Beranda

Monumen Laswi Bandung: Kisah Srikandi Lawan Sekutu Pakai Mangga

Monumen Laswi Bandung: Kisah Srikandi Lawan Sekutu Pakai Mangga
Ilustrasi Laskar Wanita Indonesia (Laswi) dengan julukan Maung Bikang (io)

Monumen Laswi Bandung diresmikan 10 Nov 1981, hormati srikandi kemerdekaan. Kisah Tuti ancam ayah pakai mangga, Soesilowati potong kepala Gurkha.

INDONESIAONLINE – Di bawah rindangnya pohon beringin di Jalan Perintis Kemerdekaan, kawasan Viaduct, Kota Bandung, berdiri tegak patung Laskar Wanita Indonesia (Laswi) karya Sunaryo, alumnus Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB).

Diresmikan oleh Wali Kota Bandung R. Husein Wangsaatmadja pada 10 November 1981, monumen ini sempat direvitalisasi pada 2021 dengan anggaran Rp2,1 miliar dari Pemerintah Kota Bandung.

Patung tersebut menampilkan sosok perempuan berdiri sembari memegang bedil laras panjang yang mendongak, rambut dikucir kepang. Dialah Tuti Amir Kartabrata, salah satu srikandi Laswi yang rela mengancam ayah kandungnya dengan granat demi bergabung ke garda depan melawan Sekutu dan NICA di tahun 1945.

Monumen Laswi di Kota Bandung (Ist)

Ancaman Mangga Tuti Amir Kartabrata Hasilkan Restu Ayah

Beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 mengumandang, Bandung belum juga bebas dari ancaman Belanda. Saat serdadu Sekutu tiba di Bandung pada 12 Oktober 1945, Belanda tepergok membonceng Sekutu melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration) dan berniat menguasai Indonesia kembali.

Ketika tersiar kabar bahwa Bandung hendak dibumihanguskan demi membendung laju Sekutu, Tuti tak mau tinggal diam dan berniat maju ke garda depan. Kala itu, ayah Tuti menjabat sebagai instruktur militer Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Bandung, yang dibentuk 5 Oktober 1945.

Ayahnya kenal betul kondisi palagan Bandung, dan ketika tahu niat anaknya mengundang bahaya, Husein tak memberi restu.

Namun Tuti tak kehabisan akal. Dia bersama Nani Sumarni, koleganya di Laswi, terus membujuk ayahnya agar mengizinkannya turut berperang.

“Jika tidak diizinkan, maka saya akan meledakkan granat yang ada di saku celana saya,” ketus Tuti.

Siasat mengancam itu terbukti ampuh. Sang ayah tak bisa mencegah lagi niat putrinya untuk bergabung bersama barisan Laswi untuk mengadang Sekutu. Belakangan ketahuan, yang Tuti simpan di saku celananya ternyata bukan granat, melainkan sebutir mangga.

Data Arsip Nasional RI (ANRI) mencatat, Tuti resmi bergabung dengan Laswi pada 15 Oktober 1945, tiga hari setelah organisasi tersebut dibentuk. Ia ditempatkan di unit tempur di kawasan Bandung Utara, yang menjadi basis pertahanan Sekutu dan NICA.

Laskar ‘Maung Bikang’ Digembleng Opsir PETA

Laswi dibentuk pada tanggal yang sama dengan kedatangan Sekutu ke Kota Bandung, 12 Oktober 1945. Mereka bermarkas di Gedung Mardi Harja, Jalan Pangeran Sumedang (sekarang Jalan Oto Iskandar Di Nata) Nomor 91, Bandung.

Laskar ini dikomandani oleh Sumarsih Yati atau Yati Arudji Kartawinata. Pimpinan lainnya yakni Dujaheni Masun (wakil ketua), Eja Teja Setiasih (sekretaris satu), Kusmartinah (sekretaris dua), Maemunah (bendahara satu), Siti Sabariah (bendahara dua), Nani Pramani dan Suati (keduanya ajudan), dan Sri Karsono (palang merah).

Menurut Sugiarta Sriwibawa dalam Laskar Wanita Indonesia (LASWI) (1985: 38), lebih dari seratus pemudi mencatatkan diri sebagai anggotanya. Umumnya masih mengenyam pendidikan setara SMP, dan beberapa merupakan pelajar sekolah guru dan Sekolah Menengah Tinggi (SMT). Lain itu, ada pula ibu rumah tangga hingga janda yang ditinggal mati suaminya di medan perang.

Mereka digembleng oleh bekas para opsir PETA (Pembela Tanah Air) dengan materi pelatihan hampir mirip dengan materi yang didapatkan para pejuang laki-laki pada umumnya.

Latihan itu meliputi baris-berbaris, olahraga, Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK), membuat dapur umum, menggunakan senjata, dan siasat penyerangan serta pertahanan. Orang-orang Bandung menjuluki mereka “Maung Bikang”, artinya macan betina dalam bahasa Sunda.

“Para anggota Laswi tampak tak kalah terampil dalam memasang dan merakit senapan api. Maklumlah, mereka adalah pelajar-pelajar sekolah lanjutan. Mereka pun sangat akrab dengan segala macam lapisan penduduk,” tulis Sugiarta.

