Beranda

Kemenyan Naik Kelas, BRIN Sulap “Tanaman Dukun” Jadi Skincare

Kemenyan Naik Kelas, BRIN Sulap “Tanaman Dukun” Jadi Skincare
BRIN mengembangkan kemenyan menjadi bahan aktif serum dan sunscreen alami berbasis minyak atsiri untuk industri kosmetik Indonesia (Ist)

BRIN mengembangkan kemenyan menjadi bahan aktif serum dan sunscreen alami berbasis minyak atsiri untuk industri kosmetik Indonesia.

INDONESIAONLINE – Tanaman kemenyan selama ini lebih dikenal sebagai bagian dari ritual adat, pengobatan tradisional, hingga praktik spiritual di berbagai daerah Indonesia. Aroma asapnya identik dengan nuansa mistis dan perdukunan. Namun di tangan para peneliti modern, citra itu perlahan berubah.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini mengembangkan kemenyan sebagai bahan aktif produk kecantikan modern, mulai dari serum wajah hingga sunscreen berbasis minyak atsiri alami. Inovasi tersebut dipamerkan dalam ajang Indonesia Cosmetic Ingredients 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 6–8 Mei 2026.

Di tengah dominasi bahan baku impor dalam industri kosmetik nasional, riset ini menjadi bagian dari upaya memanfaatkan biodiversitas Indonesia sebagai sumber bahan aktif bernilai tinggi.

Periset Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Cut Rizlani Kholibrina, mengatakan formulasi skincare yang dikembangkan memanfaatkan minyak atsiri dari berbagai tanaman asli Nusantara seperti kemenyan, sedap malam, cempaka, dan cendana.

“Kemenyan dimanfaatkan untuk regenerasi kulit, anti-aging, serta antioksidan dan anti-inflamasi yang lebih kuat dari bahan kimia,” ujar Cut.

Pernyataan itu menunjukkan bagaimana bahan alami yang sebelumnya dianggap tradisional kini mulai diposisikan sebagai alternatif teknologi kosmetik modern. Tren global industri kecantikan memang bergerak menuju penggunaan bahan berbasis tumbuhan (plant-based ingredients) yang dianggap lebih ramah kulit dan lingkungan.

Dalam riset BRIN, minyak atsiri kemenyan disebut memiliki kandungan senyawa bioaktif yang berpotensi membantu regenerasi sel kulit dan melindungi dari radikal bebas. Secara tradisional, resin kemenyan memang telah lama digunakan dalam pengobatan herbal di berbagai peradaban, mulai dari Timur Tengah hingga Asia.

Di dunia internasional, resin kemenyan dikenal sebagai frankincense. Minyak esensialnya banyak digunakan dalam aromaterapi premium, parfum mewah, hingga produk anti-aging global.

Menurut laporan Grand View Research, pasar global minyak atsiri diperkirakan melampaui 15 miliar dollar AS dalam beberapa tahun ke depan, didorong tren produk alami dan wellness. Indonesia, sebagai salah satu negara dengan biodiversitas terbesar dunia, dinilai memiliki peluang besar memasok bahan baku industri tersebut.

Selain kemenyan, BRIN juga memanfaatkan bunga sedap malam atau tuberose yang disebut memiliki efek anti-inflamasi sekaligus mendukung relaksasi tubuh dan kualitas tidur.

Sementara bunga cempaka digunakan karena kandungan antioksidan tinggi yang membantu regenerasi kulit, sedangkan cendana dimanfaatkan sebagai sumber antioksidan alami sekaligus aroma khas parfum.

Riset BRIN tersebut kini telah mencapai Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) 7, yang berarti produk sudah memasuki tahap pengembangan menuju komersialisasi.

Dalam dunia riset dan industri, level TKT 7 menunjukkan teknologi telah diuji dalam lingkungan operasional nyata dan siap memasuki tahap produksi terbatas sebelum dipasarkan secara luas.

Meski mengusung konsep alami, BRIN tetap menekankan pentingnya standar keamanan. Minyak atsiri diketahui memiliki konsentrasi senyawa aktif tinggi yang dapat memicu iritasi jika digunakan berlebihan.

“Untuk menjamin keamanan konsumen, BRIN menetapkan standar formulasi minyak atsiri di bawah 2 persen guna menghindari risiko iritasi kulit,” kata Cut.

Fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam industri kecantikan modern. Konsumen kini tidak hanya mencari produk efektif, tetapi juga bahan yang dianggap lebih alami, berkelanjutan, dan memiliki cerita budaya.

Karena itu, aroma khas Nusantara yang dulu dianggap kuno justru mulai dipandang eksotis dan bernilai tinggi di pasar global.

Tak hanya skincare, BRIN juga mengembangkan parfum dan reed diffuser berbasis aroma lokal Indonesia. Periset BRIN, Aswandi, mengatakan langkah tersebut dilakukan karena tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku parfum.

Data yang dipaparkan BRIN menunjukkan pasar parfum nasional mencapai sekitar Rp9 triliun per tahun. Namun sekitar 63 persen produk parfum masih berasal dari impor, sementara produsen lokal juga masih bergantung pada bahan baku luar negeri.

“Kami menciptakan formulasi yang mencerminkan aroma khas Nusantara, seperti kemenyan dan kapur barus. Produk ini bukan hanya sekadar wangi, tetapi memiliki khasiat aromaterapi,” ujar Aswandi.

Di pasar global, konsep parfum berbasis identitas lokal sebenarnya tengah berkembang pesat. Konsumen premium mulai mencari aroma yang unik dan memiliki narasi budaya kuat, bukan sekadar wewangian generik.

Indonesia memiliki potensi besar di sektor ini karena kaya tanaman aromatik seperti nilam, vetiver, kenanga, gaharu, melati, hingga cendana.

Kemenyan sendiri selama ini menjadi salah satu komoditas ekspor penting dari Sumatra Utara. Getah pohon kemenyan Indonesia bahkan digunakan industri parfum, dupa, dan kosmetik di berbagai negara seperti India, China, hingga Italia.

Namun sebagian besar ekspor masih berbentuk bahan mentah dengan nilai tambah rendah. Karena itu, hilirisasi menjadi produk kosmetik dan parfum dianggap dapat meningkatkan nilai ekonomi tanaman lokal.

Selain industri kecantikan, BRIN juga memperkenalkan inovasi produk oral care berbasis biodiversitas Indonesia. Produk pasta gigi dan cairan kumur dikembangkan menggunakan enzim laccase hasil isolasi mikroorganisme lokal.

Periset BRIN, Dede Heri Yuli Yanto, menyebut selama ini bahan baku enzim untuk produk oral care masih bergantung pada impor.

“Padahal kita punya kekayaan biodiversitas yang besar,” ujarnya.

Enzim laccase tersebut dikembangkan sebagai antibakteri sekaligus pemutih gigi alami yang dinilai lebih aman dan murah dibanding produk impor.

Berbagai inovasi ini menunjukkan bagaimana kekayaan hayati Indonesia mulai diarahkan bukan hanya sebagai komoditas mentah, tetapi sebagai fondasi industri berbasis riset dan teknologi.

Tanaman yang dulu hanya identik dengan ritual tradisional kini perlahan memasuki laboratorium modern dan rak industri kecantikan global. Kemenyan, yang selama puluhan tahun dipandang sebagai simbol dunia mistis, kini justru sedang dipersiapkan menjadi simbol baru industri skincare alami Indonesia.

Exit mobile version