INDONESIAONLINE – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengancam akan melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi di wilayah Teluk. Ancaman ini muncul menyusul serangan terhadap ladang gas milik Iran, South Pars, yang memicu respons keras dari Teheran.
Pemerintah Iran melalui Garda Revolusi menyebut serangan terhadap fasilitas energi tersebut sebagai kesalahan besar. Mereka memperingatkan bahwa aksi balasan akan terus berlanjut dan bisa menghancurkan target jika serangan serupa kembali terjadi.
Situasi ini terjadi di tengah meningkatnya serangan terhadap tokoh militer dan intelijen Iran. Israel dilaporkan menewaskan Kepala Intelijen Iran Esmail Khatib. Kematian Khatib menambah daftar pejabat tinggi yang gugur sejak konflik memanas dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, pejabat senior Ali Larijani juga dilaporkan tewas.
Pemerintah Iran mengecam keras tindakan tersebut. Presiden Masoud Pezeshkian menyebutnya sebagai aksi keji. Sementara pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa setiap korban akan dibalas dengan harga mahal.
Dampak konflik juga dirasakan negara-negara di kawasan Teluk. Qatar melaporkan serangan rudal yang memicu kebakaran besar di fasilitas gas miliknya hingga menyebabkan kerusakan signifikan. Pemerintah Doha bahkan mengambil langkah diplomatik dengan mengusir dua perwakilan Iran.
Di Arab Saudi, sejumlah drone yang menargetkan fasilitas energi berhasil dicegat. Meski demikian, puing rudal balistik dilaporkan jatuh di sekitar kilang minyak di selatan Riyadh, meningkatkan kekhawatiran akan keamanan infrastruktur vital.
Eskalasi konflik ini turut mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan, dipicu kekhawatiran terganggunya distribusi energi, terutama di jalur strategis Selat Hormuz.
Sejumlah pemimpin dunia pun menyerukan deeskalasi. Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta agar serangan terhadap infrastruktur sipil dihentikan demi menjaga stabilitas dan keamanan pasokan energi global.
Meski mengalami tekanan besar, intelijen Amerika Serikat menilai pemerintahan Iran masih bertahan, walau dalam kondisi melemah. Di sisi lain, Iran tetap menunjukkan kapasitas militernya melalui serangan rudal yang dilaporkan menewaskan seorang pekerja asing di Israel.
Konflik yang terus meluas kini juga menjangkau Lebanon dan Irak. Serangan di Beirut memicu gelombang pengungsian besar. Sementara di Irak, kelompok bersenjata pro-Iran menyatakan penghentian sementara serangan terhadap Kedutaan Besar AS dengan syarat tertentu.
Hingga kini, konflik tersebut telah menelan ratusan korban jiwa dan memaksa jutaan orang mengungsi. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa krisis di Timur Tengah dapat berkembang menjadi ancaman global, terutama terhadap stabilitas energi dunia. (rds/hel)
