Kisah tragis Mbah Kirno, seniman Ponorogo 20 tahun dipasung. Antara mistis, gangguan jiwa, dan asa kesembuhan di tangan polisi baik.
INDONESIAONLINE – Di halaman belakang sebuah rumah sederhana di Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, sebuah struktur besi berkarat berdiri angkuh. Ukurannya tak lebih dari setengah meter lebar, satu meter tinggi, dan dua meter panjang.
Bagi mata orang awam, benda itu mungkin tampak seperti kandang hewan buas yang ditinggalkan. Namun, bagi keluarga Sarti dan warga sekitar, besi dingin itu adalah monumen kesedihan; saksi bisu di mana martabat seorang manusia bernama Mbah Kirno (60) tergerus selama dua dekade penuh.
Minggu, 31 Januari 2026, menjadi hari yang menandai babak baru bagi mantan seniman kondang tersebut. Keheningan di Desa Temon pecah ketika Ipda Purnomo, seorang anggota kepolisian dari Polres Lamongan yang juga pendiri Yayasan Berkas Bersinar Abadi, datang melakukan evakuasi.
Kerangkeng itu kini kosong, namun cerita di baliknya menyisakan pekerjaan rumah besar bagi sistem kesehatan mental dan pemahaman budaya masyarakat kita.
Jejak Emas Sang “Suara Emas” yang Hilang
Untuk memahami tragisnya nasib Mbah Kirno, kita harus memutar waktu ke era 1980-an. Jauh sebelum stigma “orang gila” melekat padanya, Kirno adalah sosok yang dihormati. Ia bukan warga biasa. Dalam struktur sosial masyarakat Ponorogo yang lekat dengan seni tradisi, Kirno adalah bintang lokal.
Adi Prayitno (35), sang keponakan, menuturkan dengan mata berkaca-kaca bagaimana pamannya dulu adalah primadona panggung. Sebagai seniman Reog dan karawitan, Kirno memiliki posisi istimewa. Lebih dari itu, ia adalah seorang MC (pembawa acara) pernikahan dengan suara yang mampu menyihir tamu undangan.
“Kalau sudah memuji pengantin di acara pernikahan, semua orang mengaku kagum dengan suaranya yang merdu,” kenang Adi.
Namun, hidup Kirno adalah sebuah ironi yang tajam. Di balik kepiawaiannya mengolah vokal dan seni peran, terdapat kerapuhan psikologis yang gagal terdeteksi sejak dini. Titik balik kehancurannya bermula dari ranah domestik—perceraian. Perpisahan dengan sang istri menjadi pukulan telak yang meruntuhkan fondasi mentalnya.
Antara Skizofrenia dan Obsesi Kanuragan
Kasus Mbah Kirno membuka diskusi mendalam tentang irisan tipis antara gangguan kesehatan mental klinis dan praktik budaya mistis di Jawa. Pasca perceraian, alih-alih mencari konseling—yang memang barang langka di pedesaan pada masa itu—Kirno memilih jalan sunyi mendalami ilmu kebatinan.
Ia melakukan “lelaku”, sebuah praktik asketisme Jawa dengan berpuasa ekstrem dan tidak tidur di malam hari. Ia berkelana berguru hingga ke Malang dan Tulungagung demi mengejar kesaktian atau ilmu kanuragan.
Dalam perspektif psikologi klinis, apa yang dialami Kirno bisa diindikasikan sebagai gejala awal skizofrenia yang dipicu oleh stres berat (perceraian) dan diperparah oleh deprivasi tidur kronis akibat ritualnya. Halusinasi dan delusi keagungan (delusion of grandeur) sering kali bermanifestasi dalam bentuk perasaan memiliki “kesaktian”.
Sayangnya, diagnosa medis ini tidak hadir 20 tahun lalu. Yang dilihat keluarga dan lingkungan adalah Kirno yang “sakti” namun berbahaya. Ia menjadi agresif. Puncak ketakutan keluarga terjadi ketika Kirno mulai mengancam nyawa. Ayah Adi, saudara kandung Kirno sendiri, pernah diajak berduel di sawah. Ancaman pembunuhan menjadi teror nyata yang menghantui keluarga setiap hari.
Filosofi Kerangkeng “Melayang”
Pada tahun 2006, keputusan berat itu diambil. Keluarga, yang terjepit antara rasa takut dan rasa sayang, memilih opsi terakhir: pasung. Namun, pemasungan Kirno memiliki detail unik yang sarat akan kearifan lokal yang disalahartikan.
Kerangkeng besi tempat Kirno dikurung dibuat “melayang”, diganjal kayu agar tidak menyentuh tanah. Adi menjelaskan bahwa ini adalah saran dari “orang pintar” atau dukun setempat.
“Saran orang pintar tidak boleh menyentuh tanah agar kekuatannya berkurang,” ungkap Adi.
