Jejak Pompeii mengungkap sisi gelap Romawi Kuno: prostitusi legal, mural erotis, dan kehidupan yang terhenti oleh letusan Vesuvius.
INDONESIAONLINE – Di kaki Gunung Vesuvius, waktu pernah berhenti tanpa peringatan. Ia tidak berhenti perlahan, tidak memberi ruang bagi manusia untuk menutup pintu atau menyelesaikan kalimat terakhirnya. Ia datang seperti hukuman yang tidak diumumkan—dalam abu, dalam api, dalam keheningan yang tiba-tiba.
Dan di bawah lapisan abu itu, terkubur sebuah kota: Pompeii.
Kota itu tidak hanya menyimpan rumah, jalan, dan benda-benda mati. Ia menyimpan kehidupan—dengan segala kerumitannya. Ia menyimpan hasrat, kebiasaan, bahkan dosa-dosa kecil yang tidak pernah dimaksudkan untuk dikenang.
Tahun 79 Masehi, Vesuvius meletus. Menurut catatan sejarah Romawi, terutama dari Pliny the Younger, letusan itu memuntahkan kolom abu dan batu setinggi puluhan kilometer ke langit.
Data geologi modern menunjukkan bahwa lebih dari 3 juta ton material vulkanik terlontar setiap detik dalam fase awal letusan (Sumber: US Geological Survey). Kota Pompeii yang berjarak sekitar 10 kilometer dari kawah menjadi salah satu korban utama.
Dalam hitungan jam, kota seluas kurang lebih 12 kilometer persegi itu tertutup abu. Gelap turun bukan karena malam, melainkan karena langit yang dipenuhi debu panas. Diperkirakan lebih dari 10.000 orang tewas—sebagian tercekik, sebagian lagi terbakar oleh awan panas. Namun kematian bukan satu-satunya yang tersisa. Pompeii membeku, lengkap dengan detik-detik terakhir penghuninya.
Berabad-abad kemudian, pada tahun 1748, kota ini ditemukan kembali secara tidak sengaja oleh pekerja yang sedang menggali. Di bawah tanah, mereka menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar reruntuhan. Mereka menemukan kehidupan yang terawetkan.
Rumah-rumah masih berdiri. Lukisan-lukisan masih menempel di dinding. Bahkan tubuh manusia—yang membatu dalam posisi terakhirnya—menjadi saksi bisu tentang bagaimana mereka menghadapi kematian.
Penggalian yang kemudian dipimpin oleh arkeolog Italia membuka salah satu situs paling penting dalam sejarah dunia. Pada 1997, Pompeii diakui sebagai bagian dari UNESCO World Heritage Site.
Tetapi dari semua temuan itu, ada satu sisi yang menarik perhatian sekaligus menimbulkan kontroversi: kehidupan seksual masyarakatnya.
Kota yang Dijuluki “Penuh Dosa”
Pompeii sering disebut sebagai “kota maksiat”. Julukan ini tidak datang tanpa alasan. Penelitian arkeologis menunjukkan adanya sekitar 35 rumah bordil di kota yang hanya dihuni sekitar 15.000 jiwa. Angka ini mencerminkan betapa praktik prostitusi bukan hanya ada, tetapi terintegrasi dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Dalam dunia Kekaisaran Romawi, prostitusi bukanlah aktivitas ilegal. Ia diatur, dikenai pajak, dan bahkan memiliki sistem lisensi resmi. Bagi masyarakat modern, ini mungkin tampak mengejutkan. Tetapi bagi Romawi, ini adalah bagian dari tatanan.
Di jantung distrik tua Pompeii berdiri sebuah bangunan yang kini dikenal sebagai Lupanare. Namanya berasal dari kata Latin lupa, yang berarti “serigala betina”—istilah yang digunakan untuk menyebut pekerja seks.
Bangunan itu sederhana: dua lantai, sepuluh kamar kecil, ranjang batu, dan ruang-ruang sempit yang hampir tanpa cahaya. Tidak ada kemewahan di sana. Tidak ada tirai sutra atau parfum mahal.
