Tragedi SD Minab tewaskan 168 siswi dan guru. Investigasi BBC & Pentagon mengarah pada rudal Tomahawk AS. Simak fakta kelam di balik perang ini!
INDONESIAONLINE – Pagi itu, Sabtu, 28 Februari 2026, seharusnya menjadi hari sekolah biasa di SD Shajareh Tayyebeh, Minab, sebuah kota di selatan Iran. Tawa anak-anak perempuan, derap langkah kaki mungil di lorong kelas, dan suara guru yang tengah menjelaskan pelajaran adalah melodi kehidupan yang wajar. Namun, dalam hitungan detik, melodi itu dibungkam selamanya oleh ledakan yang memekakkan telinga.
Asap hitam membubung tinggi ke langit, menutupi matahari pagi. Bangunan tempat ratusan anak bermimpi tentang masa depan itu seketika runtuh menjadi puing berdebu. Sebanyak 168 nyawa tak berdosa—terdiri dari siswi-siswi kecil dan para pahlawan tanpa tanda jasa yang mengajar mereka—tewas mengenaskan.
Di balik reruntuhan beton dan buku-buku yang hangus, sebuah pertanyaan besar menggantung di udara: Siapa yang tega menjatuhkan rudal di sebuah sekolah dasar?
Awalnya, kabut kebingungan menyelimuti insiden ini. Baik Amerika Serikat (AS) maupun sekutunya, Israel, secara kompak mencuci tangan dan mengaku tidak tahu-menahu tentang asal-usul rudal pencabut nyawa tersebut. Namun, pepatah lama mengatakan bahwa kebenaran, sekuat apa pun dikubur, akan selalu menemukan jalan keluarnya.
Jejak Tomahawk di Langit Minab
Di era jurnalisme investigasi modern, kebohongan di medan perang semakin sulit disembunyikan. Sejumlah media internasional raksasa seperti BBC, The New York Times, dan The Wall Street Journal segera menerjunkan tim analisis digital mereka. Hasilnya? Sebuah kesimpulan yang menggetarkan nurani dunia.
Laporan BBC Verify yang dirilis pada Selasa (10/3/2026) menjadi “pistol berasap” (smoking gun) pertama. Melalui analisis mendalam terhadap video amatir yang diterbitkan oleh kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, para ahli forensik senjata menemukan fakta mengejutkan.
Video yang telah diverifikasi keasliannya melalui geolokasi dan citra satelit itu menangkap momen sepersekian detik sebelum rudal menghantam pangkalan militer Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang nahasnya, terletak bersebelahan persis dengan SD Shajareh Tayyebeh.
Tiga pakar militer independen yang diwawancarai BBC mengidentifikasi siluet mematikan dalam video tersebut tanpa keraguan: itu adalah rudal jelajah Tomahawk.
Analis senior dari McKenzie Intelligence Services dan Wes Bryant, mantan personel Angkatan Udara AS sekaligus analis keamanan nasional, sepakat bahwa amunisi tersebut menunjukkan ciri khas Tomahawk pada fase terminalnya (fase sesaat sebelum menghantam target).
Bryant menegaskan, bukti adanya beberapa serangan presisi di kompleks IRGC mengindikasikan bahwa ini adalah operasi militer terencana, bukan peluru nyasar.
Masalahnya, Tomahawk bukanlah senjata yang bisa dibeli di pasar gelap. Mengutip data dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Tomahawk adalah rudal jelajah seharga sekitar 2 juta Dolar AS per unit yang diluncurkan dari kapal perang atau kapal selam.
Senjata ini secara eksklusif hanya dimiliki oleh militer Amerika Serikat dan segelintir sekutu terdekatnya seperti Inggris. Iran, yang berada di bawah cekikan sanksi internasional selama puluhan tahun, mustahil memilikinya, apalagi Israel.
Pengakuan Tragis dari Jantung Washington
Temuan jurnalis independen ini perlahan mulai diakui oleh pihak internal Washington sendiri. Laporan investigasi The New York Times membocorkan bahwa penyelidikan awal di dalam tubuh Departemen Pertahanan AS (Pentagon) menemukan indikasi kuat keterlibatan armada militer mereka.
