sebelumnya.

Sempat Tertimpa Reruntuhan saat Gempa Palu

Menurut penuturan Jumaidin kepada keluarganya, sebelum bencana terjadi pada 2018, ia telah lulus sekolah dan bekerja di sebuah perusahaan percetakan galon di Palu.

Ketika gempa mengguncang wilayah tersebut, Jumaidin sempat tertimpa reruntuhan hingga mengalami luka parah. Ayahnya kemudian berangkat ke Palu sehari setelah kejadian untuk mencari keberadaannya.

Namun, pencarian tersebut tidak membuahkan hasil. Keluarga akhirnya menerima kabar bahwa Jumaidin telah meninggal dunia. Surat atau akta kematian atas namanya pun diterbitkan.

Keluarga kemudian menggelar tahlilan 40 hari sebagai bentuk penghormatan atas kepergiannya. Meski demikian, Mahania mengaku dirinya dan sang ayah sempat memiliki firasat bahwa Jumaidin sebenarnya masih hidup.

Kecurigaan itu muncul karena mereka tidak pernah melihat jenazahnya secara langsung. Namun, hingga ayahnya meninggal dunia, kepastian mengenai nasib Jumaidin tak kunjung ditemukan.

Sempat Hilang Ingatan dan Bekerja di Morowali

Dalam ceritanya, Jumaidin mengungkapkan bahwa seorang teman sempat menolongnya setelah ia mengalami luka parah akibat bencana. Ia kemudian dibawa ke Morowali dan tidak sadarkan diri selama kurang lebih satu bulan.

Setelah sadar, Jumaidin tidak lagi mengetahui identitas maupun alamat rumahnya sendiri. Orang yang menolongnya kemudian membantu mengurus dokumen kependudukan, termasuk memasukkannya ke dalam kartu keluarga dan membuatkan KTP.

Jumaidin selanjutnya menjalani kehidupan baru dengan bekerja di Morowali. Pada 2023, ia sempat bekerja di tempat pencucian mobil di Palu sebelum berpindah ke perusahaan lain yang masih berada di kota tersebut.

Mahania mengatakan, adiknya masih memiliki sejumlah bekas luka akibat bencana delapan tahun silam. Luka paling parah berada di bagian kepala dan diduga berkaitan dengan gangguan ingatan yang dialaminya.

Meski telah kembali bertemu keluarga, ingatan Jumaidin belum sepenuhnya pulih. Ia masih berusaha mengingat kembali berbagai peristiwa dan kenangan dari masa lalunya.

Menemukan Kampung Halaman lewat Video TikTok

Jalan Jumaidin menemukan kembali kampung halamannya bermula ketika ia melihat gambar atau video sebuah jembatan di wilayah Bongka yang beredar di TikTok.

Pemandangan jembatan tersebut terasa familier baginya. Ia kemudian mencari informasi melalui internet untuk memastikan lokasi yang mulai muncul dalam ingatannya.

Ingatan itu perlahan berkembang hingga Jumaidin kembali mengenali sosok ayahnya dan mengingat identitas dirinya sendiri.

Seorang temannya yang bekerja di PLN turut membantu mencari lokasi kampung halaman Jumaidin. Teman tersebut mengantarnya ke wilayah sekitar Bongka.

Dari sana, Jumaidin melanjutkan perjalanan menggunakan ojek hingga tiba di Desa Bongka Makmur, Kabupaten Tojo Una-Una. Di tempat itulah ia akhirnya bertemu kembali dengan keluarga yang selama delapan tahun mengira dirinya telah meninggal dunia.

Memilih Tetap Tinggal di Palu

Meski keluarga berharap Jumaidin kembali tinggal bersama mereka, pria berusia 26 tahun itu memilih menetap di Palu.

Menurut Mahania, adiknya telah terbiasa menjalani kehidupan di kota tersebut. Jumaidin juga sudah memiliki pekerjaan dan banyak teman yang menemaninya selama bertahun-tahun. Walaupun demikian, Jumaidin berjanji akan pulang ke kampung halaman ketika memiliki waktu libur.

Keluarga juga berencana mempertemukannya dengan kerabat lain yang belum sempat bertemu secara langsung sejak kepulangannya, termasuk keluarga di Desa Pendolo, Kabupaten Poso.

Bagi keluarga, pertemuan kembali dengan Jumaidin menjadi kebahagiaan tersendiri setelah bertahun-tahun hidup dalam ketidakpastian mengenai nasibnya. (ars/hel)

Exit mobile version