INDONESIAONLINE – Permaisuri terakhir Iran, Farah Diba Pahlavi, hingga kini masih hidup dan menjalani kehidupan pengasingan di Prancis setelah tumbangnya monarki Iran pada Revolusi 1979.
Farah Diba, yang dikenal dengan gelar Shahbanou atau Ratu Iran, lahir di Teheran pada 14 Oktober 1938. Ia merupakan putri tunggal pasangan Sohrab Diba dan Farideh Ghotbi.
Sebelum Revolusi Iran pecah, negara itu dipimpin oleh Raja Shah Mohammad Reza Pahlavi bersama sang permaisuri. Revolusi Iran yang dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini membuat Shah Reza Pahlavi terguling.
Khomeini selanjutnya menjadi pemimpin tertinggi Iran sampai wafat pada 1989. Posisi Khomeini kemudian diteruskan Ayatollah Ali Khamenei mulai 1989 hingga meninggal pada 2026 akibat serangan Amerika Serikat dan Israel yang akhirnya memicu konflik di Timur Tengah dan krisis energi minyak dunia saat ini. Posisi Khamenei digantikan putranya: Mojtaba Khamenei.
Ketika rezim monarki runtuh pada 1979, keluarga kerajaan memutuskan meninggalkan Iran dan hidup di pengasingan.
Dalam laman pribadinya, Farah menyebut dirinya dan Shah meninggalkan Iran pada 16 Januari 1979. Sejak saat itu, ia tak pernah lagi kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya.
Saat ini Farah Diba tinggal di sebuah apartemen mewah di Paris yang menghadap Sungai Seine dan sejumlah landmark terkenal kota tersebut. Meski menikmati kehidupan yang tenang di Prancis, Farah mengaku masih merindukan Iran dan berharap suatu saat bisa kembali ke negaranya.
Laporan The Weekly menyebut Farah bersedia menukar kenyamanan hidupnya sekarang demi satu kesempatan terakhir melihat kampung halamannya.
Meski hidup jauh dari Iran, Farah tetap mengikuti perkembangan negaranya, terutama di bidang seni dan budaya. Ketertarikannya pada dunia seni memang sudah terlihat sejak masih menjadi permaisuri.
Selama sekitar dua dekade menjabat sebagai permaisuri Iran, Farah menjadi pelindung bagi 12 institusi seni serta memimpin 26 organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, olahraga, dan kebudayaan, termasuk sejumlah lembaga non-pemerintah.
Farah berasal dari keluarga kaya di Iran. Pada 1959, ia melanjutkan studi arsitektur di Ecole d’Architecture, Prancis. Di negara itulah ia bertemu Mohammad Reza Shah Pahlavi dalam sebuah acara resepsi kedutaan.
Pasangan tersebut mengumumkan pertunangan pada 1 Desember 1959 dan menikah tiga pekan kemudian, tepatnya 20 Desember 1959. Dari pernikahan itu, Farah dan Shah dikaruniai empat anak, yakni Putra Mahkota Reza yang lahir pada 1960, Putri Farahnaz pada 1963, Pangeran Alireza pada 1966, dan Putri Leila pada 1970.
Kini, setelah hampir 47 tahun hidup dalam pengasingan, Farah Diba masih memegang keyakinan bahwa suatu hari ia dapat kembali ke Iran. (rds/hel)