Ironisnya, data ini sejalan dengan pernyataan perwira militer paling senior AS, Jenderal Dan Caine, pada 2 Maret lalu. Ia dengan bangga menyatakan bahwa rudal Tomahawk adalah “senjata pertama” yang ditembakkan Angkatan Laut AS ke Iran sebagai bagian dari taktik memukul sayap selatan negara tersebut.
Bahkan, Pentagon sempat memamerkan peta ilustrasi target 100 jam pertama perang, di mana wilayah Minab dilingkari merah sebagai salah satu sasaran utama.
Namun, di tengah tumpukan bukti forensik dan pengakuan internal, Presiden AS Donald Trump memilih jalan penyangkalan. Dengan gaya khasnya, Trump menyalahkan korban.
“Saya tidak tahu tentang itu,” kilah Trump kepada jurnalis. “Kami pikir itu dilakukan oleh Iran karena mereka sangat tidak akurat dengan amunisi mereka. Itu dilakukan oleh Iran.”
Trump bahkan melontarkan klaim tak berdasar dengan mengatakan bahwa Tomahawk adalah “rudal yang sangat umum” dan dimiliki oleh Iran. Sebuah klaim yang langsung dibantah mentah-mentah oleh para pakar pertahanan global, mengingat embargo senjata yang ketat terhadap Teheran.
Berbeda dengan atasannya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memilih bersikap defensif dengan menyatakan bahwa Pentagon “masih menyelidiki” insiden tersebut.
Retakan moral di Washington justru disuarakan oleh sekutu Trump sendiri, Senator Partai Republik John Kennedy. Dengan raut wajah muram, ia tidak menampik keterlibatan negaranya. “Kami sedang menyelidiki, tetapi saya tidak akan bersembunyi di balik itu. Saya pikir itu adalah kesalahan yang sangat, sangat buruk,” sesal Kennedy. “Investigasi mungkin membuktikan saya salah, saya harap begitu. Tapi, anak-anak itu tetap meninggal.”
AI, “Collateral Damage”, dan Hukum Kemanusiaan
Tragedi SD Shajareh Tayyebeh bukan sekadar kecelakaan militer biasa; ini adalah alarm bahaya bagi etika peperangan modern. Hampir seluruh anggota Senat dari Partai Demokrat langsung mengirim surat teguran keras kepada Menhan Hegseth. Mereka mempertanyakan satu hal krusial: Sejauh mana peran Kecerdasan Buatan (AI) dalam menentukan target serangan?
Berdasarkan laporan Human Rights Watch (HRW), penggunaan algoritma AI dalam menyeleksi target militer kerap mengabaikan mitigasi korban sipil (civilian harm mitigation). Mesin mungkin melihat pangkalan IRGC sebagai titik merah yang harus dihancurkan, tetapi mesin tidak memiliki empati untuk menyadari bahwa tepat di sebelah tembok pangkalan itu, ada ratusan siswi yang sedang belajar matematika.
Secara hukum internasional, insiden ini berpotensi masuk dalam kategori pelanggaran berat Konvensi Jenewa 1949. Protokol Tambahan I Pasal 52 secara tegas melarang serangan yang menyasar atau berdampak langsung pada fasilitas sipil, termasuk sekolah. Konsep collateral damage (kerusakan tambahan) tidak dapat digunakan sebagai pembenaran atas tewasnya 168 warga sipil tak bersenjata.
Data dari Save the Children mengingatkan kita bahwa dalam setiap konflik bersenjata, anak-anak adalah pihak yang membayar harga paling mahal. Kini, 168 bangku di SD Shajareh Tayyebeh telah kosong selamanya. Ransel-ransel kecil itu terkubur bersama impian pemiliknya.
Bagi keluarga di Minab, perdebatan politis di Washington atau jenis rudal apa yang menghantam kota mereka mungkin tidak lagi penting. Yang mereka tahu, mesin perang modern telah merenggut hal paling berharga dalam hidup mereka. Di tengah klaim presisi teknologi militer seharga jutaan Dolar, hilangnya nyawa anak-anak ini adalah bukti paling nyata bahwa dalam perang, akurasi hanyalah ilusi, dan kemanusiaan adalah korban pertama yang selalu jatuh.