Dalam mitologi Jawa, banyak ilmu kanuragan diyakini bersumber dari bumi atau tanah. Dengan memutus kontak fisik dengan tanah, dipercaya kesaktian Kirno akan luntur. Namun, ada pragmatisme di balik mistisisme itu. “Kalau bagi kami, itu agar lebih mudah membersihkan bekas buang air besar,” tambah Adi jujur.
Desain kerangkeng ini juga merupakan respon terhadap kekuatan fisik Kirno yang di luar nalar. Ia dikabarkan mampu mematahkan sambungan las besi hanya dengan piring, bahkan memakan besi tersebut. Ini memaksa keluarga membuat jeruji hingga tiga lapis.
Dalam dunia medis, kekuatan tenaga yang meledak-ledak ini sering ditemukan pada pasien dengan gangguan jiwa berat saat sedang mengalami episode manik atau agitasi ekstrem.
Kegagalan Kolektif Sistem Kesehatan
Kisah Mbah Kirno adalah tamparan bagi sistem kesehatan mental dan perlindungan sosial kita. Bagaimana mungkin seorang warga negara bisa terkurung selama 20 tahun tanpa intervensi negara yang memadai?
Kepala Desa Temon, Suwata, mengklaim pihak desa telah berupaya. Dana Desa dialokasikan, KTP dibuatkan untuk akses BPJS. Namun, kendala teknis di lapangan menjadi tembok penghalang. Tenaga kesehatan setempat dikabarkan takut menyuntik atau menangani Kirno karena reputasi “kesaktian” dan agresivitasnya.
Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dirilis Kementerian Kesehatan dalam beberapa periode terakhir menunjukkan bahwa prevalensi gangguan jiwa berat (skizofrenia/psikosis) di Indonesia cukup tinggi, namun rasio psikiater dan fasilitas kesehatan mental sangat timpang, terutama di daerah pelosok.
Program “Indonesia Bebas Pasung” yang telah didengungkan pemerintah sejak satu dekade lalu tampaknya belum sepenuhnya menyentuh akar rumput di wilayah seperti Sawoo, Ponorogo. Kasus Kirno membuktikan bahwa stigma, ketakutan, dan kurangnya kompetensi penanganan krisis psikiatri di tingkat Puskesmas masih menjadi masalah laten.
Seringkali, keluarga dibiarkan sendirian menghadapi pasien agresif tanpa dukungan medis yang memadai, sehingga “kerangkeng” dianggap sebagai satu-satunya solusi keamanan.
Harapan Baru di Tangan “Polisi Baik”
Evakuasi yang dilakukan Ipda Purnomo membawa angin segar. Melalui Yayasan Berkas Bersinar Abadi di Lamongan, pendekatan yang dilakukan kini lebih manusiawi dan holistik. Dalam unggahan di media sosial, Purnomo menekankan kombinasi penanganan.
“Kayaknya dia memang belajar ilmu. Tapi jangan sampai gara-gara punya ilmu, dia dipasung. Dia harus mendapatkan pengobatan medis dan rukyah, serta perhatian anak-anaknya,” ujar Purnomo.
Pendekatan ini menarik karena menggabungkan medis (psikofarmaka untuk menyeimbangkan kimia otak) dan spiritual (rukyah). Bagi masyarakat Jawa yang religius, pendekatan spiritual seringkali menjadi pintu masuk yang efektif untuk penerimaan pengobatan medis.
Hasilnya mulai terlihat. Dalam video dokumentasi yayasan, Mbah Kirno yang dulunya garang di balik jeruji besi, kini terlihat berolahraga, menghafal surat pendek Al-Quran, dan melaksanakan shalat Jumat. Senyum yang hilang selama 20 tahun perlahan kembali, meski gurat trauma fisik dan mental tak bisa hilang seketika.
Kini, kerangkeng di belakang rumah Sarti hanya tinggal besi tua tak bertuan. Namun, ia menjadi pengingat bahwa di pelosok negeri ini, masih banyak “Mbah Kirno” lain yang tersembunyi, menunggu diselamatkan dari kegelapan stigma dan ketidaktahuan.
Adi Prayitno dan keluarga kini hanya bisa berharap. Harapan agar sang paman, sang pemilik suara emas itu, bisa kembali menikmati sisa usianya dengan layak. Bukan sebagai “orang sakti” yang ditakuti, melainkan sebagai manusia yang dimanusiakan.
“Kita berharap yang terbaik, Mbah Kirno bisa sembuh dan beraktivitas seperti biasa,” pungkas Adi.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa penanganan gangguan jiwa tidak bisa hanya mengandalkan obat-obatan, tetapi juga memerlukan pemahaman budaya, keberanian aparat desa, dan kepedulian masyarakat untuk tidak membiarkan kerangkeng menjadi solusi akhir.
