Ritual Bersih Sendang Kauripan Desa Getasanyar Magetan digelar. Suro sakral eksklusif pria jadi simbol syukur sekaligus potensi wisata baru.
INDONESIAONLINE – Asap tungku kayu mengepul di lereng Gunung Lawu saat menyambangi Desa Getasanyar, Kecamatan Sidorejo, pada pertengahan Juli 2024. Bau gulai kambing gurih bercampur udara sejuk langsung menyambut.
Ratusan pria lintas generasi sibuk di dapur umum darurat pinggir Sendang Kauripan. Tak satupun perempuan terlihat, sesuai adat turun-temurun yang melarang kaum hawa masuk kawasan sendang selama ritual Bersih Sendang berlangsung.
Ritual tahunan ini digelar setiap Suro 1957 J / Muharram 1446 H sebagai wujud syukur atas kelimpahan air sendang purba yang menghidupi warga ratusan tahun. Uniknya, seluruh tahapan teknis mulai pemotongan ternak, racik bumbu, masak di tungku, hingga saji hidangan sepenuhnya dikerjakan pria.
Ibnu Amirudin, sesepuh sekaligus pamong desa senior 40 tahun mengabdi, menegaskan landasan tradisi ini. “Begini, karena laki-laki itu kan kepala keluarga. Ya, karena dari dulu memang seperti itu, dari dulu seperti itu,” ungkapnya.
Sejak nenek moyang melestarikan sumber air ini, perempuan memang dilarang masuk area sendang selama ritual. “Dulu enggak pernah perempuan yang masuk. Dari dulu, dari nenek moyang kita, semenjak nguri-nguri (melestarikan) sumber sendang kehidupan ini,” imbuhnya.
Data Pusat Kajian Jawa (PKJ) UGM 2022 menyebut 68 persen tradisi adat pedesaan Jawa masih mempertahankan peran gender spesifik berakar adat turun-temurun.
Sendang Kauripan: Urat Nadi Pertanian Magetan
Sendang Kauripan bukan sekadar mata air biasa. Ibnu menuturkan manfaatnya melampaui batas administratif desa. “Sendang Kauripan namanya. Bisa menghidupi seluruh warga Desa Getasanyar, bahkan Magetan,” tuturnya.
Data Dinas PUPR Magetan 2024 menunjukkan sendang ini punya debit 120 liter per detik, mengairi 152 hektare sawah Dusun Getas, Blantren, dan desa sekitar, serta layani kebutuhan domestik 2.340 jiwa.
Kepala Desa Getasanyar, Angga Suprapto, tegaskan keberadaan sendang berdampak langsung pada warga agraris. “Berkat aliran air dari sendang ini, tanaman warga jadi subur, serta mampu menghasilkan tanaman dan buah-buahan yang bagus,” ujarnya.
Data BPS Magetan 2023 juga mencatat sektor pertanian kontribusi 28,7 persen PDRB Magetan. “Acara ini adalah acara tahunan yang wajib dilakukan sebagai wujud syukur kita atas rezeki air yang melimpah ruah, yang bisa menghidupi seluruh masyarakat Getasanyar,” tambah Angga.
Puncak ritual diawali warga pria memikul tumpeng dari rumah. Deretan tumpeng diletakkan rapi di pelataran sendang teduh sebelum sesepuh pimpin doa. Suasana hening menyelimuti saat doa dipanjatkan, lalu penutup tumpeng dibuka serentak sebagai simbol warga terima doa.
Usai ritual, ratusan warga duduk melingkar nikmati gulai kambing masak subuh. Sisa tumpeng berkah dibawa pulang untuk keluarga. Ibnu sebut jerih payah pria di dapur dan doa di sendang adalah komunikasi spiritual pada Sang Pencipta.
“Ini sebagai pertanda puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah sumber yang telah diberikan kepada kita semua. Perlambangnya ada di sini, titiknya ada di sini. Tapi sumbernya sendiri itu mulai dari belek, mengalir dari gunung, lalu keluar dan dimanfaatkan di sini,” pungkasnya.
Pesona alam sendang di ketinggian dengan panorama sawah dan keunikan tradisi pria di dapur menarik perhatian Kecamatan Sidorejo. Camat Sidorejo Budi Andriana nilai potensi besar kembangkan ekowisata baru.
“Lokasi sendang ini sangat strategis karena berada di ketinggian dan diapit oleh panorama sawah serta ladang yang sangat indah. Ini memiliki potensi besar untuk dikelola lebih lanjut menjadi destinasi wisata baru, jadi tidak sekadar tempat untuk melaksanakan kegiatan bersih desa saja,” ujarnya.
Data Disparbud Magetan mencatat 2,12 juta wisatawan berkunjung ke Magetan di 2023, tapi 89 persen terpusat di Telaga Sarangan. Pengembangan destinasi baru di lereng Lawu dinilai bisa ratakan distribusi wisatawan. Pemerintah desa tetap komitmen jaga nilai sakral ritual meski kawasan dibuka wisata.
“Wisatawan hanya boleh lihat dari jarak aman tanpa ganggu prosesi,” tegas Angga.
Pembatasan perempuan dalam ritual memicu perdebatan kesetaraan gender, tapi warga Getasanyar nilai ini bukan diskriminasi melainkan wujud tanggung jawab laki-laki sebagai kepala keluarga. Ibnu tegaskan laki-laki memegang peran utama urus sumber daya alam tulang punggung keluarga.
“Laki-laki yang bertanggung jawab cari nafkah, urus sawah, wajar jika mereka pimpin doa kesuburan tanaman dan kelimpahan air,” tuturnya.
Perempuan tetap punya peran penting siapkan tumpeng di rumah. “Ibu-ibu masak tumpeng, siapkan sesaji, peran mereka tetap ada cuma enggak masuk area sendang saja,” tambah Ibnu.
Tradisi Bersih Sendang Kauripan bukan sekadar ritual tahunan, tapi perekat sosial sekaligus pelestarian alam ratusan tahun. Di balik keunikan pria di dapur tersimpan nilai tanggung jawab dan syukur mendalam pada Tuhan dan alam. Pengembangan ekowisata diharap bikin tradisi lestari tanpa hilang nilai sakral, sekaligus beri manfaat ekonomi warga desa (bw/dnv)
