Rektor UIN Maliki Malang Ilfi Nur Diana menegaskan dukungan pembiayaan bagi mahasiswa berprestasi yang membawa nama kampus harus akuntabel.
INDONESIAONLINE – Prestasi mahasiswa tidak berhenti ketika sebuah nama keluar sebagai juara. Bagi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, kemenangan mahasiswa di arena kompetisi juga membawa nama institusi ke ruang publik. Karena itu, kampus dinilai memiliki alasan untuk hadir memberikan dukungan, termasuk dalam pembiayaan kegiatan.
Namun, dukungan tersebut bukan cek kosong. Ada pertanggungjawaban anggaran dan kepentingan institusi yang harus berjalan beriringan.
Penegasan itu disampaikan Rektor UIN Maliki Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., ketika berdialog langsung dengan mahasiswa dalam forum Ngobras (Ngobrol Santai) bersama jajaran pimpinan universitas di Ruang Senat, Lantai 4 Kampus I UIN Malang, Rabu (2/9/2026).
Forum tersebut mempertemukan pimpinan universitas dengan sejumlah unsur organisasi kemahasiswaan, mulai Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Senat Mahasiswa (SEMA) fakultas, hingga perwakilan badan eksekutif mahasiswa di tingkat fakultas.
Ilfi memandang hubungan antara mahasiswa dan institusi tidak bisa dipisahkan ketika sebuah kompetisi menggunakan nama resmi kampus. Ketika capaian mahasiswa kemudian dipublikasikan dan menjadi bagian dari citra universitas, kontribusi kampus terhadap kegiatan tersebut dinilai memiliki dasar yang jelas.
“Kalau prestasi mahasiswa, dan itu atas nama kampus, dan itu nanti kalau menang, di-upload di siaran, menjadi branding-nya kampus, maka itu harus dibiayai,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa prestasi mahasiswa ditempatkan sebagai salah satu bagian dari investasi reputasi perguruan tinggi. Mahasiswa yang berkompetisi bukan hanya membawa kemampuan personal, tetapi juga identitas institusi yang melekat pada dirinya.
Laman resmi UIN Malang saat ini mencatat universitas memiliki lebih dari 21 ribu mahasiswa. Data yang ditampilkan kampus menyebut jumlah mahasiswa mencapai 21.470 orang, dengan 10 fakultas dan 55 departemen.
Besarnya jumlah mahasiswa tersebut membuat ruang pengembangan prestasi menjadi semakin luas. Kompetisi akademik, seni, olahraga, kewirausahaan, maupun berbagai bidang kreativitas dapat menjadi kanal untuk memperkenalkan nama kampus di luar lingkungan akademik.
Tetapi pada saat yang sama, semakin banyak aktivitas mahasiswa yang membawa nama universitas, semakin penting pula sistem seleksi dan pertanggungjawaban pembiayaannya.
Prestasi, Anggaran, dan Wajah Kampus di Ruang Publik
Ilfi menekankan bahwa dukungan institusi harus mempertimbangkan posisi mahasiswa sebagai representasi kampus, bentuk kompetisi yang diikuti, serta manfaat kegiatan terhadap reputasi universitas.
Dengan kata lain, ukuran dukungan tidak semata-mata apakah mahasiswa berpotensi menjadi juara. Ada dimensi kelembagaan yang perlu diperhitungkan sejak pengajuan kegiatan hingga laporan setelah kegiatan selesai.
Model tersebut menjadi relevan bagi UIN Malang yang tengah mendorong penguatan reputasi akademik dan kemahasiswaan. Pada 2026, misalnya, UIN Malang mencatat 5.269 peminat melalui jalur Seleksi Sistem Elektronik UM-PTKIN. Dari jumlah tersebut, 1.766 menjadikan UIN Malang sebagai pilihan pertama, 1.865 sebagai pilihan kedua, dan 1.638 sebagai pilihan ketiga. Kampus membuka 14 program studi berbasis keagamaan dengan kuota 1.917 mahasiswa melalui jalur tersebut.
Angka peminat tersebut memperlihatkan bahwa reputasi perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam persaingan memperoleh calon mahasiswa. Prestasi mahasiswa yang muncul di media, kompetisi nasional, maupun panggung internasional pada akhirnya dapat menjadi salah satu wajah institusi yang dilihat masyarakat.