Menurut penelitian Dr. Kelly Olson dari Western University, kondisi Lupanare jauh dari bayangan romantis. Ruangannya sempit, lembap, dan tidak nyaman. Tetapi yang membuat tempat ini begitu terkenal bukan hanya fungsinya, melainkan dinding-dindingnya.
Di setiap kamar, terdapat lukisan-lukisan yang menggambarkan berbagai adegan hubungan intim. Bagi mata modern, lukisan ini mungkin terlihat vulgar. Namun bagi masyarakat Romawi, ia memiliki fungsi praktis.
Sejarawan percaya bahwa mural tersebut berfungsi sebagai “menu layanan”—sebuah katalog visual bagi pelanggan, termasuk mereka yang tidak bisa membaca atau tidak memahami bahasa Latin.
Dalam dunia yang dipenuhi pedagang, tentara, dan pendatang, gambar menjadi bahasa universal. Dengan kata lain, dinding-dinding itu berbicara.
Sebagian besar pekerja di Lupanare adalah budak. Mereka berasal dari berbagai wilayah kekuasaan Romawi—Yunani, Afrika Utara, hingga Asia Kecil.
Menurut catatan sejarah yang dirangkum oleh Ancient Origins, para pekerja seks diwajibkan memiliki lisensi resmi, membayar pajak kepada negara, mengenakan pakaian khusus, dan mewarnai rambut mereka agar mudah dikenali
Harga layanan pun relatif murah—sekitar setara dengan seperempat gelas anggur. Ini membuat layanan tersebut dapat diakses oleh hampir semua lapisan masyarakat.
Dalam struktur sosial Romawi, laki-laki memiliki kebebasan seksual yang luas, selama tidak melanggar batas tertentu, seperti menyentuh istri orang lain. Sementara perempuan, terutama yang menikah, terikat oleh aturan yang jauh lebih ketat.
Grafiti: Suara dari Masa Lalu
Salah satu temuan paling menarik di Lupanare adalah grafiti di dindingnya. Lebih dari 120 tulisan ditemukan, mulai dari nama pelanggan hingga komentar tentang pengalaman mereka. Kalimat-kalimat itu sederhana, kadang kasar, kadang jenaka.
Salah satunya berbunyi: “Jika Anda mencari pelukan manis, semua gadis di sini tersedia.”
Tulisan lain mencatat kunjungan seseorang pada tanggal tertentu, seolah ingin memastikan bahwa dirinya tidak dilupakan. Grafiti ini memberi kita sesuatu yang jarang dimiliki sejarah: suara langsung dari orang biasa.
Bagi masyarakat modern, mudah untuk menghakimi Pompeii. Mudah untuk melihatnya sebagai simbol kemerosotan moral. Namun sejarah tidak pernah sesederhana itu.
Dalam konteks Romawi, prostitusi adalah bagian dari sistem ekonomi dan sosial. Ia tidak disembunyikan, tidak pula dipermalukan seperti dalam banyak budaya modern. Sebaliknya, ia diatur, diakui, dan bahkan dilindungi.
Setelah ditemukan pada abad ke-19, Lupanare sempat ditutup karena dianggap terlalu eksplisit. Baru pada tahun 2006, situs ini dibuka kembali untuk publik.
Sejak itu, ia menjadi salah satu bagian paling banyak dikunjungi di Pompeii.
Namun ketertarikan manusia terhadap masa lalu kadang melampaui batas. Pada 2014, tiga wisatawan ditangkap karena melakukan aktivitas seksual ilegal di reruntuhan tersebut—sebuah ironi yang menunjukkan bahwa manusia tidak banyak berubah.
Pompeii bukan hanya kota yang mati. Ia adalah kota yang terus berbicara. Di bawah abu, ia menyimpan cerita tentang manusia—tentang ketakutan, tentang keinginan, tentang kehidupan yang tidak selalu rapi dan bermoral seperti yang ingin kita percayai.
Dan mungkin, itulah yang membuatnya begitu penting. Karena di sana, kita tidak hanya melihat masa lalu. Kita melihat diri kita sendiri.
