INDONESIAONLINE – Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang (FK UM) terus memperkuat upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kali ini, FK UM menggelar program “Edukasi Kesehatan Telinga dan Skrining Sumbatan Serumen pada Remaja sebagai Upaya Pencegahan Gangguan Pendengaran” di SMP Negeri 22 Malang.
Kegiatan yang dipimpin dr Andrew Halim Sp THTBKL tersebut mendapat sambutan positif dari Kepala SMP Negeri 22 Malang Tutut Lispriana MPd beserta jajaran guru. Sedangkan ratusan siswa mengikuti rangkaian edukasi dan pemeriksaan kesehatan telinga dengan antusias sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga fungsi pendengaran sejak usia remaja.
Program ini menjadi wujud komitmen Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang dalam meningkatkan literasi kesehatan melalui edukasi preventif yang dipadukan dengan deteksi dini gangguan pendengaran di lingkungan sekolah.
Dalam sesi penyuluhan, tim FK UM memberikan materi mengenai anatomi dan fungsi telinga, mekanisme pendengaran, serta pentingnya menjaga kesehatan telinga sejak usia dini. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai fungsi serumen atau kotoran telinga sebagai pelindung alami yang berperan menjaga kelembapan liang telinga, menangkap debu, serta menghambat pertumbuhan mikroorganisme.
Namun, tim menjelaskan bahwa penumpukan serumen hingga menyumbat liang telinga dapat menyebabkan gangguan pendengaran sementara, rasa penuh pada telinga, telinga berdenging, bahkan meningkatkan risiko infeksi apabila dibersihkan dengan cara yang tidak tepat.
Ketua Tim Pengabdian FK UM dr Andrew Halim Sp THTBKL mengatakan masih banyak remaja yang memiliki kebiasaan membersihkan telinga menggunakan cotton bud atau benda lain yang justru mendorong serumen semakin masuk ke dalam liang telinga. “Edukasi mengenai cara merawat telinga yang benar perlu diberikan sejak dini agar remaja memahami bahwa tidak semua kotoran telinga harus dibersihkan sendiri. Mereka juga perlu mengetahui kapan harus memeriksakan telinganya kepada tenaga kesehatan,” ujar dr Andrew.
Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan earphone dengan volume tinggi dalam waktu lama serta paparan suara bising merupakan faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran pada usia remaja.
Selain edukasi, tim FK UM melakukan skrining sumbatan serumen melalui pemeriksaan otoskopi untuk menilai kondisi liang telinga setiap peserta. Pemeriksaan tersebut bertujuan mendeteksi adanya penumpukan serumen maupun kelainan lain yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Melalui skrining tersebut, para siswa memperoleh informasi mengenai kondisi kesehatan telinga mereka secara langsung. Bagi peserta yang ditemukan mengalami sumbatan serumen, tim memberikan edukasi mengenai penanganan yang aman serta menyarankan agar pembersihan dilakukan oleh tenaga kesehatan guna mencegah gangguan pendengaran maupun komplikasi lainnya.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Banyak siswa mengajukan pertanyaan mengenai cara membersihkan telinga yang benar, penggunaan earphone yang aman, hingga tanda-tanda gangguan pendengaran yang perlu diwaspadai. Tingginya partisipasi siswa ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan yang disampaikan secara komunikatif mampu meningkatkan pemahaman sekaligus kesadaran mereka terhadap pentingnya menjaga kesehatan telinga.
Kepala SMP Negeri 22 Malang, Tutut Lispriana MPd menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan kegiatan tersebut karena dinilai memberikan manfaat nyata bagi peserta didik. “Kegiatan ini memberikan manfaat besar bagi siswa, tidak hanya menambah pengetahuan tentang kesehatan telinga, tetapi juga meningkatkan kepedulian mereka untuk menjaga kesehatan pendengaran sejak dini,” ujar Tutut.
Program pengabdian masyarakat ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui penguatan upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan pendengaran serta SDG 4 (Quality Education) melalui penyediaan edukasi kesehatan yang berbasis ilmu pengetahuan dan mudah dipahami oleh peserta didik.
Selain memberikan manfaat bagi siswa, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang dalam mengimplementasikan ilmu kedokteran komunitas secara langsung di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan “Edukasi Kesehatan Telinga dan Skrining Sumbatan Serumen pada Remaja sebagai Upaya Pencegahan Gangguan Pendengaran”, FK UM berharap semakin banyak remaja yang memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan pendengaran sehingga risiko gangguan pendengaran sejak usia sekolah dapat diminimalkan dan kualitas hidup masyarakat di masa mendatang terus meningkat. (rds/hel)