Salah satu peran Laswi di luar kemiliteran adalah mengulurkan bantuan untuk evakuasi banjir Cikapundung pada 25 November 1945 yang banyak memakan korban. Banjir besar itu diduga akibat ulah NICA yang menyabotase pintu air Kali Cikapundung di Dago, sehingga air bah menerjang kota.

Data KITLV mencatat, banjir tersebut menewaskan 127 warga sipil, dan Laswi membantu mengevakuasi 89 korban ke pengungsian.

Aksi Soesilowati dan Willy, Duel Lawan Serdadu Gurkha

Sejumlah anggota Laswi, di antaranya Nani Sumarni dan Siti Sabariah, ditugaskan untuk memata-matai markas NICA di wilayah Bandung Utara. Tugas itu langsung datang dari Komandan Divisi III TKR Daerah Priangan, Arudji Kartawinata.

Kedua wanita ini menyamar sebagai penjual hasil bumi. Nahas, keduanya ketahuan dan digelandang ke penjara Glodok. Risau kolega mereka tertawan, solidaritas di dalam Laswi menguat untuk membebaskan kedua anggotanya.

Dalam sebuah pencegatan, Laswi berhasil menawan dua serdadu Gurkha dari kesatuan British Indian Army (BIA). Mereka lalu menghubungi komandan pasukan Sekutu dan menawarkan tukar guling dengan dua anggota mereka. Akhirnya Nani Sumarni dan Siti Sabariah dibebaskan.

Nama anggota Laswi lainnya yang cukup beken adalah Soesilowati. Dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid I: Kenangan Masa Muda (1982: 115), Nasution secara khusus mengenang sosoknya.

Pada 1946, Nasution yang kala itu menjabat sebagai Panglima Divisi Siliwangi dikagetkan dengan kedatangan mojang yang menunggang seekor kuda ke kantornya di Jalan Kepatihan, Bandung. Tanpa banyak cakap, perempuan itu menyelonong masuk ke ruang kerja sang panglima.

Sebuah bungkusan dilemparkan ke atas mejanya. Lantas, dibukanya langsung isi bungkusan itu. Nasution terperanjat begitu membuka isi bungkusan itu. Tampak sepenggal kepala prajurit Gurkha menyembul dan masih basah bersimbah darah, lengkap dengan pita tanda pangkatnya.

Kepada Nasution, Soesilowati mengaku memenggal sendiri kepala prajurit Gurkha itu. Nasution menanggapinya dengan sambutan hangat. Setelah itu, Soesilowati ditugaskan menjadi pengawal pribadinya di beberapa kegiatan komandemen.

“Yang saya masih ingat dari dia adalah kebiasaannya jika tengah melakukan pengawalan: duduk tegap di atas kap mobil,” kenang Nasution.

Kisah lainnya datang dari Willy Soekirman alias Kambela Dewi. Dalam buku Saya Pilih Mengungsi (2013) karya Ratnayu Sitaresmi dkk., dikisahkan bahwa ketika bertempur, Willy mengamuk bagai harimau betina yang terluka. Dia sering melakukannya dalam kondisi setengah sadar (trance) saat berperang.

Senjata utamanya hanyalah sebuah pedang kecil. Namun itu telah cukup untuk memenangkan duel satu lawan satu dengan prajurit Gurkha yang bersenjata kukri (sejenis pisau tajam melengkung). Tak jarang lawan-lawan duelnya kena penggal pedangnya.

“Saya selalu tak sadar jika sedang memenggal kepala musuh. Tahu-tahu aja ada darah segar mengalir di tangan saya dan kawan-kawan di sekitar berteriak histeris menyemangati saya,” ungkapnya.

Salah satu duel terjadi di dekat kawasan Viaduct, lokasi di mana patung Laswi kini berdiri. Ceritanya, rombongan Laswi mendapati kebuntuan ketika prajurit Gurkha memburu dan mendesak mereka. Tanpa banyak cakap, Willy mengeluarkan pedang kecilnya dan mengamuk. Perkelahian satu lawan satu itu dimenangkan Willy, para pejuang serta serdadu Gurkha lainnya jadi saksi.

Willy mengaku ketika itu amarahnya terpancing oleh salah seorang tentara Gurkha yang mengejek. Pasalnya, ejekan itu bernada sinis melecehkan.

“[Pedang] samurai pendek memang sudah terhunus bila di front,” tulis Willy dalam antologi Seribu Wajah Wanita Pejuang dalam Kancah Revolusi ’45 (1995: 358).

Hingga kini, monumen Laswi di Viaduct Bandung tetap menjadi pengingat akan jasa para srikandi yang rela berkorban demi kemerdekaan Indonesia. Meskipun kisah mereka sering kalah populer dibandingkan pejuang laki-laki, peran Laswi dalam perang kemerdekaan di Bandung tak bisa dipungkiri.

Pada 2021, Dinas Pariwisata Kota Bandung mencatat lebih dari 12.000 wisatawan berkunjung ke monumen tersebut setiap tahunnya, mayoritas adalah pelajar yang ingin mempelajari sejarah perjuangan perempuan Indonesia.

Exit mobile version