Karena itu, investasi terhadap prestasi mahasiswa memiliki dua sisi. Di satu sisi, mahasiswa memperoleh kesempatan mengembangkan kemampuan. Di sisi lain, universitas memperoleh ruang untuk memperkuat identitas dan reputasinya.
Tetapi investasi tersebut harus memiliki mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan.
Selain membahas pembiayaan kompetisi, forum Ngobras juga menjadi tempat evaluasi aktivitas organisasi mahasiswa. Ilfi meminta program kerja yang telah dirancang tidak berhenti sebagai daftar kegiatan di atas kertas.
Masa kepengurusan organisasi mahasiswa yang akan berakhir pada Desember menjadi alasan bagi pimpinan kampus untuk mendorong percepatan. Program yang belum terlaksana diminta segera dipetakan berdasarkan tingkat urgensi dan waktu yang tersisa.
Langkah tersebut diperlukan agar kegiatan tidak menumpuk menjelang pergantian kepengurusan.
Di tengah dorongan itu, Ilfi juga membuka ruang bagi berkembangnya komunitas mahasiswa. Komunitas yang dinilai memberikan kontribusi positif bagi mahasiswa maupun kehidupan kampus dapat dikembangkan melalui mekanisme kelembagaan yang berlaku.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa ekosistem kemahasiswaan tidak hanya bertumpu pada organisasi formal. Komunitas juga dapat menjadi ruang lahirnya gagasan, kreativitas, kolaborasi, sekaligus prestasi baru.
Konteks itu terlihat dari geliat kegiatan mahasiswa UIN Malang sepanjang 2026. Dalam rangkaian penerimaan mahasiswa baru, misalnya, PBAK Maliki Muda 2026 diikuti 4.983 mahasiswa baru. Sementara di Kampus III, kegiatan serupa diikuti sekitar 1.392 mahasiswa baru dari lima fakultas.
Jumlah tersebut memperlihatkan besarnya basis mahasiswa yang akan menjadi bagian dari aktivitas akademik dan kemahasiswaan UIN Malang dalam beberapa tahun mendatang.
Dengan basis mahasiswa yang besar, agenda pengembangan prestasi dan organisasi membutuhkan perencanaan yang semakin matang. Kampus bukan hanya dituntut menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk beraktivitas, tetapi juga memastikan kegiatan tersebut memberi dampak nyata.
Hal serupa berlaku untuk agenda Dies Natalis UIN Malang. Ilfi menginginkan peringatan tersebut tidak sekadar menjadi rutinitas seremonial tahunan.
“Kita punya mimpi besar, maka nanti mimpi besar itu harus dimulai dari kegiatan yang spektakuler,” ujarnya.
Kalimat tersebut sekaligus menggambarkan arah yang ingin dibangun: kegiatan mahasiswa bukan hanya ramai di internal kampus, tetapi memiliki daya jangkau yang lebih luas.
Ambisi itu sejalan dengan upaya UIN Malang memperkenalkan dirinya sebagai perguruan tinggi Islam yang memiliki orientasi akademik dan daya saing global. Situs resmi universitas menyebut UIN Malang mengintegrasikan nilai-nilai berbasis Al-Qur’an dengan akademik dan keterampilan dunia nyata sebagai bagian dari persiapan lulusan menghadapi Indonesia dan dunia.
Pada akhirnya, dukungan terhadap mahasiswa berprestasi menjadi bagian dari hubungan timbal balik. Mahasiswa memperoleh fasilitas untuk berkembang, sementara kampus mendapatkan kontribusi reputasi dari capaian yang diraih.
Tetapi prinsipnya tetap sama: semakin besar nama institusi yang dibawa, semakin besar pula tanggung jawab yang melekat.
Ilfi pun melihat mahasiswa bukan semata berdasarkan kemampuan mereka hari ini. Ada potensi yang menurutnya baru akan terlihat ketika mereka mendapatkan ruang, kesempatan, dan dukungan yang tepat.
“Kami melihat kalian bukan seperti kalian saat ini, tapi kami melihat kalian di masa depan,” pungkasnya.
Bagi UIN Malang, masa depan itu tampaknya ingin dibangun dari ruang-ruang kecil: kompetisi mahasiswa, organisasi yang aktif, komunitas yang tumbuh, serta kegiatan kampus yang mampu menembus batas lokal. Dari sana, nama mahasiswa dan nama institusi diharapkan bergerak dalam arah yang sama—menuju prestasi yang dapat dipertanggungjawabkan sekaligus reputasi yang semakin kuat.
