Ekonomi Kabupaten Malang 2025 tumbuh 5,92%, lampaui angka nasional. Sektor manufaktur & ekspor kopi-nila ke Eropa jadi motor penggerak utama. Simak ulasannya!
INDONESIAONLINE – Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, Kabupaten Malang muncul sebagai salah satu mercusuar pertumbuhan di Jawa Timur. Bukan sekadar klaim administratif, data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi bahwa wilayah yang dipimpin oleh Bupati HM. Sanusi ini berhasil mencatatkan performa ekonomi yang impresif, bahkan melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.
Pada laporan terbaru, pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I tahun 2026 tercatat di angka 5,61 persen. Sementara itu, Kabupaten Malang telah mematok standar tinggi sejak tahun 2025 dengan capaian pertumbuhan sebesar 5,92 persen.
Selisih angka ini menunjukkan bahwa strategi lokalisasi ekonomi dan optimalisasi potensi daerah di Kabupaten Malang berjalan di jalur yang tepat (on the right track).
Manufaktur Sebagai Tulang Punggung
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan cermin dari total nilai tambah bruto yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi di suatu wilayah. Di Kabupaten Malang, angka PDRB atas dasar harga berlaku tahun 2025 mencapai Rp 150.228,00 miliar, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 berada di angka Rp 84.203,88 miliar.
Jika ditelaah lebih dalam, struktur ekonomi Kabupaten Malang tidak lagi hanya bergantung pada sektor primer semata. Distribusi PDRB menurut lapangan usaha tahun 2025 menunjukkan dominasi sektor sekunder dan tersier:
- Industri Pengolahan: 33,67% (Kontributor Terbesar)
- Perdagangan Besar dan Eceran: 18,76%
- Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan: 13,81%
- Konstruksi: 12,46%
Tingginya angka industri pengolahan mencerminkan bahwa Kabupaten Malang mulai berhasil melakukan hilirisasi produk. Bahan mentah dari sektor pertanian tidak lagi langsung dijual keluar, melainkan diolah terlebih dahulu untuk meningkatkan nilai jual dan menyerap tenaga kerja lokal.
Tren Fluktuatif yang Berakhir Manis
Perjalanan menuju angka 5,92 persen tidaklah instan. Kabupaten Malang melewati fase pemulihan yang cukup menantang dalam lima tahun terakhir. Berikut adalah catatan transformasinya:
- 2021: 3,12% (Masa transisi pandemi)
- 2022: 5,13% (Rebound ekonomi)
- 2023: 5,00% (Stabilisasi)
- 2024: 4,96% (Konsolidasi)
- 2025: 5,92% (Akselerasi)
Kenaikan tajam di tahun 2025 dipicu oleh lonjakan di sektor jasa perusahaan yang tumbuh 9,04 persen, serta sektor penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 8,89 persen. Pulihnya sektor pariwisata di kawasan Malang Raya memberikan efek domino bagi pengusaha hotel, restoran, dan UMKM kreatif.
Pertumbuhan ekonomi tidak hanya dilihat dari apa yang diproduksi, tetapi juga dari apa yang dibelanjakan. Pertumbuhan PDRB menurut pengeluaran tahun 2025 di Kabupaten Malang menempatkan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi di posisi teratas dengan kenaikan 6,25 persen.
Hal ini menandakan bahwa Kabupaten Malang masih menjadi primadona bagi para investor untuk menanamkan modalnya, baik dalam bentuk pembangunan pabrik, infrastruktur, maupun pengembangan properti. Sementara itu, konsumsi rumah tangga tumbuh stabil di angka 4,60 persen, menunjukkan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah fluktuasi harga komoditas pangan.
Visi Ekspor Bupati Sanusi: Dari Ikan Nila ke Pasar Belanda
Bupati Malang, HM. Sanusi, menyambut positif capaian ini namun tetap menekankan pentingnya keberlanjutan. Dalam berbagai kesempatan, Sanusi menegaskan bahwa peran pemerintah adalah sebagai fasilitator yang membuka keran peluang bagi pelaku usaha lokal untuk go international.
“Terus kita dorong potensi-potensi ekonomi Kabupaten Malang untuk kita kembangkan. Jadi pemerintah memfasilitasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” tegas Sanusi.
Salah satu bukti nyata adalah keberhasilan sektor perikanan budidaya. Ikan nila hasil budidaya lokal kini telah menembus pasar Belanda. Tak hanya itu, singkong dan kopi asal Kabupaten Malang kini menjadi komoditas premium yang diekspor ke wilayah Eropa hingga Amerika Serikat.
Langkah ekspor ini sangat strategis mengingat permintaan global terhadap produk pangan organik dan berkelanjutan sedang meningkat pesat.
Secara regional, performa Kabupaten Malang hampir menyamai pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur yang pada triwulan I 2026 berada di angka 5,96 persen. Hanya terpaut 0,04 persen, Kabupaten Malang kini berdiri sejajar dengan kota-kota besar lainnya di Jawa Timur dalam hal akselerasi ekonomi.
Namun, pengamat ekonomi mengingatkan adanya tantangan besar terkait efisiensi logistik. Mengingat sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,69 persen, kebutuhan akan konektivitas jalan yang memadai dari area produksi ke pelabuhan ekspor menjadi sangat krusial.
Pemanfaatan Tol Pandaan-Malang secara maksimal dan rencana pembangunan infrastruktur pendukung di wilayah Malang Selatan diharapkan mampu memangkas biaya logistik yang selama ini menjadi beban para eksportir.
Hilirisasi Pertanian sebagai Kunci Masa Depan
Dengan kontribusi sektor pertanian sebesar 13,81 persen, potensi untuk meningkatkan pertumbuhan melalui industrialisasi pertanian sangat terbuka lebar. Fokus Bupati Sanusi pada ekspor kopi dan singkong adalah langkah awal.
Data dari Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa tren permintaan kopi dunia tumbuh 2,2% per tahun, dan Malang memiliki keuntungan geografis dengan kopi Dampit-nya yang sudah memiliki Geographical Indication (GI).
Pemerintah Kabupaten Malang melalui perangkat daerah terkait kini gencar melakukan pendampingan sertifikasi ekspor bagi UMKM. “Yang produk-produk kita fasilitasi untuk bisa ekspor, untuk bisa ditingkatkan volume kerjanya dan pengusahanya,” tambahnya.
Keberhasilan Kabupaten Malang melampaui pertumbuhan ekonomi nasional adalah bukti bahwa sinergi antara kebijakan pemerintah daerah, kepercayaan investor, dan kerja keras pelaku usaha di akar rumput dapat menghasilkan dampak nyata.
Dengan angka 5,92 persen, Kabupaten Malang bukan lagi sekadar wilayah pendukung di Jawa Timur, melainkan pemain utama dalam kancah ekonomi nasional. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa pertumbuhan ini bersifat inklusif—di mana kemakmuran dari ekspor kopi ke Eropa dan ikan nila ke Belanda dapat dirasakan hingga ke pelosok desa di Kabupaten Malang (od/dnv).
