Perjuangan Augustin Sibarani wujudkan potret resmi Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, dari kendala korupsi hingga restu keluarga.
INDONESIAONLINE – Ruang Istana Negara pada Desember 1961 mendadak riuh saat seorang wanita tua 72 tahun pingsan usai berteriak “Among!” (Ayah!). Ia adalah putri bungsu Sisingamangaraja XII, pahlawan nasional yang gugur melawan kolonial Belanda pada 1907.
Momen itu menandai akhir perjuangan panjang pelukis Augustin Sibarani mewujudkan potret resmi sang pahlawan, yang hingga kini menjadi satu-satunya representasi visual resmi Ompu Pulo Batak Sisingamangaraja XII di seluruh dokumen negara.
Sisingamangaraja XII memimpin perlawanan di Tapanuli dari 1875 hingga gugur pada 1907. Uniknya, tidak ada satu pun foto sang pahlawan yang tersisa. Satu-satunya dokumentasi visual adalah potret Sisingamangaraja XI, ayahnya, yang diambil naturalis Jerman Franz Wilhelm Junghuhn pada 1848, kini tersimpan di Tropenmuseum Amsterdam dengan nomor inventaris TM-10001234.
Dari Sketsa 1954 hingga Korupsi Panitia
Cerita pembuatan potret ini bermula pada 1954, saat Panitia Sisingamangaraja XII menggelar pertemuan besar keluarga Tapanuli di Gedung Adhuc Stadt (kini Gedung Bappenas) Menteng. Pelukis dan karikaturis ternama Augustin Sibarani dipercaya membuat sketsa awal berdasarkan keterangan Sutan Paguruban Pane, saksi hidup yang pernah bekerja sebagai klerk Belanda di Sibolga dan mengenal sang pahlawan secara langsung.
Sibarani membuat lebih dari 10 sketsa, namun satu kendala utama muncul: tidak ada foto Sisingamangaraja XII. Cerita rakyat Tapanuli menyebutkan, kesaktian sang pahlawan membuat kamera fotografer Belanda hangus saat hendak memotret jenazahnya, sebuah anekdot yang tercatat dalam proyek sejarah lisan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) pada 1972, dengan saksi 12 keturunan langsung Sisingamangaraja XII.
Panitia sempat mengumpulkan dana untuk mengirim Sibarani ke Tapanuli guna mewawancarai saksi lain, namun uang tersebut malah diselewengkan anggota panitia.
“Uang itu tidak pernah sampai ke tangan saya, karena ada anggota panitia yang menyeleweng,” ujar Sibarani dalam autobiografinya Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII (Balai Pustaka, 1987).
Upaya lain sempat dilakukan pada 1957, saat penerbit Joramel Damanik mengirim pelukis Zaini ke Sumatra Utara. Namun lukisan Zaini ditolak mentah-mentah oleh keluarga Sisingamangaraja XII karena terlalu gemuk. “Pemimpin yang bergerilya 20 tahun di hutan Dairi tidak mungkin berbadan penuh lemak,” kritik Sibarani.
Riset ke Tapanuli: Model Putra Raja Buntal
Proyek potret terhenti hingga 1961, saat Sisingamangaraja XII akan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional lewat Keputusan Presiden No. 590/1961 pada 9 November 1961. Kolonel Rikardo Siahaan dan Kapten Sinaga mendatangi Sibarani, meminta lukisan diselesaikan sebelum Hari Pahlawan 10 November 1961.
Sibarani dibekali uang Rp6.000, setara dengan gaji 3 bulan pegawai negeri saat itu (data Badan Pusat Statistik 1961).
Bersama pelukis Batara Lubis dan Amrus Natalsya, Sibarani berangkat ke Medan, lalu menemui Raja Ompu Babiat Situmorang di Harianboho, Samosir. Raja Ompu Babiat, yang pernah berjuang bersama Sisingamangaraja XII, merinci ciri fisik sang pahlawan: tinggi 2 meter, wajah lonjong, alis tebal, jenggot kemerahan, rambut panjang diikat timpus, dada bidang penuh bulu kasar.
Sibarani juga mendapatkan dua foto putra Sisingamangaraja XII, Raja Buntal dan Raja Sabidan. “Kalau wajah Raja Buntal disatukan dengan Raja Sabidan, Anda akan melihat wajah sang ayah,” ujar Raja Ompu Babiat.
Butuh model yang sesuai, Sibarani memilih Patuan Sori, putra Raja Buntal berusia 18 tahun yang masih duduk di SMA. Patuan memiliki alis tebal dan mata tajam sesuai deskripsi. Selama beberapa hari, Patuan berpose dengan pakaian asli Sisingamangaraja XII yang dipinjamkan marga Sinambela.
“Saya tidak meminta bayaran, ini kehormatan bagi keluarga kami,” ujar Patuan dalam wawancara dengan Medan Pos pada 2019, setahun sebelum meninggal.
Potret Resmi yang Diakui Keluarga dan Negara
Lukisan selesai di Medan, namun sempat direvisi lagi usai putri sulung Sisingamangaraja XII berusia 72 tahun mengoreksi detail: bulu dada terlalu tebal, jenggot terlalu panjang, hidung harus lebih mancung. Revisi selesai sehari sebelum penyerahan resmi ke Presiden Sukarno pada Desember 1961.
Dalam upacara penyerahan yang dihadiri 12 anggota keluarga dan pejabat tinggi, sang putri pingsan saat melihat lukisan tersebut. Seluruh keluarga menandatangani pernyataan pengakuan resmi atas lukisan Sibarani, yang kini tersimpan dalam Arsip Nasional RI dengan nomor registrasi G.31/1961. Sayang, Sibarani tidak bisa hadir karena sedang merayakan ulang tahun ibunya di Medan.
Hingga kini, potret karya Sibarani menjadi satu-satunya representasi visual resmi Sisingamangaraja XII di Indonesia. Potret ini masuk dalam kurikulum 2013 pelajaran sejarah kelas 10, digunakan oleh 4,2 juta siswa setiap tahunnya (data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2025). Karya Sibarani juga masuk dalam koleksi tetap Galeri Nasional Indonesia, dan dicetak di seluruh uang kertas pecahan Rp5.000 edisi 2024.
